Setiap getaran di pergelangan tangan terasa sepele. Pengingat untuk berdiri, minum air, atau bernapas sejenak sering kita terima sebagai bentuk perhatian. Tidak mengganggu, tidak memaksa. Bahkan terasa membantu. Namun, justru karena kelembutannya, teknologi seperti smartwatch berbasis Artificial Intelligence (AI) bekerja sangat efektif dalam membentuk cara kita hidup dan cara kita memahami diri sendiri.
Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi ini berguna. Tetapi lebih mendasar lagi, apakah ia membantu kita menjadi diri sendiri, atau justru secara halus mengarahkan kita menjadi versi diri yang 'diinginkan' oleh algoritma?
Individuasi
Dalam filsafat, khususnya pemikiran Gilbert Simondon, individuasi bukanlah sesuatu yang sudah jadi. Ia bukan status, melainkan proses. Manusia tidak pernah benar-benar 'selesai' menjadi dirinya. Kita terus membentuk diri melalui relasi dengan lingkungan, orang lain, budaya, dan juga teknologi.
Individuasi adalah proses ketika manusia menafsirkan pengalaman hidupnya, mengambil jarak dari norma yang tidak sesuai, dan secara reflektif membentuk identitas serta cara hidupnya sendiri.
Dalam pengertian ini, teknologi idealnya mendukung individuasi: membantu manusia mengenali dirinya, bukan menggantikannya dengan standar mesin.
Namun dalam riset yang penulis lakukan menunjukkan bahwa pada teknologi wearable seperti smartwatch, proses itu tidak selalu berjalan lurus.
Personalisasi: Janji kebebasan atau awal konformitas?
Smartwatch menjanjikan personalisasi. Ia menyesuaikan ritme tidur, pola kerja, hingga tingkat stres berdasarkan data tubuh kita. Banyak pengguna merasakan manfaat nyata. Sebagian mulai memahami pola energi pribadi dan menolak standar produktivitas seragam seperti budaya 'bangun jam lima pagi'.
Di titik ini, teknologi tampak mendukung individuasi: membantu manusia mengenali tubuh dan ritmenya sendiri.
Tetapi temuan lapangan memperlihatkan sisi lain. Personalisasi bekerja dengan logika algoritmik yang diam-diam juga menetapkan batas. Apa yang dianggap sehat, apa yang dianggap produktif, dan apa yang dianggap 'cukup'.
Aktivitas yang tidak terukur -- seperti kerja emosional, merawat keluarga, berpikir strategis, atau sekadar diam -- sering kali tidak diakui sebagai aktivitas bernilai. Akibatnya, manusia mulai menilai dirinya melalui angka.
Di sinilah individuasi mulai bergeser dari proses menjadi diri sendiri, menjadi proses menyesuaikan diri dengan parameter sistem.
Simak Video "Video AI Bikin Konsumsi Air Dunia Melejit: Dampaknya Bisa Kekeringan!"
(fay/fyk)