Waduh, 42 Persen Anak Saksikan Pornografi Online
- detikInet
Jakarta -
Sebuah riset menyatakan semakin banyak anak-anak dan remaja yang melihat pornografi online. Sebagian besar dari mereka melihat konten cabul itu tanpa sengaja. Riset yang dilakukan oleh para peneliti dari University of New Hampshire melaporkan 42 persen dari pengguna Internet yang berusia 10 hingga 17 tahun mengaku telah menyaksikan pornografi online. Namun, 66 persen dari responden yang melihat pornografi itu mengaku melakukannya secara tidak sengaja.Dalam riset tersebut pornografi didefinisikan sebagai gambar dari orang telanjang atau yang sedang berhubungan seks. Emily Duhovny, remaja 17 tahun editor situs kesehatan reproduksi bagi remaja, mengatakan pornografi sudah menjadi hal lumrah saat seseorang menggunakan internet. Meski demikian, editor Sexetc.org itu mengatakan pornografi online bukanlah cara pendidikan seks yang sehat. Demikian AP Medical, yang dikutip detikINET Selasa (6/2/2007). Riset dilakukan antara Maret hingga Juni 2005. Kebanyakan anak-anak yang dilaporkan melihat gambar-gambar terlarang berusia antara 13-17 tahun. Namun ini bukan berarti anak-anak berusia 10 dan 11 tahun luput dari hal itu. Sebanyak 17 persen anak laki-laki dan 16 persen anak perempuan 10-11 tahun juga melihat pornografi online.Lebih dari sepertiga anak lelaki berusia 16 dan 17 tahun yang disurvey mengemukakan bahwa mereka sengaja mengunjungi situs esek-esek. Sebaliknya, pada anak perempuan angka itu hanya mencapai 8 persen. Secara keseluruhan, 34 persen responden mengaku tak menginginkan tayangan pornografi online. Angka ini meningkat dari 25 persen pada 2005. Sumber 'pornografi tak sengaja' utama bagi anak-anak adalah program berbagi file. Namun terpaan pornografi juga dialami anak-anak lewat jalur 'normal' seperti e-mail, chatting, atau game online. Psikiater University of Chicago, Sharon Hirsch mengatakan penayangan pornografi online dikhawatirkan membuat anak-anak berperilaku seksual aktif sebelum waktunya. "Mereka belum siap secara emosional untuk melihatnya, ini akan menjadikan trauma," ujar Hirsch.Janis Wolak, Ketua tim penulis dan peneliti dari University of New Hampshire, mengungkapkan penayangan pornografi bisa memberi persepsi yang salah pada anak-anak tentang hubungan seksual yang sehat. Ia mengatakan studi lebih lanjut mengenai dampak pornografi pada anak perlu dilakukan.
(lni/wsh)