Waspada 6 Hoax: Vaksin Bermagnet Hingga China Siapkan Senjata Biologis

Waspada 6 Hoax: Vaksin Bermagnet Hingga China Siapkan Senjata Biologis

Nadhifa Sarah Amalia - detikInet
Jumat, 28 Mei 2021 17:45 WIB
Close up of a computer keyboard with word of hoax on the red button
Foto: Getty Images/iStockphoto/CreativaImages
Jakarta -

Direktorat Pengendalian Aplikasi Informatika Kemenkominfo kembali menemukan hoax, disinformasi, dan misinformasi yang beredar di media sosial. Selain tentang vaksinasi COVID-19 yang dianggap skeptis, terdapat hoax seputar bencana alam dan privasi media sosial yang terancam.

Adapun hoax yang beredar meliputi orang yang akan meninggal dalam kurun waktu 2 tahun setelah mengikuti vaksinasi, China telah persiapkan Perang Dunia III dengan senjata biologis, hingga peringatan dini tsunami di lima provinsi.

Lalu, apa saja hoax yang beredar? Bagaimana kenyataannya? Berikut ulasannya seperti dikutip detikInet dari rilis Kemenkominfo, Jumat (28//5/2021).

1. Hoax Orang yang Sudah Divaksin COVID-19 akan Mati dalam 2 Tahun

Melalui pesan berantai atau broadcast message di WhatsApp, terdapat pesan yang mengklaim bahwa orang yang telah divaksin COVID-19 akan meninggal dalam kurun waktu dua tahun. Pesan tersebut diklaim disampaikan oleh mantan Ketua Saintis Vaksin Pfizer Mike Yeadon.

Faktanya, Ketua Satuan Tugas COVID-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Zubairi Djoerban menegaskan, informasi tersebut adalah hoaks. Selain tu, dikutip dari snopes.com, dijelaskan banyak klaim yang dibuat Yeaden tidak memiliki bukti ilmiah atau empiris. Michael Yeadon juga bukanlah Ketua Saintis Pfizer, namun Wakil Presiden dan Kepala Ilmuwan di unit penelitian penemuan obat di Pfizer.

2. Vaksin COVID-19 Mengandung Magnet

Beredar sebuah video di WhatsApp yang memperlihatkan uang koin pecahan Rp 1000 tertempel di lengan seseorang. Koin tersebut diklaim menempel setelah diletakkan persis di area bekas suntikan vaksin COVID-19. Sang pembuat video juga mempersoalkan vaksin COVID-19 dan menyebut vaksin tersebut mengandung magnet.

Faktanya, informasi tersebut tidak benar. Menurut Juru Bicara Vaksin COVID-10 Siti Nadia Tarmizi dan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI Wiendra Waworuntu, vaksin COVID-19 mengandung bahan aktif dan non aktif. Bahan aktif berisi antigen dan bahan non aktif berisi zat untuk menstabilkan dan menjaga kualitas vaksin agar saat disuntikkan masih baik. Adapun jumlah cairan yang disuntik hanya 0,5 cc dan akan segera menyebar ke seluruh jaringan sekitar, sehingga tidak ada carian yang akan tersisa di tempat bekas suntikan.

Selain itu, dijelaskan bahwa logam dapat menempel di permukaan kulit yang lembab, biasanya berupa keringat. Pecahan uang logam Rp 1000 terbuat dari bahan nikel yang tidak termasuk logam yang dapat menempel karena daya magnet. Partikel logam yang mengandung magnet tidak dapat melewati suntikan.

3. Hoax China Telah Persiapkan Perang Dunia III dengan Senjata Biologis

Dari media sosial Instagram, beredar unggahan yang menyebutkan China telah mempersiapkan Perang Dunia III dengan senjata biologis. Menurut unggahan tersebut, informasi tersebut berasal dari dokumen rahasia yang dibuat oleh para ilmuwan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China. Dalam dokumen tersebut, diungkapkan China telah meneliti manipulasi penyakit untuk membuat senjata, termasuk COVID-19 sejak tahun 2015 lalu.

Klaim tersebut tidak terbukti benar berdasarkan pemeriksaan fakta di Tempo. Pada awalnya, klaim tersebut diambil dari artikel yang membahas buku berjudul 'The Unnatural Origin of Sars' dan 'Species New Species of Man-Made Virus as Genetic Bioweapons' yang terbit pada tahun 2015. Namun, buku itu menyinggung tentang apakah COVID-19 dapat digunakan oleh teroris sebagai senjata melawan China, bukan tentang bagaimana China menjadikan virus tersebut sebagai senjata biologis. Tidak ada pula bukti yang disuguhkan yang mendukung klaim tersebut.

4. WhatsApp Mengubah Pengaturan Privasi Tanpa Pemberitahuan

Melalui pesan berantai atau broadcast message di WhatsApp, aplikasi ini telah melakukan perubahan pengaturan privasi tanpa pemberitahuan. Perubahan ini menyebabkan setelan privasi grup berubah menjadi 'Everyone' atau 'Semua Orang'.

Berdasarkan hasil penelusuran, WhatsApp pertama kali memperkenalkan fitur pengaturan privasi untuk grup melalui situs resminya pada tahun 2019 yang lalu. Lebih lanjut, melansir dari Forbes, pihak WhatsApp juga telah menjelaskan bahwa pengaturan privasi grup WhatsApp 'Semua Orang' sudah ada sejak fitur tersebut diluncurkan di tahun 2019, bukan merupakan perubahan yang dilakukan oleh WhatsApp pada bulan Mei 2021.

5. Peringatan Dini Tsunami di 5 Provinsi

Beredar pada media sosial Facebook sebuah informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) berisi peringatan dini tsunami dengan magnitudo 8,5 yang akan terjadi pada 4 Juni 2021 sekitar pukul 10.00 WIB di Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Nusa Tenggara Timur dan Jawa Tengah.

Faktanya, tersebut tidaklah benar. Kepala Humas BMKG Taufan Maulana meminta maaf atas kesalahan sistem tersebut. BMKG sedang menelusuri lebih lanjut terkait kesalahan sistem ini.

6. Hoax Kiat-kiat Mencegah Efek Samping Vaksinasi COVID-19

Beredar sebuah unggahan berbahasa Thailand yang memuat informasi seputar kiat-kiat yang diklaim untuk mencegah efek samping vaksinasi COVID-19. Diantaranya, tidak boleh minum kopi sebelum divaksinasi Sinovac, mengkonsumsi minyak ikan selama 1-2 minggu sebelum vaksinasi AstraZeneca serta makan satu cangkir natto (kacang Jepang) sebelum vaksinasi karena memiliki kandungan Nattokinase untuk melarutkan gumpalan darah.

Faktanya, informasi tersebut tidak berdasar. Dilansir dari AFP, spesialis penyakit menular di Universitas Chulalongkorn Thailand Thiravat Hemachudha mengatakan, tidak ada alasan orang tidak bisa minum kopi sebelum menerima vaksin COVID-19. Di sisi lain, profesor di Departemen Pencegahan dan Pengobatan Sosial di Universitas Chulalongkorn Thira Woratanarat mengatakan, tidak ada bukti akademis bahwa minyak ikan dapat meminimalkan efek samping dari vaksin COVID-19.

Terkait dengan mengkonsumsi natto, meskipun ada penelitian yang menunjukkan manfaat Nattokinase dalam melarutkan gumpalan darah, para ilmuwan belum merekomendasikannya untuk orang yang menerima vaksin COVID-19.



Simak Video "Satgas Ungkap Relaksasi Kebijakan Corona Picu Kenaikan Kasus"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/fay)