Olimpiade Tokyo 2020 Paling Digital Sepanjang Sejarah

Olimpiade Tokyo 2020 Paling Digital Sepanjang Sejarah

Fitraya Ramadhanny - detikInet
Kamis, 05 Agu 2021 21:39 WIB
Sosok Kristina Timanovskaya curi atensi dunia. Usai diusir dari Olimpiade Tokyo 2020 oleh timnya sendiri, sprinter Belarusia itu tengah mencari suaka politik.
Suasana Olimpiade Tokyo 2020 (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Pandemi Corona dan kemajuan teknologi berdampak langsung pada Olimpiade Tokyo 2020. Gelaran kali ini menjadi yang paling digital sepanjang sejarah.

Diberitakan Nikkei Asia, seperti dilihat Kamis (5/8/2021) penonton siaran pembukaan Olimpiade Tokyo 2020 turun 36% dibandingkan Olimpiade Rio tahun 2016. Namun bukan artinya olimpiade ditinggalkan penontonnya.

Komite Olimpiade Internasional (IOC) justru menemukan data menarik bahwa terjadi perubahan cara warga dunia menonton olimpiade.

"Olimpiade Tokyo adalah yang paling kuat keterlibatan digitalnya sepanjang yang pernah ada," kata IOC.

IOC mengatakan website dan aplikasi Olimpiade tembus 50 juta sejak pembukaan. Ini naik 2 kali lipat dari Olimpiade Rio 2016. Aktivitas media sosial terkait Olimpiade sudah menghasilkan 2 miliar postingan di minggu pertama.

Video TikTok soal olimpiade mencapa 1,4 miliar view. Instagram olimpiade naik 12 kali lipat dan menambah jutaan follower.

"Ada keterikatan kuat dengan kaum muda di dunia," kata CEO Olympic Broadcasting Services, Yiannis Exarchos.

Satu hal lagi yang mendorong perubahan cara menonton Olimpiade Tokyo 2020 menjadi lebih digital adalah warga Benua Asia. Semua atlet Asia yang bertanding mendorong aktivitas media sosial yang gila-gilaan.

Nikkei Asia memberi contoh India. Tagar #Olympics2020 naik ke urutan 2 Google trends karena India. #Badminton jadi trending didorong atlet India PV Sindhu yang didukung masyarakat India dengan populasi 1,3 miliar orang.

Thailand, Singapura, Filipina, Indonesia, masing-masing menciptakan trending di internet terkait atlet dari negara-negara ini yang bertanding di Olimpiade Tokyo 2020.

Tren baru dari Olimpiade yang digital

Nikkei mencatat ada banyak tren baru dalam olimpiade dengan warga dunia yang digital. Jarak antara atlet dan fans semakin hilang. Tontonan streaming tanpa komentator khas TV jadi lebih dinikmati. Suasana olimpiade tanpa penonton pun akhirnya bisa diterima, karena semua menonton online.

Atlet berbagi langsung video Instagram mengenai kehidupan mereka di kampung atlet Olympic Village. Atlet dan fans saling berkomunikasi langsung lewat media sosial.

Namun ini ada sisi negatifnya. Ada beberapa kasus bullying yang terjadi pada atlet karena kalah dalam pertandingan. Hal ini dialami atlet tenis meja Jepang Jun Mizutani, atlet senam Mai Murakami. Atlet senam Amerika Simone Biles mundur karena tekanan mental.

Hal ini perlu dijadikan pelajaran oleh Komite Olimpiade dan jadi PR ke depannya. Olimpiade yang digital membuat atlet lebih rentan terhadap suporter mereka masing-masing yang berharap banyak atau bahkan berlebihan.



Simak Video "Yang Bisa Dinantikan di Upacara Penutupan Olimpiade Tokyo 2020"
[Gambas:Video 20detik]
(fay/fyk)