Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Pelaku ICT Diharapkan Kolaborasi

Pelaku ICT Diharapkan Kolaborasi


- detikInet

Jakarta - Kolaborasi antar pelaku ICT (Information Communication Technology) dirasa sangat diperlukan untuk meningkatkan pemanfaatan ICT di Indonesia. Hal tersebut diungkap beberapa tokoh pada acara dialog yang bertajuk "Human Network : The Connected Life Curse or Bless?" di Hotel Interkontinental Mid Plaza, Jakarta, Selasa (19/12/06).Salah satunya Rene L. Pattiradjawane, senior editor harian Kompas, menurutnya saat ini Indonesia masih dalam taraf mencari kolaborasi dalam pemanfaatan teknologi, approach terhadap kemajuan teknologi di Indonesia pun dianggapnya masih mencari-cari.Rene mengambil contoh tentang penyediaan teknologi 3G di kalangan operator. Menurutnya, alangkah lebih bagusnya jika seluruh operator saling berkolaborasi untuk sama-sama menyediakan layanan itu. "Jadi kenapa dari semua operator ga kolaborasi saja," ujarnya.Hal tersebut ternyata juga diamini oleh pemimpin redaksi Detikcom, Budiono Darsono. Menurutnya kolaborasi yang melibatkan pelaku ICT yang sedang berjalan akan lebih meningkatkan pemanfaatan ICT itu sendiri. "Kolaborasi akan men-trigger pemanfaatan ICT dengan lebih cerdas," tandasnya.Masih menurut Budi, teknologi akan merubah banyak perilaku seseorang, meskipun ada ketakutan terhadap penggunaan teknologi namun jangan selalu menganggap negatif perubahan yang terjadi, ini hanya dampak dari teknologi.Pemanfaatan ICT di Indonesia memang masih belum maksimal. Pengguna hanya sekedar menikmati ICT tanpa memaksimalkan kelebihannya untuk berkarya.Dalam kacamata psikolog Sartono Mukadis, Masyarakat Indonesia dianggapnya sebagai masyarakat penikmat, bukan pemanfaat.Sartono juga menyayangkan sebagian orang tua yang mempunyai paradigma terhadap tabunya penggunaan teknologi, dan menurutnya kita harus bisa mengubah paradigma tersebut di kalangan masyarakat Indonesia.Sebagai contoh, Sartono bercerita bagaimana masyarakat salah menafsirkan antara game dan play. Menurutnya, play itu lebih bermakna dan malah dianjurkan, karena di dalam kegiatan itu ada komunikasi yang berjalan.Sedangkan game memang dapat menumbuhkan kesendirian jadinya berbahaya karena tidak ada unsur interaksi, jadi harus dibedakan, lanjut Sartono. (ash/nks)







Hide Ads