Kebiasaan-kebiasaan Anak Zaman Old Waktu Belanja ke Warung

Kebiasaan-kebiasaan Anak Zaman Old Waktu Belanja ke Warung

Faidah Umu Sofuroh - detikInet
Kamis, 06 Feb 2020 21:15 WIB
Menkop dan UKM, Teten Masduki membuka gelaran Festival Gerakan Warung Nasional, di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (14/12). Acara ini berlangsung hingga besok.
Ilustrasi warung/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Dahulu warung atau toko kelontong menjadi pilihan utama untuk membeli belanjaan bulanan seperti beras, minyak dan sabun. Letaknya yang dekat dengan rumah serta barang-barang yang dijual cenderung murah menjadi alasan orang-orang tak bisa lepas dari keberadaan warung.

Warung juga menjadi tempat favorit anak-anak untuk membeli jajan. Sadar atau tidak, dahulu saat anak-anak berbelanja di warung ada kebiasaan-kebiasaan unik yang selalu dilakukan. Ini dia kenangan tentang kebiasaan-kebiasaan anak zaman old waktu belanja atau jajan di warung tradisional.

Mengetuk Etalase dengan Koin

Saat membeli jajan ke warung, anak-anak biasanya membawa uang recehan. Biasanya, koin itu dipakai untuk mengetuk etalase warung agar si penjual keluar. Kebiasaan ini pasti masih membekas di ingatan dan bahkan masih sering dilakukan.

Berteriak 'Beliiiii'

Jika si penjual tak kunjung datang, kebiasaan selanjutnya yang sering dilakukan yakni berteriak 'beliiiii' di depan warung. Kemudian, dengan cepat si penjual pasti akan muncul untuk melayani pembeli.

Memainkan Beras

Siapa di sini yang suka memainkan beras saat berbelanja ke warung? Kamu nggak sendirian, kok. Faktanya, kebiasaan ini juga banyak dilakukan oleh anak-anak di Indonesia.

Menaruh Pemberat ke Timbangan Bebek

Tak hanya membeli jajanan, anak-anak juga terkadang dimintai tolong untuk membeli beras atau telur di warung. Nah, warung zaman dulu masih menggunakan timbangan bebek yang menggunakan alat pemberat, anak-anak zaman old biasanya usil menaruh pemberat ke timbangan itu.

Itu dia kebiasaan-kebiasaan unik anak-anak saat berbelanja di warung yang masih melekat dalam ingatan. Bahkan hingga saat ini, kebiasaan-kebiasaan itu mungkin masih kerap dilakukan.

Bisa juga sekarang muncul kebiasaan-kebiasaan baru. Sebab, saat ini warung tradisional juga sudah berubah bentuk menjadi lebih modern, rapi, dan bersih. Tak hanya berubah penampilan, warung tradisional saat ini juga sudah go digital.

Apalagi semenjak ada GrabKios, banyak warung yang berbenah menjadi warung yang lebih baik. Head of GrabKios, Agung Nugroho menyebut UKM seperti warung tradisional memiliki andil sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

Oleh karena itu, GrabKios memfasilitasi para pelaku UKM dan warung tradisional dengan berbagai produk dan layanan. Semakin banyak kemudahan dan layanan yang ditawarkan, tentunya dapat meningkatkan pendapatan para mitra GrabKios.

Inovasi GrabKios dalam 'mendigitalkan' warung tradisional itu antara lain melalui pengurangan beban biaya usaha, penyediaan tambahan modal usaha dan layanan keuangan, serta perluasan jenis layanan yang ditawarkan oleh warung.

Adapun beberapa layanan baru yang ditawarkan warung yang ikut GrabKios antara lain layanan beli pulsa dan bayar tagihan, layanan kirim uang, layanan daftar mitra pengemudi, layanan sembako, layanan proteksi hp, kirim paket hingga nabung emas.

Sejak 2014 hingga saat ini GrabKios telah memberdayakan lebih dari 2,8 juta mitra GrabKios dengan jaringan yang tersebar di lebih dari 505 kota/kabupaten di seluruh Indonesia. Jumlah wirausahawan mikro dan bisnis skala kecil tersebut diproyeksi dapat meningkat 1 juta mitra GrabKios pada 2021.

(prf/fay)