Penggunaan kecerdasan buatan (AI) semakin akrab di kalangan pekerja Indonesia. Namun tingginya tingkat pengenalan terhadap teknologi ini ternyata belum diikuti pemanfaatan AI secara produktif.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Edwin Hidayat Abdullah mengatakan sekitar 92% pekerja di Indonesia sudah mengenal penggunaan AI. Namun, hanya sekitar 15% yang memanfaatkannya secara produktif.
"Sebanyak 92% pekerja kita sudah familiar menggunakan AI. Masalahnya, hanya 15% yang menggunakannya secara produktif. Sebagian besar masih menggunakan AI untuk browsing," ujar Edwin dalam keynote di Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026 di Bali, Kamis (27/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Angka tersebut menunjukkan adanya kesenjangan besar antara adopsi AI dengan kemampuan memanfaatkan teknologi itu untuk meningkatkan produktivitas.
AI kini memang semakin mudah dijangkau masyarakat melalui chatbot, mesin pencari, hingga berbagai aplikasi produktivitas.
Tantangan berikutnya adalah mendorong pengguna agar tidak hanya memanfaatkan AI untuk mencari informasi, tetapi juga untuk mendukung pekerjaan dan menciptakan nilai ekonomi.
Indonesia Butuh Lebih dari 9 Juta Talenta Digital
Untuk mempersempit kesenjangan tersebut, peningkatan kompetensi menjadi salah satu fokus strategi digital pemerintah.
Edwin mengatakan Indonesia membutuhkan lebih dari 9 juta orang dengan kompetensi digital. Karena skalanya sangat besar, pemerintah tidak dapat memenuhi kebutuhan tersebut seorang diri.
"Kita berinvestasi besar dalam pendidikan. Kita membutuhkan lebih dari 9 juta orang. Karena itu, kita berkolaborasi tidak hanya di dalam pemerintah, tetapi juga dengan perusahaan teknologi dan masyarakat sipil," kata Edwin.
Edwin Hidayat Abdullah, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komdigi Foto: Adi FR/detikINET |
Kompetensi menjadi salah satu bagian dari strategi yang dipersiapkan pemerintah untuk mengembangkan ekosistem digital Indonesia. Fokusnya mencakup peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan literasi agar masyarakat dapat mengikuti perkembangan teknologi seperti AI dan large language model (LLM).
Persoalan talenta menjadi semakin penting karena AI tidak hanya memengaruhi industri teknologi. Teknologi ini mulai masuk ke berbagai sektor dan berpotensi mengubah cara masyarakat bekerja.
Edwin menggambarkan AI pada dasarnya berkaitan dengan dua unsur besar, yakni kecerdasan dan tenaga kerja, yang kemudian berhubungan langsung dengan kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat.
AI Dongkrak Ekonomi
Pemerintah juga menempatkan AI sebagai salah satu teknologi yang diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 8% di 2029.
Menurut Edwin, salah satu kunci untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi di era cloud dan AI adalah membangun institusi yang inklusif sehingga manfaat teknologi dapat digunakan lebih luas oleh masyarakat.
"Inklusivitas adalah prinsip nomor satu. Salah satu resep untuk mencapai pertumbuhan 8% di era cloud dan AI adalah membangun institusi inklusif yang memungkinkan pemanfaatan teknologi," ujar Edwin.
Edwin Hidayat Abdullah pemaparan pertumbuhan 8%. Foto: Adi FR/detikINET |
Karena itu, tantangan Indonesia ke depan bukan lagi sekadar membuat masyarakat mengenal AI. Pekerjaan yang lebih besar adalah meningkatkan keterampilan agar teknologi tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk bekerja, berinovasi, dan menciptakan produktivitas.
"Pemerintah menempatkan investasi pada sumber daya manusia sebagai salah satu kunci pengembangan ekonomi digital Indonesia, bersama pembangunan institusi inklusif, regulasi yang mendukung, kolaborasi, serta transparansi dan akuntabilitas," papar Edwin.



