Senin, 17 Feb 2020 11:38 WIB

Skullbreaker Challenge di TikTok yang Berbahaya, dari Mana Asalnya?

Rachmatunnisa - detikInet
LOS ANGELES, CA - AUGUST 01: A general view of the atmosphere during the TikTok US launch celebration at NeueHouse Hollywood on August 1, 2018 in Los Angeles, California. (Photo by Joe Scarnici/Getty Images) Skullbreaker Challenge di TikTok yang Berbahaya, dari Mana Asalnya? Foto: Joe Scarnici/Getty Images
Jakarta -

Para orang tua dibuat resah dengan tren skullbreaker challenge. Tantangan yang sedang viral di TikTok ini sangat berbahaya, bisa membuat cedera, patah tulang, lumpuh, gegar otak, bahkan meninggal dunia.

Nama tantangan ini berasal dari kata berbahasa Spanyol yaitu "Rompcráneos" yang artinya "Pemecah Tengkorak". Tidak diketahui siapa yang pertama kali memulai tantangan yang punya nama lain tripping jump challenge ini. Yang jelas, skullbreaker challenge saat ini sedang trending di wilayah Eropa dan Amerika Selatan.

Bukan tidak mungkin jika tren ini merambah ke wilayah lain, termasuk Indonesia. Hashtag #Skullbreakerchallenge bahkan diketahui sempat menjadi trending topic di TikTok selama beberapa hari belakangan.

Tantangan ini mengharuskan 3 orang berderet dan meloncat. Saat sedang meloncat, orang di samping kiri dan kanan sambil menendang kaki orang yang di tengah agar jatuh. Korban jatuh biasanya akan jadi bahan tertawaan dengan harapan cara jatuh mereka lucu. Alih-alih sebagai hiburan, aktivitas ini justru membahayakan.

Dirangkum detikINET dari berbagai sumber, tantangan ini dilaporkan menyebabkan cedera pengguna TikTok di Amerika Serikat dan Meksiko bahkan sampai berurusan dengan polisi. Skullbreaker challenge telah memakan banyak korban di berbagai negara.

Korbannya antara lain seorang anak sekolah di Venezuela, dua remaja di Kanada, satu remaja di Ozark, Alabama, AS, hingga satu anak di Miami, AS. Mereka merupakan korban beragam kasus skullbreaker challenge dari mulai cedera hingga dirawat di rumah sakit.

Mencegah agar tren skullbreaker challenge tidak semakin meluas, di Indonesia sendiri, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Divisi Humas Polri sudah mengeluarkan imbauan agar pengguna media sosial tidak ikut meramaikan tren berbahaya ini.



Simak Video "Pensiun Main TikTok, Ini Kesibukan Bowo Alpenliebe"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fyk)