Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
15 Persen Remaja Dipermalukan di Internet

15 Persen Remaja Dipermalukan di Internet


- detikInet

Jakarta - Satu dari tiga remaja Amerika menyatakan bahwa mereka ditindas dengan beberapa cara melalui internet. Sebanyak 15 persen dari remaja yang disurvei merasa dipermalukan ketika komunikasi pribadi mereka dipublikasikan online atau disebarkan kepada pihak ketiga.Contoh penindasan lain meliputi penyebaran rumor atau foto memalukan di situs dan juga ancaman agresif melalui e-mail, IM (instant message) atau pesan teks dari seseorang.Penelitian oleh Pew Internet & American Life Project ini menggarisbawahi bahwa penindasan cyber yang menimpa remaja bisa lebih berbahaya daripada ancaman penjahat seksual online karena skalanya yang lebih luas. Pada survei tahun 2006, dilaporkan bahwa sebanyak 13 juta remaja terkena efek penindasancyber ini.Amanda Lenhart, peneliti senior Pew menulis bahwa penindasan online ini bisa terjadi karena beberapa alasan. Salah satunya adalah kemudahan bagi remaja untuk menyebarkan foto memalukan atau menyebarkan gosip melalui internet. "Penindasan telah masuk ke dunia digital," tulisnya seperti dikutip detikINET dari CNET, Jumat (29/6/2007). "Penyebabnya sama saja (dengan di dunia nyata-red) namun pengaruhnya membesar. Sekarang, dengan mudah kita bisamenyebarkan foto, video atau percakapan kepada ratusan orang melalui e-mail danbahkan pada jutaan orang melalui situs," tukasnya lagi.Penelitian ini juga menemukan bahwa gadis remaja lebih mengalami penindasan daripada remaja pria. Sebanyak 38 persen gadis melaporkan bahwa mereka diganggu secara online sementara hanya 26 persen remaja pria yang mengaku mengalaminya. Insiden penindasan ini meningkat pada gadis yang lebih tua yang menggunakan situs jaringan sosial seperti Facebook atau MySpace. Hampir 40 persen remaja yang mempunyai account di situs tersebut merasa bahwa mereka ditindas. Namun demikian, 67 persen dari remaja yang disurvei juga mengungkapkan bahwa penindasan lebih banyak terjadi di dunia nyata daripada di internet. Data penelitian ini dihasilkan dari survei melalui telepon yang melibatkan 935 remaja berumur 12-17 tahun di seluruh Amerika Serikat. (dwn/dwn)







Hide Ads
LIVE