Diskusi di detikINET
Menristek: Saya Merasa Diorangkan...
- detikInet
Jakarta -
"Protokoler apa? Siapa yang birokrat?", jawaban bernada bercanda tersebut langsung disampaikan oleh Kusmayanto Kadiman, ketika detikINET menanyakan tak adanya protokoler yang mendampingi Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) ketika berkunjung ke kantor detikcom pada Rabu (31/5/2006) sore. Datang dengan menggunakan mobil dinas menteri hitam mengkilat, Kusmayanto yang tiba pukul 16.30 WIB langsung bergegas ke lantai dua Gedung Aldevco Octagon, tempat para awak keluarga besar detikcom mangkal.Kusmayanto pun tak membuang waktu, menyempatkan diri berbincang dengan Pimpinan Redaksi detikcom Budiono Darsono, langsung di dapur redaksi. Paparan sekilas tentang rahasia dapur redaksi hingga data teknis bandwidth yang digunakan oleh sejumlah server detikcom ternyata cukup menarik perhatian mantan Rektor ITB tersebut.Kehadiran Menristek, yang bersahaja dengan menggunakan setelan batik, adalah atas undangan detikINET untuk melakukan diskusi informal tentang perkembangan riset teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Indonesia. Tak ingin pelit informasi, detikINET pun turut mengundang secara terbatas beberapa praktisi, akademisi maupun peneliti yang banyak berkutat langsung dengan aktifitas di lapangan.Diskusi pun berlangsung dengan hangat, penuh canda-tawa, celetukan gurauan dan sesekali terlontar joke berbahasa Sunda diantara para peserta. Maklumlah, Kusmayanto yang kelahiran Tanah Pasundan 52 tahun lalu tersebut mendapatkan lawan diskusi yang "pas". Onno W Purbo dan Michael Sunggiardi, adalah contoh dari beberapa peserta diskusi yang kerap ngabodor dengan Kusmayanto.IGOSDiskusi yang diikuti oleh sekitar 30 undangan tersebut mengupas beberapa hal yang menjadi isu terkini tentang perkembangan TIK di Indonesia. Sesi pertama diskusi yang dimulai pukul 16.45 WIB tersebut dibuka dengan paparan singkat oleh Kusmayanto secara lisan, lugas dan jelas tanpa bantuan alat presentasi ataupun kertas contekan. Secara umum, Kusmayanto menegaskan bahwa TIK sudah dapat dianggap sebagai alat pemersatu bangsa, khususnya di Indonesia.Selanjutnya, beberapa peserta diskusi turut urun rembug. Beberapa isu lawas pun sempat diangkat oleh Barata dari IndoWLI. Barata menanyakan tentang kelanjutan proyek Indonesia Country Gateway yang dulu sempat digembar-gemborkan oleh Kementerian Ristek pada kepemimpinan menteri sebelumnya.Diskusi pun berlanjut ke soal penegakan Hak atas Kekayaan Intelektual di lembaga pemerintah. Soal program Indonesia Goes Open Source (IGOS) misalnya, yang banyak dikritik oleh peserta diskusi. Maklumlah, semenjak dideklarasikan oleh sejumlah Kementerian dan Departemen pada Juni 2004 silam, program IGOS tampaknya hanya sekedar lips service.Menjawab sentilan tersebut, Kusmayanto pun tak memungkirinya. Bahkan dia sempat melontarkan kritik tentang lambatnya implementasi IGOS oleh deklarator lainnya yaitu Departemen Komunikasi dan Informasi, Departemen Kehakiman dan HAM, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara serta Departemen Pendidikan Nasional. Kusmayanto juga memaparkan implementasi langsung dari IGOS semisal meng-opensource-kan sebagian besar komputer desktop di jajaran kementeriannya, dan hanya menyisakan sejumlah kecil komputer yang menggunakan sistem operasi proprietary bagi keperluan tertentu.AnomaliTak mampunya para peneliti untuk memasarkan hasil penelitiannya kepada publik, juga menjadi diskusi yang menarik. Bona Simanjutak dari ICT Centre Jakarta dan Dirgayuza Setiawan dari ID-Macintosh menyampaikan permasalahan tersebut.Menurut mereka, perlu ada upaya agar para peneliti dapat melakukan ekspos yang luas atas hasil risetnya. Karena kalau tidak, maka yang justru akan mengklaim keberhasilan para peneliti tersebut adalah pihak-pihak yang sekedar mencari keuntungan atau popularitas.Fakta tersebut tak ditampik oleh Kusmayanto. "Itu memang sudah alamiah," tegasnya. Para peneliti memang kebanyakan tak punya kemampuan untuk melakukan bisnis atau berpromosi. "Kalaupun ada, itu hanya sebagian kecil dan anomali," tambahnya. Donny B.U., Redaktur Pelaksana detikINET juga menyampaikan keterbatasan kemampuan media massa dalam mendapatkan informasi hasil penelitian yang tersebar di masyarakat, lantaran di satu sisi kurang pro-aktifnya para stake holder penelitian dalam mempromosikan kegiatannya.Untuk menjawab hal tersebut, Kusmayanto menyarankan agar ada kerjasama yang sinergis antara para peneliti dengan pihak yang benar-benar ingin membantu di bidang pemasaran ataupun bisnis. "Saya yakin bahwa secara umum penelitian haruslah berangkat dari kebutuhan pasar dan kembali kepada pasar," tegas Kusmayanto. Peserta diskusi pun menyarakankan agar Kementerian Ristek dapat menjadi rujukan informasi tentang data penelitian dan peneliti TIK di Indonesia.Diskusi kemudian mulai menyinggung ke soal perkembangan TIK dan kaitannya pada aspek hukum dan bisnis. Brian Prastyo dari Lembaga Kajian Hukum dan Teknologi - Universitas Indonesia memberikan pandangannya tentang peran hukum dalam melindungi kepentingan para peneliti dalam melakukan aktifitas. Sedangkan Sapto Anggoro, General Manager Marketing Detikcom - Agrakom, menyampaikan saran agar Kementerian Ristek terus fokus pada pengembangan penelitian, karena persoalan hukum tak akan dapat dihindari apabila hasil suatu penelitian mulai masuk ke ranah bisnis.Omong KosongBeberapa peserta pun tampak tak segan melontarkan kritikan. Misalnya, ketika Kusmayanto menceritakan program One School One Lab (OSOL) yang segera disambut oleh kritikan pedas. Kusmayanto, dengan tetap tersenyum, mendengarkan pendapat dari sejumlah peserta bahwa program OSOL adalah program omong-kosong ataupun program yang mengklaim keberhasilan pihak lain.Soal kurang berkembangnya ISP plat merah Ipteknet, juga mendapatkan sorotan yang hangat. Diakui oleh pihak Ipteknet yang turut mendampingi Kusmayanto, beberapa hal yang menjadi kendala pengembangan Ipteknet adalah kurang mampunya ISP underbow Kementerian Ristek tersebut dalam bersaing di pasaran yang telah dipenuhi oleh ratusan ISP.Bahkan Kusmayanto sempat melakukan oto-kritik, bahwa ternyata sejumlah lembaga pemerintah non-departemen (LPND) yang berada dalam lingkup koordinasi kementeriannya, ternyata tak juga menjadikan memilih Ipteknet sebagai penyedia layanan akses Internet yang utama.Onno, dalam gayanya yang khas pun melontarkan pertanyaan kepada Kusmayanto. "Jadi, real-nya saja, apa program Kementerian Ristek yang dapat langsung dirasakan oleh masyarakat di bidang penelitian?" tanya Onno. Kusmayanto pun kemudian memaparkan jawabannya. "Intinya, saya akan terus mengupayakan terus agar seluruh jajaran di kementerian saya bisa membantu upaya TIK yang tersedia dan terjangkau," simpulnya.DiorangkanDiskusi pun terpaksa harus diakhiri pada pukul 18.15 WIB. Beberapa peserta diskusi pun tak sempat untuk menyampaikan pertanyaannya. Meskipun demikian Kusmayanto diakhir sesi, telah menyampaikan niatnya untuk bisa meneruskan diskusi-diskusi selanjutnya secara lebih intensif dan fokus. "Silakan atur, kapan kita bisa secara rutin berdiskus di kantor saya. Topik yang saya usulkan untuk segera dipertajam adalah tentang implementasi IGOS," ajaknya.Acara pun ditutup secara resmi oleh Wakil Pemimpin Redaksi detikcom Didik Supriyanto, setelah sebelumnya juga dibuka olehnya. Plakat dan kaus khusus berlogo detikcom pun dipindah-tangankan dari Didik ke Kusmayanto. "Ya, kalau (plakat dan kaus) ini boleh. Untuk lainnya, saya sudah disumpah untuk tidak menerima sesuatu yang terkait dengan jabatan," ujarnya yang disambut oleh gerrrrr oleh para peserta.Ketika akan masuk ke mobilnya, Kusmayanto sempat berbicara dengan nada pelan kepada detikINET. "Saya suka dengan diskusinya, pertanyaannya kritis dan tajam, mengingatkan saya sewaktu masih di kampus," ujarnya. "Saya merasa diorangkan kembali," tandasnya sambil melambaikan tangannya di dalam mobil. detikINET pun hanya bisa menduga-duga, makna yang disampaikan oleh menteri yang fasih menggunakan e-mail pada pernyataan terakhirnya tersebut.Catatan1. Situs resmi Kementerian Ristek: www.ristek.go.id2. Keterangan Foto (atas ke bawah): (a). Menristek Kusmayanto Kadiman (kanan) tengah mendapatkan penjelasan dari Pimpinan Redaksi detikcom Budiono Darsono (tengah) dan Wakil Pimpinan Redaksi Didik Supriyanto (kiri).(b). Dengan berstelan batik, Kusmayanto secara lugas menjawab pertanyaan dari para peserta diskusi.(c). Peserta tekun mendengarkan paparan ataupun jawaban Kusmayanto(d). Redaktur Pelaksana detikINET pun tak menyia-nyakan kesempatan untuk bertanya langsung(e). Kusmayanto menyempatkan diri berpose sebelum meninggalkan markas detikcom3. Peserta yang turut hadir berdiskusi: FT Universitas Gunadarma (Akbar), FE dan Centre for Entreprenuership - Universitas Bina Nusantara (Robert, Cosmos dan Effendy), LKHT FH Universitas Indonesia (Brian) , Air Putih (Didin), IndoWLI (Barata), ICT Centre - Jakarta (Bona dan Anton), ID-Mac (Yuza), Partners in Learning MS Indonesia (Subhan dan Marta Adi), InfoLinux (Rusmanto), Aktifis Lab Komputer Swadaya Masyarakat - Cikini (Yuyun), Onno W Purbo, Michael Sunggiardi, Gatra (Astari), PC Plus (Ajeng), Sinar Harapan (Merry), e-Indonesia (Andy), jajaran Kementerian Riset dan Teknologi, serta beberapa rekan anggota redaksi dari detikcom. (dbu)
(dbu/)