Militer Israel mulai memompa air laut ke terowongan pejuang Hamas di Gaza, menurut laporan Wall Street Journal. Israel selesai merakit setidaknya lima pompa besar di dekat kamp pengungsi al-Shati di Gaza utara yang dapat mengambil air Laut Mediterania dan mengalirkan ribuan meter kubik per jam.
Pejabat Israel dilaporkan sedang mempertimbangkan membanjiri terowongan selama beberapa minggu. Para peneliti mengatakan banjir itu akan berdampak buruk pada ekologi Gaza, bahkan bisa jadi pelanggaran hukum kemanusiaan internasional.
Israel belum merinci rencana tersebut sehingga durasi dan intensitasnya tak diketahui. "Meski cakupan dan besar dampak secara keseluruhan belum jelas, kita dapat memperkirakan setidaknya sebagian air laut akan merembes ke dalam tanah dari terowongan, terutama di daerah yang sebelumnya terowongannya rusak," kata Juliane Schillinger, peneliti di University of Twente di Belanda.
Rembesan itu akan menyebabkan polusi lokal pada tanah dan air tanah. Terlebih, laut Mediterania pun juga sudah tercemar.
"Penting diingat kita tak hanya bicara soal air dengan kandungan garam tinggi di sini, air laut di sepanjang pantai Mediterania juga tercemar air limbah tak diolah, yang terus-menerus dibuang ke sana dari sistem pembuangan limbah Gaza yang tak berfungsi," katanya.
Akuifer pesisir Gaza, satu-satunya sumber air di sana, sudah tercemar akibat pemompaan berlebihan dan pembuangan limbah. Air itu sesekali disuplai ke warga Palestina melalui pompa yang dikendalikan Israel. Pada awal konflik yang terjadi Oktober, Israel mematikan pompa air sepenuhnya selama beberapa hari.
Sekitar 96% air rumah tangga di Gaza terkontaminasi dan tidak layak untuk dikonsumsi manusia. Akibatnya, sebagian besar warga Palestina di Jalur Gaza bergantung pada tanker air swasta yang tidak diatur dan pabrik desalinasi tidak berizin.
Perang Israel di Gaza telah memaksa setidaknya tiga pabrik desalinasi besar menghentikan operasinya. "Kualitas air sangat buruk di Gaza adalah akibat dari situasi di mana tidak ada ruang berarti bagi warga Palestina menentukan tata kelola air mereka sendiri," kata Michael Mason, profesor geografi lingkungan di London School of Economics.
Mason menyalahkan kurangnya tata kelola pemerintahan sebagai penyebab "efek berkelanjutan dan melumpuhkan dari blokade Israel, kemerosotan ekonomi, dan konflik bersenjata yang berulang".
Dia menambahkan prospek rekonstruksi infrastruktur air pascaperang akan bergantung pada akses ke akuifer, yang akan semakin asin dan tercemar oleh rencana banjir. "Perang makin memperburuk akuifer, akibat dari kerusakan infrastruktur air limbah dan kebocoran logam berat akibat penggunaan amunisi sembarangan," katanya.
Banjir air laut juga akan menyebabkan kerusakan jangka panjang pada pertanian di Gaza, yang telah lama dirusak oleh tindakan Israel. "Dengan asumsi bahwa sektor pertanian dapat bangkit kembali di masa depan, air tanah yang mengandung garam akan sangat membatasi pilihan tanaman," tambah Mason yang dikutip detikINET dari Middle East Eye.
Menurutnya tindakan yang menyebabkan kerusakan lingkungan jangka panjang adalah melanggar hukum. "Banjir terus-menerus dan ekstensif pada jaringan terowongan akan melanggar norma hukum kemanusiaan internasional yang melarang alat perang yang dimaksudkan atau diperkirakan, menyebabkan kerusakan lingkungan alam yang luas, berjangka panjang, dan parah," katanya.
Simak Video "Video: Pemuda Palestina Tewas Ditembak Militer Israel di Tepi Barat"
(fyk/fyk)