Digitalisasi-Kolaborasi, Cara Kreator Ini Tetap Bertahan Saat Pandemi

Digitalisasi-Kolaborasi, Cara Kreator Ini Tetap Bertahan Saat Pandemi

Nurcholis Maarif - detikInet
Selasa, 22 Sep 2020 23:10 WIB
Tokopedia
Foto: Instagram/DWskellington
Jakarta -

Bagi David Wijaya, digitalisasi bukan hanya menjadi pilihan, tetapi keharusan dalam memulai bisnis yang sampai saat ini digeluti, DWskellington yang menjual produk handmade dengan gambar doodle art. Keharusan yang selanjutnya ialah terus berinovasi agar bisnis tetap tumbuh, apalagi di masa pandemi seperti saat ini.

David mengatakan awal pandemi sempat menghantam bisnis doodle art miliknya, bahkan menurunkan penjualan hingga 50% dan sempat merumahkan tiga karyawannya. Namun, dengan inovasi seperti mulai menjajal jualan masker, memberi promosi hingga berkolaborasi membuat bisnisnya bertahan, bahkan meningkat di masa pandemi ini.

"Kalau digitalisasi sudah keharusan sih, sudah bukan optional. Karena pengalaman saya bersyukur dari awal udah mulai merambah ke online. Kalau dari dulu nggak merambah ke online, bisnis saya sudah jatuh, dari dulu udah tutup mungkin," ujar David kepada detikcom, Selasa (22/9/2020).

"Karena dengan online, market kita bisa lebih luas, apalagi kalau market saya lebih miss. Produknya handmade, gambarnya doodle art, jadi nggak semua orang suka gitu. Harus nyari market yang beneran suka. Kalau kita nggak merambah market yang lebih luas, kita nggak bakal menang dengan produk kita," imbuhnya.

Awal Mula Bisnis Doodle Art

David merupakan lulusan sarjana Teknik Informatika tahun 2013 dari salah satu kampus di Medan. Di tahun yang samalah sambil menjadi guru les privat, ia mulai mencoba-coba mencari peluang bisnis lain yang bukan dari jurusannya, tetapi dari hobinya, yaitu menggambar doodle art.

"Saya penasaran, saya coba, saya kembangkan, saya padukan (gambar saya) dengan kerajinan tangan, saya jadikan kartu ucapan dan bingkai. (Akhirnya) gambar saya menjadi produk, akhirnya jadi brand DWskellington," ujar David.

"Sampai sekarang kami terus bereksplorasi produk baru. Jadi selain kartu ucapan dan bingkai, ada frame, ada masker, ada bantal. Kita terus eksplorasi variasi produk baru," imbuhnya.

Bisnis ini baru diseriusi dan menjadi penghasilan utama David sejak tahun 2016 karena pada saat yang sama sedang ramainya marketplace. Dari sinilah ia mulai menemukan pasar yang lebih luas. Kata dia, saat ini bahkan 80% pembeli produknya berasal dari luar Medan.

"80% bukan dari Kota Medan. Itu anehnya di sana, padahal ongkos kirim kan lumayan yah. Dari Jawa, Kalimantan, Aceh juga ada. Intinya orang Medan lebih sedikit hanya 10%. Range produk kita dari Rp 25 ribu sampai Rp 200 ribuan," ujar David.

"Kalau sejak belum ada marketplace, nggak sebanyak sekarang sih. Karena pasar saya waktu itu kebanyakan orang Medan, sedangkan saya merasa waktu itu pasar orang Medan masih nggak suportif dari pulau jawa. Makanya kenapa saya harus nyari cara memperluas market lagi. Nah untungnya marketplace ini jadi jembatan," imbuhnya.

Ia mulai membuka lapak di Tokopedia dan beberapa marketplace lain. Namun, karena sering mendapat orderan dari Tokopedia, David mengaku ingin fokus di Tokopedia terlebih dulu. Ia juga pernah meraih penghargaan top 10 finalis dalam ajang MAKERFEST yang diinisiasi oleh Tokopedia pada tahun 2018.

MAKERFEST merupakan ajang kreator lokal yang pada tahun tersebut digelar di 8 kota dan diikuti oleh 1.500 pendaftar. David merupakan kreator lokal yang mewakili Kota Medan lalu terbang ke Jakarta untuk ikut final serta menjadi top 10.

Inovasi Menghadapi Corona

Bisnis David mulai berkembang dan kini ia memiliki tiga karyawan yang bekerja di DWskellington. Namun, pandemi membuat bisnis ini sempat turun dan kebijakan pembatasan sosial membuatnya memutuskan untuk merumahkan karyawannya.

Akhirnya ia mulai mencoba untuk membuat dan menjual masker. Pertama, ia hanya menjual masker berwarna polos karena masih kurang percaya diri. Setelah ternyata mendapat respons yang baik dari pembeli, ia baru mulai mencoba beberapa pilihan desain.

"Dari sana muncul lagi peningkatan di bisnisnya. Pas setelah satu bulan, mulai naik lagi. Karena kita mikir strategi, buat kemarin promosi diskon hingga 50% produk best seller kita. Kita mungkin mikir juga, (sekarang) orang lebih menghemat pengeluaran kan, (makanya) kita coba membuat promosi," ujar David.

Selain dengan promosi diskon, David juga berkolaborasi dengan artist dari Medan untuk membuat masker dengan desain gambar mereka sendiri. Menurut David, inilah inovasi yang perlu dilakukan agar bisnis tetap cuan.

"Kalau menurut pengalaman, inovasi itu penting yah. Karena misalnya saya jual masker, kemungkinan profitnya nggak sebanyak dari produk yang saya jual saat ini, tetapi setidaknya eksposurenya itu kan lebih meningkat karena kan banyak nih yang nyari masker," ujar David.

"Jadi kemungkinan mereka nggak beli masker, terakhir beli produk yang lain, itu kan kita nggak tau. Tapi setidaknya eksposurenya lebih meningkat daripada kita nggak jual masker, misalnya begitu," imbuhnya.

Menurut David, pengusaha atau UMKM harus mengikuti budaya tren pembeli dan menyambungkannya dengan produk yang dijual. Selain menjual masker dengan desain doodle art, ia juga menjajal menjual bingkai dengan tema COVID-19.

"Jadi coba eksplorasi, ada kartu ucapan dengan bingkai dengan tema COVID-19, kaya ada dokter yang pesan untuk pasangannya sesama dokter tapi beda kota, mereka pingin kirim ucapan selamat, bisa jadi produk yang kita jual menyesuaikan dengan tren pembeli itu," pungkasnya.

(akn/fay)