Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Reaktor Nuklir Kapal Induk AS Dijajaki Jadi Sumber Listrik Data Center AI

Reaktor Nuklir Kapal Induk AS Dijajaki Jadi Sumber Listrik Data Center AI


Anggoro Suryo - detikInet

Amerika Serikat dan Korea Selatan menggelar latihan militer bersama. Dalam latihan militer itu, AS juga mengerahkan kapal induk Nimitz.
Kapal induk USS Nimitz. Foto: Shon Hyung-joo/Yonhap via AP
Jakarta -

Lonjakan pembangunan data center AI mulai memunculkan ide-ide ekstrem soal pasokan listrik. Terbaru, sebuah perusahaan energi asal Texas mengusulkan pemanfaatan reaktor nuklir bekas kapal induk dan kapal selam Angkatan Laut Amerika Serikat untuk menyuplai daya ke data center AI.

Perusahaan tersebut adalah HGP Intelligent Energy. Dalam proposal yang diajukan ke Departemen Energi AS (DOE), HGP mengusulkan penggunaan dua reaktor nuklir milik Angkatan Laut AS yang sudah tidak lagi dipakai untuk memasok listrik ke fasilitas data center AI di Oak Ridge National Laboratory, Tennessee. Total daya yang dijanjikan tidak main-main, yakni sekitar 450 hingga 520 megawatt listrik.

Reaktor yang dimaksud berasal dari kapal induk kelas Nimitz dan kapal selam serang kelas Los Angeles. Kapal induk kelas Nimitz menggunakan reaktor A4W buatan Westinghouse, sementara kapal selam kelas Los Angeles dibekali reaktor S6G buatan General Electric.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

USS Nimitz sendiri saat ini tengah menjalani penugasan terakhir sebelum resmi pensiun, sementara hampir sepertiga armada kapal selam kelas Los Angeles sudah lebih dulu dinonaktifkan, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Minggu (28/12/2025).

ADVERTISEMENT

HGP menilai reaktor-reaktor tersebut masih sangat layak untuk dimanfaatkan kembali. Dalam proposalnya, perusahaan ini mengklaim biaya konversi reaktor hanya sekitar USD 1 juta hingga USD 4 juta per megawatt. Angka tersebut jauh lebih murah dibanding membangun pembangkit listrik tenaga nuklir baru atau reaktor modular kecil, yang bisa memakan waktu lebih dari satu dekade serta biaya jauh lebih besar.

Menurut laporan Bloomberg, skema bisnis yang ditawarkan HGP mencakup pembagian pendapatan dengan pemerintah AS, sekaligus pembentukan dana khusus untuk proses dekomisioning di masa depan. Secara keseluruhan, nilai proyek ini diperkirakan mencapai USD 1,8 miliar hingga USD 2,1 miliar, dan HGP berencana mengajukan jaminan pinjaman ke Departemen Energi untuk mendanainya.

Salah satu argumen utama HGP adalah soal waktu. Dibanding membangun fasilitas nuklir dari nol, penggunaan reaktor militer yang sudah ada diyakini bisa memangkas waktu implementasi secara signifikan. Reaktor-reaktor ini sudah dirancang, diuji, dan dioperasikan di bawah standar militer yang sangat ketat. Meski begitu, HGP tetap diketahui harus melewati pengawasan ketat dari Nuclear Regulatory Commission (NRC) dan Departemen Energi sebelum bisa benar-benar beroperasi.

Dalam rencana teknisnya, reaktor akan dilepas dari kapal yang telah dipensiunkan dan dipasang ulang di fasilitas darat yang diperkuat secara khusus di sekitar Oak Ridge. Wilayah ini memang dikenal sebagai salah satu pusat keahlian nuklir AS, dengan infrastruktur dan sumber daya manusia yang sudah mapan sejak era Proyek Manhattan. HGP mengklaim fasilitas tersebut dapat menyediakan listrik baseload bebas karbon selama puluhan tahun, sebuah aset yang kian berharga di tengah lonjakan konsumsi energi akibat AI.

Namun, ide ini tidak lepas dari kontroversi. Sejumlah pihak mengkhawatirkan tantangan teknis dalam memindahkan dan memodifikasi reaktor yang telah berumur, pengelolaan limbah nuklir, serta jaminan keamanan jangka panjang. Aspek politik dan persepsi publik juga menjadi tantangan tersendiri, mengingat ini melibatkan pemanfaatan aset nuklir militer untuk kebutuhan komersial.

Terlepas dari pro dan kontra, proposal ini menunjukkan betapa seriusnya krisis energi yang mulai mengiringi ekspansi AI. Ketika kebutuhan komputasi melonjak dan jaringan listrik kewalahan, solusi yang dulu dianggap mustahil kini mulai masuk ke meja perundingan. Apakah reaktor kapal induk akan benar-benar menjadi tulang punggung data center AI di masa depan, masih harus menunggu keputusan regulator dan pemerintah AS.




(asj/asj)







Hide Ads