Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
PBB Desak Penggunaan Peta Akurat, Google Maps Berubah?

PBB Desak Penggunaan Peta Akurat, Google Maps Berubah?


Fino Yurio Kristo - detikInet

Bali,Indonesia, December 15, 2019 - Close up young woman using Google maps to check Covid - 19 community mobility reports to combat the virus spreading
Google Maps. Foto: Getty Images/Kanawa_Studio
Jakarta -

Hampir tiap negara yang terwakili dalam Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendukung promosi peta dunia yang menunjukkan ukuran benua lebih akurat. Namun, resolusi ini tampaknya takkan mengubah cara jutaan orang sehari-hari melihat versi peta Mercator abad ke-16 dengan ukuran benua melenceng di berbagai aplikasi navigasi.

Pada 4 September, resolusi yang dipelopori negara-negara Afrika ini menarik 164 suara dukungan, dengan enam negara abstain. Hanya Amerika Serikat memberikan suara menentang resolusi tersebut dan menyebutnyai proyek ideologis radikal.

Resolusi PBB ini tidak mengikat dan tidak memaksakan perubahan peta pada siapa pun. Mereka hanya mendorong pemerintah, sekolah, organisasi internasional, dan perusahaan teknologi menggunakan proyeksi Equal Earth (Bumi Setara) dan peta sejenis lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peta dunia populer biasanya adalah versi modern peta Mercator, yang dikembangkan Gerardus Mercator di 1569. Fokus utamanya adalah menciptakan proyeksi peta yang menunjukkan garis lurus konsisten dengan pergerakan kapal ketika terus mengikuti arah kompas, menjadikannya navigasi maritim yang praktis untuk merencanakan jalur akurat.

Kepraktisan proyeksi Mercator untuk navigasi menjadikannya salah satu peta dunia terpopuler yang masih digunakan, tak terkecuali di peta digital. Aplikasi navigasi yang paling banyak digunakan, seperti Google Maps dan Apple Maps, masih menggunakan variasi proyeksi Mercator. Google Maps punya lebih dari 2 miliar pengguna aktif bulanan.

ADVERTISEMENT

Namun peta Mercator menunjukkan ukuran benua yang tidak akurat. Daratan terlihat membesar jika semakin jauh letaknya dari ekuator Bumi, membuat kejanggalan seperti benua Afrika tampak berukuran sama dengan Greenland, padahal kenyataannya 14 kali lebih besar.

Ilustrasi paling terkenal tentang bagaimana proyeksi peta Mercator mendistorsi ukuran sebenarnya dari Afrika dibuat desainer software asal Jerman, Kai Krause. Di 2010, ia mengembangkan visualisasi Ukuran Sebenarnya Afrika yang menunjukkan benua Afrika mampu memuat Amerika Serikat, China, India, Jepang, dan hampir seluruh wilayah Eropa di dalamnya.

Dikutip detikINET dari Ars Technica, sejumlah pemerintah dan sekolah mungkin akan mengikuti resolusi PBB untuk lebih mempromosikan penggunaan peta Equal Earth yang diciptakan tahun 2018.

Namun, hal tersebut tidak akan mengubah fakta bahwa jutaan orang akan terus secara rutin merujuk pada aplikasi navigasi seperti Google Maps yang diprediksi masih terus akan menampilkan proyeksi peta Mercator.



(fyk/rns)




Hide Ads