Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Aplikasi AI China yang Membuat Hollywood Gemetar

Aplikasi AI China yang Membuat Hollywood Gemetar


Fino Yurio Kristo - detikInet

Hasil Seedance 2.0
Hasil Seedance 2.0. Foto: Screenshot detikINET
Jakarta -

Sebuah model kecerdasan buatan (AI) baru yang dikembangkan perusahaan China di balik TikTok, sukses mengguncang Hollywood. Bukan hanya karena kemampuannya, tetapi juga karena potensi dampaknya bagi industri kreatif.

Diciptakan raksasa teknologi ByteDance, Seedance 2.0 dapat menghasilkan video berkualitas sinema, lengkap dengan efek suara dan dialog, hanya modal beberapa perintah teks (prompts). Banyak video yang kabarnya dibuat Seedance, termasuk dengan karakter populer seperti Spider-Man dan Deadpool, viral di internet.

Studio-studio besar seperti Disney dan Paramount menuduh ByteDance melakukan pelanggaran hak cipta. Namun, kekhawatiran mengenai teknologi ini jauh lebih dalam daripada sekadar masalah hukum.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa itu Seedance dan mengapa bikin Geger?

Seedance diluncurkan tanpa banyak sorotan Juni 2025, tapi versi keduanya yang menyebabkan kehebohan. "Untuk pertama kali saya tak sekadar berpikir ini terlihat bagus untuk ukuran AI. Sebaliknya, saya berpikir bahwa ini terlihat seperti hasil langsung dari jalur produksi nyata," kata Jan-Willem Blom dari studio kreatif Videostate.

Model video AI dari Barat memang juga mampu memproses instruksi pengguna untuk membuat gambar menakjubkan, namun Seedance tampaknya menyatukan semuanya dengan mulus.

ADVERTISEMENT

Dalam beberapa kasus, hanya dengan satu perintah teks sudah cukup menghasilkan video berkualitas tinggi. Menurut peneliti etika AI, Margaret Mitchell, ini sangat mengesankan karena menggabungkan teks, visual, dan audio dalam satu sistem tunggal.

Banyak pakar industri dan pembuat film percaya Seedance babak baru teknologi pembuat video. David Kwok, pemilik studio animasi Tiny Island Productions, menyebut rangkaian adegan aksi kompleks yang dihasilkannya lebih realistis dari pesaing. "Seperti punya sinematografer atau penata kamera spesialis film laga membantu Anda," cetusnya.

Potensi dan tantangannya

Seedance tersandung masalah hak cipta. Ahli memperingatkan perusahaan AI lebih memprioritaskan teknologi daripada manusia untuk membuat alat lebih canggih dan menggunakan data tanpa membayarnya.

Grup-grup besar Hollywood memprotes keras penggunaan karakter berhak cipta seperti Spider-Man dan Darth Vader oleh Seedance. Disney dan Paramount mengeluarkan somasi yang menuntut Seedance berhenti menggunakan konten mereka. Jepang juga menyelidiki ByteDance atas dugaan pelanggaran hak cipta, setelah video AI dari karakter anime populer viral.

ByteDance menyatakan sedang mengambil langkah-langkah untuk memperkuat sistem perlindungan saat ini. Pengembang Seedance kemungkinan besar telah menyadari potensi masalah hak cipta seputar penggunaan Kekayaan Intelektual (IP) Barat namun tetap mengambil risiko.

"Ada banyak celah untuk membengkokkan aturan secara strategis, mengabaikan aturan untuk sementara waktu demi mendapatkan pengaruh pemasaran," kata Shaanan Cohney, peneliti komputasi di University of Melbourne.

Sementara bagi perusahaan kecil, Seedance terlalu berguna untuk diabaikan. Kwok mengatakan bahwa AI dengan kualitas seperti ini akan memungkinkan perusahaan seperti miliknya membuat film yang biayanya jauh melebihi kemampuan finansial mereka sebelumnya.

Ia mencontohkan tren drama mikro yang booming di Asia, yang biasanya bujetnya kecil. Temanya biasanya drama romantis atau keluarga demi menekan biaya karena membutuhkan lebih sedikit efek visual. Namun sekarang AI dapat mengangkat produksi berbujet rendah ke genre lebih ambisius seperti fiksi ilmiah dan laga.

Seedance kembali menempatkan teknologi China di bawah sorotan "Ini menandakan model AI China setidaknya sudah menyamai batas terdepan dari apa yang tersedia saat ini. Jika ByteDance bisa memproduksi ini secara tiba-tiba, model seperti apa lagi yang masih disimpan perusahaan-perusahaan China?" cetsu Cohney.

Tahun lalu, DeepSeek, model AI China lainnya, menghebohkan dunia dengan model bahasa besarnya yang berbiaya rendah. Aplikasi ini sempat menyalip ChatGPT sebagai aplikasi gratis yang paling banyak diunduh di App Store wilayah AS.




(fyk/fay)





Hide Ads