Facebook, Twitter dan YouTube Diminta Rombak Kebijakan Anti-Radikalisasi

Facebook, Twitter dan YouTube Diminta Rombak Kebijakan Anti-Radikalisasi

Josina - detikInet
Minggu, 24 Jan 2021 19:46 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Setelah pelantikan beberapa anggota kongres AS dari partai Demokrat, mereka meminta Facebook, Twitter dan YouTube untuk melakukan perubahan besar terkait kebijakan anti-radikalisasi.

Ketiga platform ini dinilai turut berkontribusi atas kerusuhan dan kekerasan yang terjadi di gedung Capitol Hill pada awal bulan ini.

Dalam surat yang ditujukan kepada kepala eksekutif Facebook, Twitter dan YouTube, Anna Eshoo dan Tom Malinowski bersama dengan beberapa anggota kongres lainnya telah menyerukan agar para raksasa media sosial ini melakukan perubahan besar pada platformnya untuk mencegah aktivitas kekerasan dan ekstremis.

Para anggota parlemen menuduh ketiga perusahaan tersebut menggunakan fitur atau algoritma tertentu untuk meningkatkan konten yang membangkitkan emosi ekstrem sebagai cara dukungan bagi kelompok. Mereka pun secara spesifik menunjukkan fitur yang harus diubah di setiap platform.

Untuk YouTube, kongres meminta untuk menonaktifkan putar otomatis dan berhenti merekomendasikan konten konspirasi apapun di beranda pengguna.

Lalu Facebook diminta untuk memulai pemeriksaan ulang mendasar atas penggunaan keterlibatan penggunanya sebagai dasar penyortiran algoritmik dan rekomendasi.

Sedangkan Twitter, diminta untuk mulai mendorong pengguna mengutip tweet daripada secara otomatis me-retweet ketika mengklik tombol retweet.

"Kerusakan mengerikan pada demokrasi kita yang ditimbulkan pada 6 Januari lalu menunjukkan bagaimana platform media sosial ini berperan dalam meradikalisasi dan memberanikan teroris untuk menyerang Capitol Hill," kata Eshoo dalam sebuah pernyataannya, seperti dilansir detiKINET dari The Verge.

"Perusahaan-perusahaan ini pada dasarnya harus memikirkan kembali sistem algoritmik yang bertentangan dengan demokrasi," lanjutnya.

Menanggapi ini, Facebook dan YouTube menolak untuk memberikan komentarnya. Sedangkan juru bicara Twitter mengatakan mereka telah menerima surat tersebut dan akan memberikan tanggapannya.



Simak Video "Usai Akunnya Diblokir, Trump Tuduh Platform Medsos Pecah Belah Bangsa"
[Gambas:Video 20detik]
(jsn/fay)