Jet bertenaga baterai terbesar di dunia resmi menyelesaikan penerbangan perdananya. Diproduksi Heart Aerospace, pesawat ini bernama X1. Rentang sayapnya 32,3 meter, panjang 23,1 meter, dan beratnya kira-kira setara bus sekolah kosong.
Pesawat 30 kursi ini lepas landas dari bandara regional utara New York dan terbang 27 menit dengan tenaga baterai, hingga ketinggian 335 meter. Ia tak membawa penumpang, hanya seorang pilot.
Uji coba ini adalah bagian ambisi Heart Aerospace untuk pesawat hibrida listrik bernama ES-30, yang diharapkan mulai beroperasi tahun 2031. Model tersebut menarik minat maskapai besar termasuk United dan Air Canada yang terpikat biaya lebih rendah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan penerbangan pertama X1, Heart Aerospace mendemonstrasikan penerbangan listrik pada skala pesawat komersial," kata Pendiri dan CEO Heart, Anders Forslund, yang dikutip detikINET dari Popular Science, Jumat (21/8/2026). Heart Aerospace didirikan di Gothenburg, Swedia, namun dipindahkan ke Los Angeles April 2025.
Pesawat baterai menawarkan alternatif lebih bersih dari bahan bakar jet yang merusak lingkungan. Sektor penerbangan menyumbang sekitar 2,5 persen emisi karbon dioksida global. Parahnya lagi, pesawat menghasilkan emisi pemerangkap panas berbahaya lainnya seperti nitrogen oksida.
Kemunculan penerbangan listrik mungkin dapat sedikit mengurangi angka emisi tersebut. Daya tarik besar bagi maskapai penerbangan datang dari janji penghematan biaya karena tak perlu bahan bakar fosil. Motor listrik juga lebih sedikit komponen bergeraknya, yang berarti memerlukan biaya perawatan dan perbaikan yang lebih murah.
Heart mengklaim ES-30 kelak 40 persen lebih murah untuk dioperasikan dari pesawat konvensional berukuran serupa. Lebih jauh lagi, perusahaan mengklaim semua penerbangan uji coba X1 listrik penuh hanya menggunakan listrik senilai USD 5.
Angka itu memang terdengar mengesankan tapi hanya mengukur biaya energi mentah dan bukan biaya operasional seperti kru, bandara, biaya perawatan, penurunan fungsi baterai jangka panjang, serta pengeluaran lainnya.
Heart bukanlah satu-satunya perusahaan yang mencoba mengelektrifikasi angkasa. Rolls-Royce membuat pesawat balap kecil bertenaga listrik penuh. Sementara Harbour Air mengembangkan pesawat amfibi berkapasitas enam kursi yang sepenuhnya bertenaga listrik.
Perusahaan vertical take off and landing (VTOL) yang banyak diperbincangkan, seperti Joby Aviation dan Archer Aviation, juga membawa pesawat listrik kecil menyerupai helikopter ke pasar.
Namun memperluas jangkauan pesawat listrik hingga dapat diandalkan untuk menggantikan pesawat komersial regional masih sulit dilakukan.
Pada dasarnya makin besar pesawat, semakin besar baterai untuk terbang. Baterai sangatlah berat dan pada akhirnya menjadi begitu besar sehingga pesawat tidak lagi bisa membawanya secara bersamaan dengan penumpang dan kargo.
Lebih buruk lagi, baterai adalah beban mati. Tidak seperti pesawat konvensional yang jadi lebih ringan saat bahan bakar terbakar, pesawat listrik mempertahankan berat persis sama sejak terbang hingga mendarat.
Di situlah pendekatan hibrida Heart berperan. Saat berjalan dengan baterai, jarak tempuh maksimalnya sekitar 200 km. Jarak tersebut jelas tidak cukup untuk sebagian besar perjalanan udara regional sekaligus menyediakan sisa daya untuk kondisi darurat.
Nah dengan tambahan mesin pembakaran, jarak tempuh maksimum bisa diperluas mendekati 800 km. Jarak ini lebih dari cukup untuk penerbangan regional singkat.
Simak juga Video 'Aksi Buka Pintu Pesawat Pas Terbang, Definisi Beneran Ngikutin Kata Otak!':