Masalah stunting dan tuberkulosis masih menjadi momok yang menyeramkan di Indonesia. Berawal dari keresahan TP PKK Desa Perante Siti Zubaidah (59) dan wakilnya Farhana (29), mereka mencoba menyisipkan sedikit perubahan hanya dengan memanfaatkan Google Form dan WhatsApp untuk mengatasi stunting dan tuberkulosis di desanya, Desa Perante, Situbondo.
"Setelah saya cari-cari, ternyata belum ada yang menyatukan dua masalah terkait TB dan stunting. Di sini, kami mencoba menyelesaikan dua masalah ini dalam satu penanganan," aku Farhana kepada detikINET melalui sambungan telepon, Jumat (29/5/2026).
Guru di MIM Perante ini menjelaskan bahwa TB dan stunting adalah ibarat lingkaran setan. Dia mengatakan anak yang stunting rentan terkena tuberkulosis, begitu pula TB membuat anak stunting sulit untuk bertumbuh kembang maksimal.
"Kalau sudah kena stunting, nggak bisa 1-2 bulan tindakannya, itu harus ditindak bertahun-tahun mendatang, mungkin 2-3 tahun. Kalau anak kena stunting, keluarga harus dicek kena TB atau nggak," jelasnya.
Di Perante, penggencaran pengurangan angka stunting sudah diupayakan sejak 2023 melalui Kardas Centing Tosis (Kartu Cerdas Cegah Stunting dan Tuberculosis). Hana mengaku sentuhan digital sedikit, walaupun hanya berupa Google Form dan grup WhatsApp, ternyata mampu membantu pendataan semakin luas serta cepat.
Keluarga yang didata pun menjadi lebih mudah untuk memberikan informasi tanpa malu-malu, hasil skrining-nya pun dapat dipakai untuk sebagai landasan untuk konsultasi lebih lanjut ke Posyandu.
"Google Form ini hanya dibagikan lewat grup WhatsApp Kader Posyandu. Tak hanya mengandalkan Google Form dan edukasi di WhatsApp, kami juga memberikan penyuluhan workshop mengenai bahaya TB dan stunting," tegas Hana.
Dengan Google Form saja, hampir satu desa berhasil terdata untuk skrining stunting dan tuberkulosis. Data terakhir, sudah ada hampir 200 anak yang didata masalah stunting dan 500-600 orang untuk skrining tuberkulosis, dari penduduk di Desa Perante yang berjumlah hampir 1.000 orang.
Setelah berkomunikasi dengan tenaga kerja di Posyandu dan bidan desa, anak yang stunting akan mendapatkan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) secara gratis selama satu bulan. Meski belum ada data pasti soal penurunan angka stunting, Hana mengalami sendiri beberapa kabar membahagiakan.
"Waktu itu aku sudah mulai ikut menyalurkan PMT 2024. Ternyata ada beberapa anak yang di 2025 nggak mendapatkan PMT lagi. Waktu itu aku tanya ke kadernya "Kenapa nggak dapat lagi?", dijawabnya "Anak ini sudah sehat, anaknya nggak stunting lagi"," kisahnya.
Bagaimana dengan orang yang belum mengisi formulir secara online? Hana menjelaskan bahwa ia dan tim melakukan upaya 'jemput bola'. Keluarga yang belum terdata akan dikunjungi ke rumahnya langsung sehingga dapat dipastikan semua warga mengisi formulir tersebut.
Simak Video "Video: Kepulauan Riau Raih Juara Terbaik Penurunan Kemiskinan dan Stunting"
(ask/ask)