Dalam video game ini, sebuah sensor dipasang di kepala untuk membaca gelombang otak. Gelombang otak pasien kemudian diterjemahkan ke dalam monitor. Permainan kemudian bisa dilakukan dengan kontrol gelombang otak tersebut.
Pasien lalu menggerakkan obyek tertentu, misalnya kapal angkasa di monitor dengan gelombang otaknya. Jika pola gelombang otak tak beraturan, gerakan kapal angkasa pun juga jadi tak karuan. Pasien kemudian harus mengontrol gelombang otaknya sehingga kapal angkasa itu kembali ke jalur yang benar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para ilmuwan belum tahu bagaimana terapi ini bisa menolong penderita migrain. Namun Stokes mengklaim, 70 persen pasien yang ditanganinya lewat cara ini dapat tertolong. Hanya saja, biayanya cukup mahal yaitu US$ 100 per sesi permainan. Padahal dibutuhkan minimal 40 sesi dalam metode ini. (fyk/dwn)