Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
China Bikin Panduan Keamanan untuk OpenClaw

China Bikin Panduan Keamanan untuk OpenClaw


Anggoro Suryo - detikInet

OpenClaw
Foto: Screenshot situs
Jakarta -

Otoritas teknologi di China mulai memperketat pengawasan terhadap penggunaan AI agent populer OpenClaw. Unit di bawah Ministry of Industry and Information Technology (MIIT) baru saja merilis panduan keamanan terkait penggunaan teknologi tersebut.

Panduan ini disusun oleh National Vulnerability DataBase (NVDB) bersama sejumlah penyedia AI agent, platform pengelola kerentanan, serta perusahaan keamanan siber. Tujuannya adalah mengurangi risiko keamanan yang muncul dari penggunaan OpenClaw yang semakin luas.

NVDB merekomendasikan beberapa praktik utama bagi pengguna OpenClaw, seperti selalu menggunakan versi resmi terbaru, membatasi akses internet pada sistem AI, serta hanya memberikan izin minimum yang diperlukan bagi aplikasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengguna juga diminta berhati-hati saat memasang kemampuan tambahan dari marketplace pihak ketiga, menjaga sistem dari potensi pembajakan browser, serta rutin memeriksa pembaruan keamanan.

ADVERTISEMENT

Sebaliknya, NVDB memperingatkan pengguna agar tidak memakai versi OpenClaw yang sudah usang atau berasal dari sumber tidak resmi. Pengguna juga disarankan tidak membuka akses internet secara langsung ke sistem AI agent, tidak mengaktifkan akun administrator saat instalasi, serta menghindari pemasangan modul yang meminta kata sandi.

Selain itu, lembaga tersebut menyoroti risiko ketika OpenClaw dihubungkan dengan aplikasi pesan instan. Integrasi semacam itu berpotensi memberikan akses terlalu luas sehingga memungkinkan pihak jahat membaca, menulis, atau bahkan menghapus file pada sistem pengguna.

Risiko Serangan Siber

Pengawasan terhadap OpenClaw juga diperkuat oleh lembaga keamanan siber lainnya, yaitu National Computer Network Emergency Response Technical Team/Coordination Center of China (CNCERT).

Lembaga ini memperingatkan potensi serangan yang dikenal sebagai prompt injection, yakni teknik di mana penyerang menyisipkan instruksi berbahaya tersembunyi di halaman web. Instruksi tersebut dapat memanipulasi AI agent agar membocorkan data sensitif seperti kunci sistem.

OpenClaw sendiri pertama kali dikembangkan oleh programmer Austria, Peter Steinberger, dan diluncurkan pada akhir tahun lalu. AI agent ini mampu menjalankan berbagai tugas otomatis seperti mengelola email, menulis laporan kerja, hingga membuat presentasi. Popularitasnya melonjak setelah proyek tersebut diakuisisi oleh OpenAI bulan lalu.

Raksasa Teknologi China Ikut Mengadopsi

Sejumlah perusahaan teknologi besar di China telah merilis versi mereka sendiri untuk memanfaatkan tren OpenClaw. Di antaranya adalah Alibaba Group, Tencent, dan ByteDance.

Perusahaan-perusahaan tersebut mengembangkan versi OpenClaw yang lebih mudah dipasang atau lebih murah untuk digunakan oleh konsumen dan bisnis, demikian dikutip detikINET dari SCMP, Senin (16/3/2026).

Pemerintah daerah juga mulai memberikan dukungan. Kota Shenzhen di provinsi Guangdong serta kota Nanjing dan Wuxi di provinsi Jiangsu diketahui telah menyiapkan kebijakan untuk mendorong pengembangan teknologi tersebut.

Langkah ini menunjukkan bahwa meski AI agent seperti OpenClaw dianggap menjanjikan bagi industri teknologi, pemerintah China tetap berupaya mengantisipasi potensi risiko keamanan yang muncul dari penggunaan teknologi tersebut secara luas.




(asj/fay)








Hide Ads