Twitter Pertimbangkan Model Berlangganan untuk Cari Cuan

Twitter Pertimbangkan Model Berlangganan untuk Cari Cuan

Virgina Maulita Putri - detikInet
Rabu, 10 Feb 2021 07:48 WIB
LONDON, ENGLAND - NOVEMBER 07:  In this photo illustration, the Twitter logo and hashtag #Ring! is displayed on a mobile device as the company announced its initial public offering and debut on the New York Stock Exchange on November 7, 2013 in London, England. Twitter went public on the NYSE opening at USD 26 per share, valuing the companys worth at an estimated USD 18 billion.  (Photo by Bethany Clarke/Getty Images)
Twitter Pertimbangkan Model Berlangganan untuk Cari Cuan Foto: GettyImages
Jakarta -

Twitter terus mempertimbangkan untuk menambahkan layanan berlangganan (subscription) dan fitur berbayar lainnya untuk mendapat cuan tambahan dan tidak lagi bergantung dengan pendapatan dari iklan.

Saat ini mereka sedang mempertimbangkan beberapa model, termasuk menghadirkan fitur berbayar seperti tombol 'undo send' dan kustomisasi lebih banyak. Ide lainnya adalah mengenalkan program 'tipping' di mana pengguna bisa membayar akun Twitter untuk mendapatkan konten eksklusif.

Selain itu, Twitter juga berencana untuk mengubah Tweetdeck yang selama ini bisa diakses secara gratis menjadi layanan berbayar, seperti dikutip dari The Verge, Rabu (10/2/2021).

Tweetdeck sendiri merupakan layanan alternatif Twitter yang populer karena memungkinkan pengguna untuk mengelola beberapa akun Twitter sekaligus dan menampilkan feed vertikal yang lebih mudah dibaca.

Menurut laporan Bloomberg, rencana Twitter untuk mempertimbangkan layanan berbayar merupakan caranya untuk mengurangi ketergantungannya terhadap pendapatan dari iklan.

Bloomberg mencatat bahwa bisnis iklan Twitter saat ini ketinggalan dari Facebook dan Snapchat, dan perusahaan berlogo burung ini terus mendapatkan tekanan untuk melakukan diversifikasi dari investor aktivis yang ingin menggantikan CEO Jack Dorsey serta tekanan dari pandemi.

Dalam keterangan resminya kepada Bloomberg, Revenue Products Lead Twitter Bruce Falck mengonfirmasi bahwa perusahaan mungkin akan melibatkan layanan berlangganan untuk menambah pemasukannya. Tapi ia menekankan saat ini rencana tersebut masih berada di tahap awal.

"Kami tidak memperkirakan pendapatan berarti apa pun yang disumbangkan oleh peluang ini di tahun 2021," kata Falck.

Twitter sebenarnya telah menjajaki model layanan berlangganan selama beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2017, mereka mempertimbangkan menghadirkan fitur premium berbayar untuk Tweetdeck tapi kemudian dibatalkan.

Pada musim panas lalu, Twitter juga mengadakan survei yang menanyakan pengguna tentang fitur apa yang bersedia mereka bayar, termasuk warna khusus, video berkualitas tinggi dan lebih panjang, lencana profil, balasan otomatis, tombol 'undo send', serta analitik.

Kemudian saat mengumumkan laporan keuangan pada kuartal kedua 2020, CEO Twitter Jack Dorsey mengatakan kepada investor bahwa perusahaan berencana menguji coba layanan berlangganan.



Simak Video "Reaksi Elon Musk soal Jack Dorsey Mundur dari Dewan Direksi Twitter"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/afr)