KKP Pakai Satelit Cari Pelaku Pembuang Sampah di Laut

ADVERTISEMENT

KKP Pakai Satelit Cari Pelaku Pembuang Sampah di Laut

Adi Fida Rahman - detikInet
Kamis, 04 Agu 2022 18:53 WIB
Program Konservasi Lingkungan Indosat Ooredoo Hutchison di Jembrana
KKP Pakai Satelit Cari Pelaku Pembuang Sampah di Laut (Foto: Adi Fida Rahman/detikcom)
Jembrana -

Sampah menjadi biang rusaknya ekosistem laut. Sejumlah teknologi disiapkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan mengerahkan satelit untuk mencari pelaku pembuang sampah sembarangan di laut.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan ada beberapa aspek yang berkontribusi terhadap kerusakan laut di Tanah Air. Paling utama adalah sampah plastik.

Sialnya, sampah plastik yang mengotori laut di Indonesia tidak hanya dari dalam negeri. Banyak pula sampah plastik berasal dari luar negeri.

"Ada dari Thailand, Malaysia hingga angkutan laut yang asal membuang bekas makannya," ungkap Trenggono saat peluncuran Program Konservasi Laut kolaborasi Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) dengan KKP di Konservasi Penyu KurmaAsih, Desa Perancak, Jembranan, Bali, Kamis (4/8/2022).

Lebih lanjut diungkap kalau KKP akan menerapkan satu teknologi yang bernama Marine Time Surveillance. Teknologi tersebut basisnya adalah satelit yang dapat memonitor 24 jam, diklaim dapat mengetahui siapa yang membuang sampah sembarangan di laut.

"Ketika ada tumpukan plastik di laut, asalnya dari mana itu bisa langsung kebaca. Nggak apa-apa kalau kapalnya sudah pergi tetapi tetap terbaca dan kemudian kita bisa deteksi nama kapal dan pemiliknya, tinggal sekali klik," jelas Trenggono.

Terkait program Konservasi Laut, Menteri KKP memberikan apreasiasi pada IOH. Karena, kolaborasi ini dapat membantu pihaknya dalam menjaga ekosistem kelautan di Tanah Air.

"Kalau lautnya bersih, ikannya juga sehat," kata Trenggono.

Kawasan Jembrana dipilih karena memiliki potensi menjadi kawasan konservasi seluas 3.500 hektar yang memiliki target nilai konservasi tinggi untuk biota laut yang terancam punah (penyu dan hiu), habitat penting yang terancam lautan (bakau, lamun dan terumbu karang), potensi perikanan (lemuru dan ikan karang), tempat budidaya ikan dan udang serta ekowisata bahari. Selain itu, Jembrana merupakan 1 dari 14 prioritas pantai lokasi peneluran penyu di Indonesia.

"Kami berkomitmen untuk berperan aktif dalam menciptakan kawasan konservasi laut yang lebih sehat. Hal ini sejalan dengan Development Goals (UNSDG s ) nomor UN Sustainable 14: Ekosistem Lautan, melestarikan dan memanfaatkan secara berkelanjutan sumber daya kelautan dan samudera untuk pembangunan berkelanjutan," kata President Director dan CEO IOH Vikram Sinha.



Simak Video "Berapa Kecepatan Layanan 5G Indosat di Bali?"
[Gambas:Video 20detik]
(afr/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT