Sebagai aktor kawakan, Lukman Sardi memilih untuk melihat teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), dengan kacamata yang lebih positif. Dalam acara puncak AI Content Fest, pemeran dalam series Joko Anwar 'Nightmares and Daydreams' ini turut hadir di diskusi bersama pelaku industri kreatif lainnya.
Mouly Surya dan Gustav Anandhita ikut serta dalam acara gelaran CapCut itu. Mereka pun membahas mengenai bagaimana teknologi, misalnya AI, dapat mendukung kebutuhan yang berbeda dalam proses kreatif. Ketiganya melihat AI sebagai alat pendukung yang dapat memperluas eksplorasi dan membantu proses kerja menjadi lebih efisien. Dengan catatan, arah kreatif, rasa, dan keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.
Dari perspektif aktor, Lukman Sardi melihat teknologi dapat membantu memperkaya proses persiapan dan eksplorasi karakter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Teknologi bisa membantu aktor mendapatkan lebih banyak referensi, memahami latar belakang karakter, hingga mengeksplorasi berbagai pendekatan sebelum masuk ke dalam sebuah adegan. Dengan proses persiapan yang lebih efisien, aktor punya lebih banyak ruang untuk fokus pada bagaimana karakter tersebut diinterpretasikan dan dihidupkan," terang Lukman belum lama ini.
Sementara itu, Mouly Surya menyoroti bagaimana AI dapat mendukung produser dan sutradara sejak tahap pengembangan hingga produksi. Menurut sutradara 'Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak' itu, teknologi memungkinkan pegiat seni mengeksplorasi ide lebih awal, mencari referensi, memvisualisasikan sebuah konsep, hingga mencoba berbagai arah kreatif sebelum masuk ke produksi.
"Ketika sejumlah proses dapat dilakukan dengan lebih efisien, tim punya lebih banyak waktu untuk fokus pada visi besar karya dan keputusan-keputusan kreatif yang menentukan hasil akhirnya," ujar Mouly.
Dari sisi kreator, Gustav Anandhita melihat AI sebagai sarana untuk memperluas eksplorasi sekaligus mempercepat proses kreasi. AI memberi kreator lebih banyak ruang untuk bereksperimen, mulai mengembangkan ide, mencoba berbagai pendekatan visual, sampai melakukan iterasi dengan lebih cepat.
"Efisiensi ini memungkinkan kita untuk mengeksplorasi lebih banyak kemungkinan dan membawa sebuah ide lebih jauh, tanpa kehilangan arah kreatif yang ingin kita bangun," ucap Gustav.
Pemanfaatan teknologi dalam proses kreatif bukan momok yang mengerikan, atau malah harus dikhawatirkan. Contohnya, kolaborasi CapCut bersama musisi Raim Laode dalam pembuatan video musik, berhasil menggaet AI untuk single terbarunya, 'Dunia Yang Nanti'.
Video musik tersebut ditayangkan untuk pertama kalinya pada acara puncak AI Content Fest 2026, dilanjutkan dengan sesi berbagi dari Raim mengenai proses kreatif di balik pembuatannya dan penampilan musik secara langsung.
Pengunjung yang hadir langsung di CGV Grand Indonesia juga dapat mencoba pengalaman berkreasi melalui CapCut Poster Lab. Dengan memilih genre atau suasana cerita (bebas mau horor, romansa, aksi, sci-fi, hingga dokumenter), pengunjung dapat memanfaatkan fitur kreatif CapCut untuk membuat poster film bergaya sinematik yang dapat dipersonalisasi sesuai pilihan mereka dan diunduh melalui kode QR yang tersedia.

