Perang, dalam hal ini Perang Iran, tak cuma dilakukan dengan saling menembak peluru, bom, atau rudal, namun juga dilakukan lewat gelombang elektromagnetik yang tak terlihat oleh mata.
Gelombang ini dipakai untuk mengganggu sinyal GPS atau GPS jamming, yang dilaporkan semakin sering terjadi di kawasan Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi dunia. Gangguan ini berpotensi membahayakan navigasi kapal dan meningkatkan risiko kecelakaan laut.
Teknologi navigasi seperti Global Positioning System (GPS) atau sistem navigasi satelit global (GNSS) pada dasarnya menggunakan sinyal radio yang sangat lemah. Hal ini membuatnya relatif mudah diganggu oleh perangkat pemancar sinyal yang sengaja dibuat untuk menutupi atau memalsukan sinyal satelit.
Dalam beberapa waktu terakhir, gangguan tersebut mulai berdampak pada sistem identifikasi kapal otomatis atau Automatic Identification System (AIS), yang digunakan kapal untuk mengetahui posisi satu sama lain di laut.
Jika sistem ini tidak berfungsi dengan benar, kapal dapat kehilangan informasi penting mengenai posisi kapal lain di sekitarnya. Risiko tabrakan pun meningkat, terutama bagi kapal besar seperti tanker minyak sepanjang sekitar 300 meter yang membutuhkan jarak sangat jauh untuk berbelok atau berhenti.
Menurut Alan Woodward dari University of Surrey, masalah utama dari gangguan GPS bukan hanya kapal tidak mengetahui posisinya sendiri.
"Masalahnya bukan Anda tidak tahu ke mana Anda pergi, tetapi Anda tidak tahu ke mana kapal lain bergerak," ujarnya, seperti dikutip detikINET dari BBC, Kamis (12/3/2026).
Gangguan navigasi berbasis GPS sebelumnya juga terjadi di kawasan lain, termasuk di Laut Baltik serta selama perang di Ukraina. Namun para analis menyebut gangguan terbaru di Selat Hormuz memiliki skala yang lebih besar.
Meski belum ada konfirmasi resmi mengenai pihak yang bertanggung jawab, sejumlah analis militer menduga gangguan ini berkaitan dengan aktivitas elektronik militer Iran. Negara tersebut sebelumnya juga mengancam akan menyerang kapal yang melintasi kawasan tersebut.
Di sisi lain, pasukan Amerika Serikat di wilayah tersebut juga diduga menggunakan sistem pengacau sinyal untuk melindungi pangkalan militer dan kapal mereka dari drone serta senjata berpemandu satelit.
Para peneliti kini mencoba memetakan sumber gangguan tersebut. Salah satunya dilakukan oleh Sean Gorman dari perusahaan teknologi Zephr.xyz yang menggunakan data radar satelit untuk mendeteksi jejak interferensi sinyal.
Sementara itu, berbagai teknologi mulai dikembangkan untuk mengatasi gangguan GPS. Perusahaan pertahanan Raytheon misalnya membuat perangkat Landshield, antena anti-jamming yang dapat dipasang pada kendaraan hingga pesawat.
Perusahaan lain seperti Advanced Navigation mengembangkan sistem navigasi alternatif yang menggunakan sensor seperti giroskop dan akselerometer untuk menentukan posisi tanpa bergantung sepenuhnya pada GPS.
Namun para ahli menilai gangguan GPS akan tetap menjadi ancaman selama sistem navigasi global masih menggunakan sinyal terbuka yang relatif mudah diganggu.
Menurut Ramsey Faragher dari Royal Institute of Navigation, meningkatnya kasus GPS jamming kemungkinan akan mendorong pengembangan sistem navigasi satelit yang lebih aman di masa depan.
Simak Video "Video Iran: Ada Upaya AS-Israel Menyeret Perang ke Arah Selat Hormuz"
(asj/asj)