Satu dari sepuluh perempuan di Indonesia berisiko terkena kanker payudara. Ironisnya, mayoritas kasus baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium lanjut - saat penanganan jauh lebih sulit dan angka harapan hidup menurun drastis.
Kondisi inilah yang mendorong Shani dan timnya membangun Mammora, aplikasi yang memandu perempuan melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) secara mandiri dan rutin.
"Salah satu anggota tim kami pernah mengalami tumor payudara di usia sekitar 20 tahun dan sudah menjalani operasi. Dari situ, kami ingin membantu perempuan lain agar lebih cepat menyadari gejalanya," kata Shani Project Manager Mammora kepada detikINET.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fitur Mammora
Mammora dirancang untuk menjawab tiga pertanyaan mendasar yang sering membuat perempuan ragu melakukan SADARI: bagaimana caranya, apa saja yang perlu diperiksa, dan kapan waktu yang tepat.
Panduan pemeriksaan dalam aplikasi dibagi menjadi dua metode. Pertama, pemeriksaan visual di depan cermin untuk mendeteksi perubahan tekstur kulit, kerutan, atau perubahan warna. Kedua, pemeriksaan sentuhan dalam posisi berbaring menggunakan teknik yang mengacu pada panduan WHO dan Kementerian Kesehatan.
Yang membedakan Mammora dari sekadar artikel kesehatan adalah integrasi dengan siklus menstruasi pengguna. Waktu terbaik melakukan SADARI adalah hari ke-7 hingga ke-10 setelah hari pertama menstruasi - saat jaringan payudara paling tidak tegang. Aplikasi secara otomatis mengirim pengingat beberapa hari sebelum jadwal tersebut.
"Banyak perempuan belum tahu kapan waktu terbaik untuk SADARI. Kami menyesuaikan pengingat dengan siklus masing-masing pengguna," jelas Shani.
Setelah pemeriksaan selesai, Mammora menghasilkan laporan yang bisa disimpan dan dipantau dari waktu ke waktu. Jika pengguna tidak menemukan gejala, mereka cukup melanjutkan pemeriksaan rutin bulan berikutnya.
Namun jika ada gejala yang mencurigakan, pengguna dapat menandai lokasi temuannya pada model 3D payudara yang tersedia di aplikasi. Data ini tersimpan dan bisa langsung ditunjukkan ke dokter sebagai referensi pemantauan.
"Kami ingin pengguna tidak hanya mendeteksi, tapi juga punya data yang bisa dikomunikasikan ke tenaga medis," ujar Shani.
Mammora Foto: Adi FR/detikINET |
Dikembangkan dengan Masukan Dokter Bedah
Dalam proses pengembangannya, tim Mammora bekerja sama dengan dr. Daniel, dokter bedah umum di Jakarta. Masukan utama yang diterima berkaitan dengan penggunaan bahasa dalam aplikasi.
"Topik ini cukup sensitif. Kami diarahkan untuk menggunakan istilah yang tidak menakutkan, mudah dipahami, tetapi tetap akurat secara medis," kata Shani.
Dukungan juga datang dari Apple Developer Academy, yang membantu tim dalam pengembangan fitur sekaligus membuka koneksi ke berbagai komunitas kesehatan dan teknologi.
Sejak diluncurkan, Mammora telah meraih lebih dari 100 unduhan. Tim juga aktif melakukan edukasi melalui pameran dan berkolaborasi dengan mahasiswa kedokteran untuk menyebarkan informasi tentang pentingnya SADARI.
Ke depan, tim berencana mengembangkan fitur yang tidak hanya berhenti pada pencegahan. Shani mengatakan mereka ingin hadir mendampingi pengguna yang sudah menemukan gejala dan membutuhkan panduan tindak lanjut.
Kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan juga masuk dalam agenda jangka panjang mereka, meski untuk saat ini tim masih fokus mengumpulkan bukti dampak nyata aplikasi ini.
"Tujuan kami sederhana: membantu menurunkan angka kematian akibat kanker payudara dengan mendorong deteksi lebih awal," kata Shani.
Mammora bisa diunduh gratis di sini.
(afr/afr)



