Beda Cara, Developer Asal Kediri Ini Giat Bangun Desa

Beda Cara, Developer Asal Kediri Ini Giat Bangun Desa

Mutiara Arum Sari - detikInet
Minggu, 10 Mei 2020 17:00 WIB
developer lokal
Beda Cara, Developer Asal Kediri Ini Giat Bangun Desa. Foto: Dicoding
Jakarta -

Saifulloh Azhar (28 tahun) punya visi mewujudkan desa pintar lewat teknologi. Nian, begitu sapaannya, memilih jalan berbeda untuk memajukannya desanya.

Saat mayoritas teman-temannya di desa Bangkok, Kediri bertani di ladang atau berdagang, Nian bermata pencaharian sebagai web developer. Kantornya, PT Dakon, berlokasi di Surabaya. Ia bekerja dari rumah.

Nian dulu berkuliah di STT Cahaya Surya Kediri. Jurusannya, S1 Teknik Informatika. Hobinya bisa ditebak, ngoding. "Mungkin hanya saya sendiri developer di daerah saya," ungkap Nian.

Anak ke-2 dari dua bersaudara ini juga mengaku kerap disangka pengangguran. Pasalnya, sehari-hari ia hanya di depan laptop. Tidak terbayangkan oleh orang-orang di sekitarnya, ada pekerjaan semacam developer.

TO GO WITH Lifestyle-Asia-Internet-economy-retail,FOCUS by Simin WangThis photo taken on April 26, 2011 shows an Internet user surfing a group-buying online coupon website in Singapore. Innovative Ilustrasi akses internet. Foto: Getty Images



Masalah di desa yang belum melek digital

Asli anak desa, Nian sering merasa gemas melihat desanya. Kampungnya yang terletak 14 km dari pusat kota Kediri belum tersentuh kemajuan digital. Terutama dalam hal tata kelola pemerintahan di sana.

Beberapa masalah di desanya antara lain:

  • Minimnya Penyebaran Informasi

Informasi tentang pelayanan administrasi sempat tak sampai kepada warga secara keseluruhan. Akibatnya, banyak warga tak tahu tentang program-program administrasi yang dilakukan secara kolektif

  • Kurangnya Transparansi

Tanpa digitalisasi, sulit wujudkan transparansi. Warga tak bisa memantau akuntabilitas penggunaan anggaran dan kinerja aparatur setempat. Satu-satunya mekanisme transparansi anggaran, contohnya, hanya berbentuk baliho berisi laporan penggunaan anggaran. Sistem lama seperti ini tentunya sudah usang.

Tapal BatasIni Jadinya Bila UN Berbasis Komputer Diadakan di Sekolahan Tepi HutanUjian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tentu mensyaratkan perangkat komputer yang bagus, jaringan internet yang stabil, dan para siswa yang paham pengoperasian internet. Begini jadinya ketika UNBK coba diterapkan di pojok Merauke.SMK Negeri 1 Sota, terletak di Jalan Trans Papua, 79 Kilometer jauhnya dari Kota Merauke, detikcom mengunjungi sekolah ini pada Rabu (10/5/2017).Sekolah ini terletak di lingkungan tepi Taman Nasional Wasur. Kiri dan kanan pemandangan adalah hutan, rawa, dan semak belukar. Gapura hijau dan senyum ramah siswi SMK menyambut kami.Pelaksana tugas (Plt) Kepala Sekolah SMK Negeri1 Sota, Arnoldus Asgon, menyambut dengan jabat tangan di saung dari kayu bus beratap jerami depan gedung. Dia mengatakan rumput di sini tinggi karena vegetasi memang cepat tumbuh. Di salah satu sudut, terdapat bomi setinggi 2 meter. Bomi adalah rumah musamus, semut Merauke. Kadang-kadang, kanguru Papua alias saham, rusa, hingga babi hutan lewat di sekolahan. Namun binatang-binatang penghuni Taman Nasional Wasur itu jarang menampakkan diri bila hujan masih sering turun seperti di awal bulan Mei ini.Meski letak sekolahan ini berada di pinggir hutan, bukan berarti sekolahan ini jauh dari teknologi informasi. Internet dari Telkomsel sudah ada sejak Juli 2016 di sini. Menara sinyal selular tinggi menjulang di dekat gedung. Arnoldus kemudian menceritakan pengalaman pertama sekolah ini menggelar UN Berbasis Komputer.Ilustrasi melek digital. Foto: detikcom

Visi desa melek digital

Salah satu penyebab masalah di atas adalah sulitnya menemukan profesional di bidang IT di daerah.

"Desa kekurangan SDM karena lulusan SMK/S1 yang ada tak mumpuni. Teknologi yang dipelajari di sekolah atau kampus, sudah usang. Masih ada yang pakai Java, cordova," tutur Nian.

Karena itulah, Nian bertekad meningkatkan kapasitas developer lokal. Ia sendiri suka mencari pengalaman dan relasi sesama developer. Menurutnya, peluang di Kediri sebenarnya cukup besar.

Pada 2017 ia sempat mencetuskan Komunitas Android bernama Paguyuban Android Developer Kediri Academy. Bertahan 2 tahun, komunitas ini merangkul 25 developer setempat.

Menurut Nian, berbagi di komunitas sangat membahagiakan. Apalagi ketika rekannya yang berlatar belakang non-IT berhasil menguasai published admob. Dengan jumlah profesional IT yang bertambah dan solid di Kediri, apa tujuan Nian?

"Saya ingin mewujudkan desa pintar di kampung saya," ujarnya.

Desa pintar adalah desa melek digital di mana para warganya bisa mendapatkan kemudahan pelayanan lewat fasilitasi IT. Warga bisa memperoleh informasi dan mengakses transparansi tata kelola desa dengan bantuan teknologi secara terintegrasi.

Berbagai cara telah ia lakukan untuk merealisasikannya. Bekal lulus dari program Google Developers Kejar (GDK) 2018 di platform Dicoding dua tahun silam, ia membuat aplikasi bernama Sipedah Jamsaren.

Aplikasi ini memudahkan warga mengurus surat keterangan. Tepatnya di kantor kelurahan Jamsaren di Kediri Timur. Dulu, warga harus bolak-balik minimal 2-3 kali untuk mendapatkan surat-surat administrasi kependudukan.

Dengan adanya aplikasi ini, warga Jamsaren cukup mengisi detail permintaan penerbitan surat di aplikasi Sipedah tersebut. Aparatur desa akan memproses dan menginformasikan kepada warga jika surat sudah selesai.

Alhasil, layanan buatan Nian ini memangkas waktu tunggu, birokrasi, serta mengurangi potensi korupsi. Keren kan?

Masuk tahun ke-3, sistem pelayanan online ini masih aktif berfungsi di desa santri tersebut.

developer lokalAplikasi Sipedah Jamsaren buatan Nian. Foto: Dicoding

Ingin terus berbagi dengan developer setempat

Nian tak ingin sukses sendirian. Dulu, selepas belajar Kotlin di program GDK 2018, ia mengajari penerapan source code Kotlin pada rekan-rekannya.

Mereka rata-rata terpana saat ditunjukkan perbandingan aplikasi buatannya yang berbasis Java vs Kotlin, karena jauh berbeda.

Lulusan beasiswa Alcatel Lucent Enterprise ini mengaku puas. Ia ingin selalu berbagi keahliannya untuk mencetak developer andal dari kotanya. Berikutnya, bersama Kominfo pusat ia akan fokus di program SMK Coding untuk melatih anak-anak SMK di Kediri.

Di Komunitas Bahasa Koding, ia juga mengajarkan anak-anak muda belajar bahasa pemrograman. Dan bertepatan dengan Ramadhan 2020 ini, ia isi hari-harinya dengan program 'sedekah skill' untuk umum.

"Manfaat sekali belajar di Dicoding. Lebih relevan daripada browsing sendiri atau masuk ke forum-forum programmer online yang bikin coding jadi gado-gado. Di Dicoding, tidak," ujarnya.

Ia pun berharap, developer di kota kecil sepertinya dapat dukungan untuk maju. Kebanyakan SDM di desa sangat potensial tapi tak ada sarana.

Karena itu, Nian berupaya terus berbagi dan menyebarkan informasi bermacam beasiswa dan kelas gratis yang ada di Dicoding.

Mengenal profil developer desa seperti Nian, sebutan ini tepat sekali untuknya: think global act local!

* Tulisan ini merupakan salah satu artikel di Dicoding, platform pengembangan ekosistem developer di Indonesia.



Simak Video "CEO Apple Apresiasi Wisudawan 'Apple Developer Academy' Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)