×
Ad

Apa Itu Ethical AI? Cara AI Hidupkan Borobudur Tanpa Ngawur

Adi Fida Rahman - detikInet
Selasa, 01 Sep 2026 17:09 WIB
Apa Itu Ethical AI? Cara AI Hidupkan Borobudur Tanpa Ngawur Foto: Adi FR/detikINET
Jakarta -

Ethical AI menjadi salah satu kata kunci utama dalam Purwacarita Borobudur, pengalaman imersif terbaru Galeri Indonesia Kaya (GIK) yang mengangkat sejarah Candi Borobudur. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Ethical AI?

CEO Curaweda Azhar Muhammad Fuad, perusahaan teknologi di balik proyek ini, menjelaskannya kepada detikINET. Menurutnya, inti dari pendekatan tersebut bukan sekadar memakai AI untuk menghasilkan visual menarik.

Tantangan terbesarnya justru memastikan AI tidak bebas mengarang atau menghasilkan representasi sejarah yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Azhar menjelaskan Ethical AI bukan jenis teknologi AI tertentu, melainkan kerangka kerja atau metodologi untuk memastikan apa pun yang dihasilkan AI memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

"Ethical AI merupakan sebuah metodologi atau kerangka kerja untuk memastikan bahwa apa pun yang dihasilkan oleh teknologi AI benar-benar dapat dipertanggungjawabkan dari sudut keilmuan yang relevan," ujar Azhar saat berbincang di GIK, Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (1/9/2026).

CEO Curaweda Azhar Muhammad Fuad Foto: Adi FR/detikINET

Metodologi tersebut mencakup seluruh proses produksi. Pada tahap praproduksi, tim memastikan literatur dan sumber yang menjadi dasar cerita, screenplay, serta input untuk AI.

Pada tahap produksi, prosesnya dicatat agar dapat ditelusuri, termasuk siapa yang bertanggung jawab terhadap setiap bagian.

Sementara pada tahap pascaproduksi, tim menentukan di mana karya akan ditempatkan, siapa yang menjaga, dan bagaimana pemeliharaannya dilakukan.

AI Dilarang Mengarang

Salah satu prinsip penting Ethical AI ala Curaweda adalah membatasi ruang AI untuk melakukan improvisasi.

Azhar mengatakan mereka hanya memasukkan sumber primer sebagai landasan sistem. Sumber tersebut dapat berupa sejarah tertulis, prasasti, artefak, maupun sejarah lisan yang diwariskan secara turun-temurun.

"Kami memperlakukan engine tersebut seperti anak yang belum mengetahui apa pun. Misalnya, kami memberi tahu bagaimana penggambaran Raja Samaratungga berdasarkan sumber yang telah divalidasi. Setelah itu, sistem harus mengikuti batasan tersebut," jelas Azhar.

Purwacarita Borobudur Foto: Adi FR/detikINET

Menurutnya, informasi dari sumber sekunder tidak serta-merta digunakan. Salah satu contoh yang ia berikan adalah penjelasan pemandu wisata yang dapat berbeda antara satu orang dan lainnya.

Karena itu, setiap elemen visual harus memiliki sumber dan jalur kurasi yang jelas.




(afr/afr)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork