Para Mimin Facebook di Mata Dewan Pengawas

Konten Facebook Diawasi

Para Mimin Facebook di Mata Dewan Pengawas

Fitraya Ramadhanny - detikInet
Sabtu, 16 Mei 2020 21:30 WIB
Ilustrasi Facebook
Para Mimin Facebook di Mata Dewan Pengawas (Foto: istimewa)
Jakarta -

Para admin Facebook bekerja keras sampai stress dalam mengawal konten negatif yang beredar setiap hari. Bagaimana dewan pengawas yang baru dibentuk melihatnya?

Baru-baru ini, pengadilan memutuskan agar Facebook memberikan kompensasi uang untuk para admin yang mengalami stress karena terpapar konten negatif yang harus mereka bersihkan dari Facebook. Tugas admin memang berat luar biasa.



Dengan 2,4 miliar pengguna, Facebook menghadapi masalah konten yang bisa melanggar HAM, pornografi, hoax, ujaran kebencian, terorisme, radikalisme dll. Artificial Intelligence dan 35 ribu admin di seluruh dunia tidak cukup untuk membendung itu semua.

Itu sebabnya pada 7 Mei 2020, Facebook mengumumkan adanya Facebook Oversight Board. Mereka terdiri dari 20 anggota pakar independen dari seluruh dunia. Indonesia diwakili oleh wartawan senior Endy Bayuni.

Dewan pengawas ini akan bekerja secara independen memantau konten Facebook. Mereka bertindak sebagai mahkamah banding untuk memutuskan nasib konten Facebook yang dilaporkan pengguna.

Namun menurut Endy, mereka tidak bisa secara langsung membantu para mimin Facebook. Mimin Facebook adalah karyawan sedangkan Oversight Board adalah dewan independen yang merupakan perusahaan terpisah.



"Oversight Board itu bukan karyawan Facebook, kita terpisah," kata Endy dalam wawancara dengan detikINET, Sabtu (16/5/2020).

Namun secara tidak langsung, dewan pengawas di masa depan bisa memudahkan kerja pada mimin. Oversight Board memantau dan memberi keputusan untuk konten Facebook yang digugat pengguna. Hasil keputusan dewan ini harus dipatuhi Facebook dan jadi preseden untuk panduan konten di masa depan.

"Admin itu masalah internal Facebook. Kita juga punya admin untuk menyortir kasus-kasus yang harus ditangani," kata Endy.

Oversight Board berkantor di Washington DC, San Fransisco dan London. Anggota dewan berkerja secara online dan melakukan pertemuan berkala. Karena pandemi Corona, menurut Endy ke-20 anggota dewan belum pernah bertemu muka sejak diumumkan ke publik.

"Kita butuh waktu sekitar 3 bulan, harus kenal 1 sama lain. Akhir September atau awal Oktober kita bisa mulai terima kasus," kata editor senior Jakarta Post ini.



Simak Video "Konten Spiritual Jadi yang Paling Banyak Dicari di Facebook"
[Gambas:Video 20detik]
(fay/fay)