Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
CEO Perusahaan AI Kini Dikawal Bodyguard Bersenjata, Kenapa?

CEO Perusahaan AI Kini Dikawal Bodyguard Bersenjata, Kenapa?


Fino Yurio Kristo - detikInet

Ilustrasi businessman, Chief Executive Officer (CEO) perusahaan.
CEO Perusahaan AI Kini Dikawal Bodyguard Bersenjata, Kenapa? Foto: Ben Rosett/Unsplash
Jakarta -

Reaksi keras publik terhadap AI semakin meningkat, bahkan dicemaskan berubah menjadi upaya nyata kekerasan fisik. Para pemimpin industri mulai mengkhawatirkan keselamatan nyawa mereka.

Menurut Wall Street Journal, perusahaan-perusahaan AI terkemuka dan jajaran eksekutif puncak meningkatkan keamanan, seiring eskalasi sentimen anti industri AI yang memuncak pada ancaman dan percobaan kekerasan terhadap sosok serta perusahaan yang membuat model AI terkemuka. Beberapa eksekutif bahkan bepergian dengan pengawalan bersenjata, sementara yang lain memilih mengurangi penampilan publik.

"Beberapa tahun lalu, para CEO teknologi jelas tidak memiliki pengawalan keamanan. Sekarang, banyak perusahaan teknologi yang memasukkan hal tersebut ke dalam anggaran mereka."" ujar Dakota Dominguez, eksekutif firma keamanan JPT Security di Silicon Valley yang dikutip detikINET dari Futurism.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awal tahun ini, industri AI diguncang insiden saat aktivis anti AI berusia 20 tahun bernama Daniel Moreno Gama yang bersenjata pistol dan bom molotov, coba melempar bom ke rumah CEO OpenAI, Sam Altman, namun gagal. Tak ada korban, tapi insiden yang menyita perhatian publik ini terjadi menyusul serangkaian ancaman kekerasan dan setidaknya satu kali lockdown di kantor OpenAI.

OpenAI tidak sendirian. Menurut WSJ, sekitar waktu yang sama saat rumah Altman diincar, perusahaan pesaing OpenAI, Anthropic, hampir saja mengalami insiden berbahaya ketika seorang pria menyelinap masuk ke kantor pusat mereka. Pria tersebut berhasil dihentikan sebelum ada yang terluka.

ADVERTISEMENT

Tidak semua sentimen anti AI terwujud sebagai percobaan kekerasan fisik. Para aktivis juga melumpuhkan data center, merusak kamera berbasis AI, dan protes di kantor pusat perusahaan AI. Beberapa jajak pendapat menunjukkan masyarakat khawatir AI memicu PHK massal, memusatkan kekayaan dan kekuasaan, bahkan mendatangkan kiamat.

"Itu alasannya mengapa orang-orang membakar. Kita tak bisa kembali ke sistem perhambaan. Sangat terasa orang-orang yang berkuasa ingin jadi raja. Secara historis, itu tak pernah berakhir baik bagi para raja," ujar mantan karyawan Pinterest bernama Bonnie Kate Wolf, yang kena PHK selama restrukturisasi perusahaan yang fokus pada AI.



(fyk/fyk)
TAGS




Hide Ads