Ambisi Dahsyat Elon Musk: Tanam Komputer di Otak Sampai Jelajah Mars

Ambisi Dahsyat Elon Musk: Tanam Komputer di Otak Sampai Jelajah Mars

Tim - detikInet
Senin, 13 Jul 2020 08:34 WIB
Vice President Mike Pence, his wife Karen, right, NASA administrator, Jim Bridenstine, center and CEO of SpaceX, Elon Musk, talk to the media after NASA astronauts Douglas Hurley and Robert Behnken left the Neil A. Armstrong Operations and Checkout Building on their way to Pad 39-A, at the Kennedy Space Center in Cape Canaveral, Fla., Wednesday, May 27, 2020. The two astronauts will fly on a SpaceX test flight to the International Space Station. For the first time in nearly a decade, astronauts will blast into orbit aboard an American rocket from American soil, a first for a private company. (AP Photo/John Raoux)
Elon Musk. Foto: AP/John Raoux
Jakarta -

Elon Musk sering melontarkan prediksi ataupun keyakinan soal masa depan dunia teknologi maupun penjelajahan antariksa yang kerap mencengangkan. Bos Tesla dan SpaceX ini memang sejak lama punya pemikiran besar dan ingin merealisasikannya.

Berikut beberapa prediksi terbaru Elon Musk yang dihimpun dari berbagai sumber:

Bangun Pemukiman di Mars

Sudah cukup lama Musk ingin membangun koloni di planet Mars, bahkan mati di sana. Setelah SpaceX belum lama ini sukses meluncurkan astronaut NASA ke International Space Station, Elon Musk pun beralih fokus mempersiapkan pesawat untuk menuju ke planet itu.

Di Twitter, Musk yang juga bos Tesla ini menekankan bahwa Starship bakal digunakan untuk membangun koloni di planet lain. "Starship adalah kunci untuk membuat kehidupan multi planet dan melindungi sinar kesadaran manusia," cetusnya.

Itu karena suatu saat Bumi akan hancur, misalnya saat Matahari mencapai akhir hidupnya. Walau masih dalam kisaran miliaran tahun, Musk tampaknya ingin mempersiapkan diri dari sekarang.

"Itulah di saat seluruh kehidupan di Bumi akan terebus. Apa yang penting adalah seberapa lama peradaban bisa melompat ke Mars. Bisa jadi ini hanya memakan waktu pendek, dalam dekade," tulisnya.

Dalam rangka memastikan peradaban manusia akan bertahan dari kemungkinan kerusakan Bumi, Musk menyatakan kita harus mulai mengirimkan manusia ke Mars. Dari sana, ilmuwan bisa mulai mempelajari cara bagaimana membangun koloni berkelanjutan.

Di lain kesempatan, Musk pernah menyebut untuk membangun koloni di Mars membutuhkan setidaknya 1.000 sistem kendaraan antar planet. Selain itu, ia pun mengatakan kalau setidaknya membutuhkan waktu 20 tahun untuk mengirimkan benda yang dibutuhkan ke Mars.

Komputer Terkoneksi Otak Manusia

Elon Musk punya gagasan bahwa manusia harus terhubung dengan komputer, dalam rangka melawan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologinya dikembangkan oleh salah satu perusahaan Elon yang dinamainya Neuralink.

Neuralink sudah memberi teaser tentang sebuah produk yang secara efektif akan menghubungkan otak manusia dengan komputer. Caranya adalah dengan memakai chip yang diimplan.

November tahun 2018, Elon menjelaskan teknologinya akan melibatkan 'elektroda ke interface neutron dalam level mikro'. Bentuknya semacam chip serta kabel-kabel kecil yang diimplan di tengkorak manusia melalui operasi.

"Aspirasi jangka panjang dengan Neuralink adalah untuk mencapai simbiosis dengan AI dan mencapai semacam demokratisasi intelijensi, sehingga tidak dimonopoli oleh pemerintah dan korporasi besar," tutur Elon.

"Aku yakin hal ini bisa dilakukan, mungkin dalam satu dekade," kata dia seperti dikutip detikINET dari Daily Mail.

Pria yang ingin meninggal di planet Mars ini meyakini manusia harus mengekplorasi teknologi sejenis cyborg seiring perkembangan pesat AI. "Jika kita punya jutaan orang dengan link bandwidth tinggi ke ekstensi AI diri mereka sendiri, itu akan membuat mereka super pintar," papar Elon.

Mobil Otonom Penuh

Mobil Tesla memang telah memiliki sistem kemudi mobil otonom walau belum sempurna. Nah sang CEO Elon Musk, menyatakan teknologi kendaraan otonom Tesla yang benar-benar bisa mengemudi sendiri bakal rampung di akhir tahun ini.

Teknologi Autopilot level dua di Tesla saat ini masih mensyaratkan pengemudi waspada dan tangan tetap di setir. Namun menurut Musk, update software di masa depan akan menjadikan sistemnya level 5 tanpa perlu hardware baru.

"Saya sangat yakin bahwa level 5 atau otonomi yang lengkap akan terjadi dan saya pikir akan terjadi sangat cepat. Saya merasa kami sangat dekat," katanya dalam siaran video di ajang World Artificial Intelligence Conference di Shanghai.

"Saya percaya kami akan memiliki fungsionalitas dasar untuk level 5 yang selesai tahun ini. Tidak ada tantangan fundamental lagi. Adanya adalah banyak masalah-masalah kecil," lanjutnya.

"Dan ada tantangan untuk memecahkan semua masalah kecil itu dan memadukan semua sistem menjadi satu," tambah Musk.

Namun demikian bukan berarti teknologi itu bisa cepat digunakan oleh masyarakat umum. Terutama karena masih kurangnya regulasi soal mobil otonom di banyak negara.

Terowongan Anti Macet

Perusahaan Boring Company milik Elon Musk sudah memamerkan prototipe terowongan bawah tanah untuk mobil yang anti macet. Terowongan ini memang ditujukan untuk mengurangi kepadatan jalan perkotaan, terutama di Los Angeles, tempat tinggal sang triliuner.

Elon menyatakan mobil listrik dengan modifikasi akan diturunkan ke terowongan itu dan dapat melaju sampai 240 kilometer per jam.

Bagaimana sebenarnya cara kerjanya? Mobil akan diturunkan ke terowongan dengan lift kemudian dipasangkan pada jalurnya. Mobil itu bisa melaju dengan kecepatan tinggi secara otonom berkat tenaga listrik dan ban khusus.

"Sederhana saja, terowongan ini dapat mengubah mobil normal menjadi kendaraan pasif yang stabil dengan menambahkan roda dengan stabilisasi sehingga dapat melesat di terowongan sempit," kata Elon.

"Kalian bisa berjalan tanpa henti 240 kilometer per jam dan hanya melambat ketika ingin keluar, lalu secara otomatis ditransfer ke terowongan lain," paparnya.

Musk berharap solusi anti macetnya ini bisa diterapkan secara luas, khususnya di Los Angeles. Prototipe terowongan yang dipamerkan Elon terletak di bawah kantor pusat Tesla di wilayah Hawthorne, California.

(fyk/afr)