Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
UEFA Boikot FIFA, Warganet Serukan Piala Dunia Bukan untuk Dijual

UEFA Boikot FIFA, Warganet Serukan Piala Dunia Bukan untuk Dijual


Adi Fida Rahman - detikInet

Soccer Football - FIFA World Cup 2026 - Final - Spain v Argentina - New York/New Jersey Stadium, East Rutherford, New Jersey, U.S. - July 19, 2026 General view as Spains Rodri lifts the World Cup trophy alongside teammates as they celebrate winning the World Cup REUTERS/Brian Snyder
UEFA Boikot FIFA, Warganet Serukan Piala Dunia Bukan untuk Dijual Foto: REUTERS/Brian Snyder
Daftar Isi
Jakarta -

UEFA bersama 55 asosiasi sepak bola anggotanya sepakat memboikot seluruh kompetisi FIFA. Langkah tersebut diambil sebagai bentuk penolakan terhadap rencana FIFA menjual sebagian kepemilikan entitas yang mengelola Piala Dunia dan turnamen lainnya kepada investor swasta.

Boikot akan terus berlaku selama proposal tersebut masih berjalan. UEFA juga meminta FIFA membatalkan rencana itu secara penuh serta memberikan jaminan mengikat bahwa kompetisi sepak bola tidak akan diserahkan kepada kepentingan investor.

Keputusan tersebut disepakati dalam pertemuan darurat UEFA pada Kamis (30/7/2026). Sikap keras organisasi sepak bola Eropa itu langsung menjadi perhatian dan mendapat dukungan dari banyak penggemar sepak bola di media sosial.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

"UEFA dan 55 asosiasi anggotanya berdiri sebagai satu kesatuan. Kami dengan suara bulat dan tegas menolak proposal FIFA untuk mengalihkan kepentingan kepemilikan Piala Dunia dan kompetisi FIFA lainnya kepada investor swasta," demikian pernyataan UEFA, seperti dilaporkan Reuters.

UEFA menegaskan Piala Dunia bukan produk investasi yang dapat diperjualbelikan. Turnamen tersebut dinilai sebagai salah satu warisan terbesar sepak bola yang dibangun oleh pemain, tim nasional, dan penggemar selama beberapa generasi.

UEFA Tuding FIFA Lakukan Intimidasi

Selain menolak masuknya investor swasta, UEFA mengkritik proses penyusunan proposal FIFA. Organisasi pimpinan Aleksander Ceferin itu menilai rencana tersebut dibuat secara tertutup tanpa konsultasi yang transparan dan bermakna dengan konfederasi regional.

UEFA juga menuding FIFA menggunakan pendekatan ultimatum serta insentif finansial untuk memperoleh dukungan dari asosiasi anggotanya. Cara tersebut disebut sebagai "governance by intimidation" atau tata kelola melalui intimidasi.

FIFA dilaporkan menawarkan dana pengembangan senilai USD 20 juta kepada masing-masing dari 211 asosiasi anggota apabila proposal disetujui. Voting rencana tersebut dijadwalkan berlangsung paling lambat 19 September 2026.

"Piala Dunia tidak boleh diperlakukan sebagai produk investasi. Ini adalah salah satu warisan olahraga terbesar sepak bola," tegas UEFA.

Apa Itu FIFA Forward Enterprise?

Kontroversi bermula dari rencana FIFA membentuk FIFA Forward Enterprise atau FFE. Entitas baru tersebut akan mengelola aspek komersial dan operasional sejumlah kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia.

FFE disebut memiliki valuasi sekitar USD 20 miliar atau setara Rp360 triliun dengan asumsi kurs USD 1 senilai Rp18.000. FIFA berencana menjual saham minoritas hingga 20% kepada investor eksternal untuk menghimpun dana sekitar USD 4,2 miliar.

Investor yang dikaitkan dengan proposal itu adalah Thrive Eternal, perusahaan investasi yang didirikan Joshua Kushner. Ia merupakan saudara Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

FIFA mengatakan investor tidak akan mengendalikan keputusan olahraga maupun tata kelola kompetisi. Namun, UEFA khawatir keberadaan pemegang saham akan menggeser prioritas FIFA dari kepentingan sepak bola menuju keuntungan finansial.

Proposal itu turut dikritik Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan CONCACAF. Kedua konfederasi mengaku tidak memperoleh konsultasi yang memadai sebelum rencana tersebut diumumkan, meski sejauh ini belum mengikuti langkah boikot UEFA.

Warganet Dukung Sikap UEFA

Keputusan UEFA disambut positif oleh banyak warganet. Dalam diskusi di media sosial, sejumlah pengguna menilai Piala Dunia akan kehilangan legitimasi dan daya tarik apabila tim-tim Eropa benar-benar tidak berpartisipasi.

Ada pula yang mendorong konfederasi lain mengikuti UEFA agar FIFA membatalkan proposal tersebut. Sebagian warganet bahkan mengusulkan pembentukan turnamen tandingan apabila konflik antara UEFA dan FIFA tidak dapat diselesaikan.

"FIFA tanpa UEFA yang rugi itu FIFA, kalo mereka mau bikin tandingan WC bisa bisa aja, toh banyak peminatnya pasti," ujar @die_780.

"FIFA tanpa UEFA aduh kasian dehπŸ˜‚ Kiblatnya sepakbola dunia itu di Eropa, macam-macam sama UEFA ya terima resikonya, walaupun secara hierarki lebih tinggian FIFA tapi UEFA lebih punya power," kata @monogachi.

"Sebrengseknya UEFA, msh ngejaga marwah sepakbola, ga asal cari cuan...ini FIFA segala cara dihalalin, pantes dipantau aparat mulu...bagus lah boikot, biar pildun klub ntar anyep seanyepnya," ucap @Vil_Mckagan.

"Uefa mungkin "cuma" 55 negara. Tapi merupakan rohnya sepakbola. Kebayang piala dunia tanpa negara eropa paling yg menang amerika latin terus wkwk," ujar @r3nhartono.

"NICE... sungkem sama UEFA , enaknya kalo federasi punya power ya gini, yg diatas ga bisa berbuat seenaknya. Semoga batal dijual ya saham pildun nya," kata @muhariwir.

Namun, sejumlah pengguna mengingatkan UEFA juga tidak lepas dari kontroversi tata kelola sepak bola. Mereka berharap penolakan tersebut benar-benar ditujukan untuk melindungi turnamen, bukan sekadar perebutan pengaruh dan pendapatan.

Boikot UEFA berpotensi memengaruhi berbagai kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia Wanita 2027 di Brasil dan Piala Dunia 2030. Absennya negara-negara kuat Eropa juga dapat berdampak besar terhadap penonton, sponsor, hak siar, dan nilai komersial turnamen.



(afr/afr)








Hide Ads