Bayangkan sebuah dunia di mana mesin menggantikan manusia sepenuhnya. Skenario terburuk tersebut dapat dihindari jika AI digunakan untuk mendukung alih-alih menggantikan pengambilan keputusan manusia.
"AI meningkatkan kualitas hidup, selama merupakan kombinasi antara manusia dan mesin. Jika Anda hanya mengandalkan mesin, maka kita sedang menciptakan sebuah dunia yang berada di luar kendali kita," kata Charles Edouard Bouee, pakar kecerdasan buatan sekaligus penulis, kepada Anadolu yang dikutip detikINET.
Charles mengutip berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa orang-orang di sektor teknologi mulai kehilangan kepekaan akibat terlalu bergantung pada mesin untuk mendapatkan jawaban instan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menilai tujuan utama AI seharusnya adalah untuk menghilangkan tugas-tugas bernilai rendah. Memaksakan untuk mengganti manusia sepenuhnya dengan mesin berisiko menyebabkan terjadinya kesalahan.
Bouee mencatat bahwa sektor kesehatan adalah salah satu sektor pertama yang mengalami transformasi besar-besaran karena tersedianya sejumlah besar data pribadi. AI membantu meringankan tekanan pada sistem kesehatan yang kelebihan beban dan memajukan penelitian mengenai umur panjang manusia.
Saat ini, mesin dan AI telah mengambil alih tugas-tugas berulang serta aktivitas yang membutuhkan pemrosesan berat. Ia pun menekankan AI yang berdampingan dengan manusia justru memberdayakan tenaga kerja, bukan menggantikan.
Bouee pun mendesak pemerintah untuk memberikan pelatihan ulang kepada para pekerja agar masyarakat dapat merangkul teknologi baru tersebut, alih-alih menolaknya. Sebab secara alamiah manusia takut pada hal-hal yang tidak diketahui, dan ini tercermin dalam sikap mereka terhadap teknologi.
Ia menambahkan bahwa AI dapat meningkatkan presisi bedah, keselamatan berkendara, dan kualitas hidup secara keseluruhan dengan memberikan lebih banyak waktu luang bagi orang-orang untuk dihabiskan bersama keluarga atau menekuni hobi.
Bouee juga menyinggung tentang perlombaan AI global, dengan dominasi Amerika Serikat dan China. Menurutnya, pengembangan AI selama ini dipimpin oleh Amerika Serikat, dengan China membuntuti dari dekat, sementara Eropa tertinggal.
(fyk/afr)