Ilmuwan Ciptakan Internet yang Tidak Bisa Dihack

Ilmuwan Ciptakan Internet yang Tidak Bisa Dihack

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 10 Sep 2020 05:50 WIB
Ilustrasi fokus (bukan buat insert) Nyepi Tanpa Internet (Zaki Alfarabi/detikcom)
Ilustrasi: Zaki Alfarabi/detikcom)
Jakarta -

Tim ilmuwan internasional yang dipimpin oleh University of Bristol di Inggris, membuat langkah signifikan dalam mewujudkan jaringan internet yang diklaim sangat aman.

Dikutip dari Unilad, prototipe unik ini dapat mengubah komunikasi online dengan baik, dan disebut-sebut sebagai jaringan kuantum terbesar di jenisnya.

Dalam laporan yang diterbitkan di jurnal ilmiah Science Advances, mereka menjelaskan bagaimana menggunakan prinsip yang dikenal sebagai keterjeratan untuk mengeksploitasi kekuatan dua partikel terpisah yang ditempatkan di lokasi berbeda, untuk meniru satu sama lain pada waktu yang sama persis.

Proses ini membuka jalan untuk peluang yang jauh lebih baik di bidang komputer kuantum, sensor, dan pemrosesan informasi. Penulis utama penelitian, Dr Siddarth Joshi, yang memimpin proyek di Labs Quantum Engineering Technology (QET) University of Bristol mengatakan, ini adalah terobosan besar dan membuat internet kuantum menjadi proposisi yang jauh lebih realistis.

"Hingga saat ini, membangun jaringan kuantum memerlukan biaya, waktu, dan sumber daya yang sangat besar, serta sering kali mengorbankan keamanannya yang mengalahkan keseluruhan tujuan," ujarnya.

Dikatakannya, solusi mereka dapat diskalakan, relatif murah, dan yang terpenting, tidak dapat ditembus. Artinya, ini adalah pengubah permainan yang menarik dan membuka jalan bagi pengembangan yang jauh lebih cepat dan peluncuran teknologi ini secara luas.

Sistem internet saat ini bergantung pada kode kompleks untuk perlindungan informasi. Sementara itu, para peretas terus mengasah kemampuan untuk mengakali sistem ini, sehingga serangan cyber di seluruh dunia meningkat signifikan.

Kerugian semacam itu diproyeksikan akan melonjak karena peretas menjadi lebih mahir, dan kebutuhan untuk mencari alternatif menjadi semakin penting.

Selama beberapa dekade, kuantum telah dipandang sebagai pengganti revolusioner untuk teknik enkripsi standar. Fisikawan telah mengembangkan jenis enkripsi aman yang disebut distribusi kunci kuantum - yang mentransmisikan partikel cahaya, yang dikenal sebagai foton.

Proses ini berarti bahwa dua pengguna dapat berbagi kunci rahasia untuk mengenkripsi dan mendekripsi informasi, tanpa risiko dicegat. Namun, hingga saat ini, teknik ini hanya terbukti efektif di antara dua pengguna.

Alih-alih membuat koneksi fisik (misalnya serat kaca) di antara setiap pengguna, tim dapat membangun sistem di mana setiap pengguna hanya memiliki satu serat kaca yang terhubung dengan sumber keterikatan kuantum.

"Hingga saat ini upaya untuk memperluas jaringan telah melibatkan infrastruktur yang luas dan sistem yang memerlukan pembuatan pemancar dan penerima lain untuk setiap pengguna tambahan," kata Joshi.

Berbagi pesan dengan cara ini, yang dikenal sebagai trusted node, menurutnya tidak cukup baik karena menggunakan begitu banyak hardware tambahan yang dapat bocor dan tidak lagi sepenuhnya aman.

"Alih-alih harus mereplikasi seluruh sistem komunikasi, metodologi terbaru ini, yang disebut multiplexing, memisahkan partikel cahaya, yang dipancarkan oleh satu sistem, sehingga dapat diterima oleh banyak pengguna secara efisien," ujarnya.

Sistem kuantum sebelumnya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibuat, dengan biaya yang bertambah hingga jutaan atau bahkan miliaran pound. Namun, jaringan baru ini dibuat dalam waktu beberapa bulan dengan harga kurang dari 300 ribu pound.



Simak Video "Facebook: Literasi Internet Sudah Baik, Hanya Aksesnya Kurang Cepat"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)