Kamis, 16 Jan 2020 15:55 WIB

Kisah Wanita 27 Tahun yang Duduki Posisi Strategis di Startup OVO

Alfi Kholisdinuka - detikInet
Foto: OVO
Jakarta - Mengemban pendidikan dan karir sejak dini di Singapura dan Australia, tidak membuat Shirly Hardjono ragu untuk kembali dan bekerja di Indonesia. Perempuan 27 tahun ini rela melepaskan kesempatan besarnya untuk terus membangun karier di kancah internasional dengan memilih memberi dampak bagi Indonesia.

"Indonesia merupakan negara dengan perekonomian terbesar dan berkembang pesat di Asia Tenggara, dengan populasi empat terbesar di dunia lebih dari 260 juta, (tentu) prospek ekonomi Indonesia sangat optimis ke depannya," ujar Shirly dalam keterangan tertulis, Kamis (16/1/2020).

Perempuan yang pernah bekerja di konsultan global di Singapura ini menegaskan bahwa keputusannya bekerja di perusahaan startup berbasis teknologi seperti OVO sebagai Chief Of Staff merupakan tantangan baru bagi generasi milenial seperti dirinya.


"Meskipun industri financial services di Indonesia telah berkembang pesat, masih banyak ruang di Indonesia untuk tumbuh. Terlihat dari penetrasi perbankan tetap rendah pada ~50% dan transaksi penggunaan uang tunai masih mendominasi (~60%). Saya percaya industri ini akan menguasai banyak lapangan pekerjaan di Indonesia," ungkapnya.

"Selain itu, tekfin merupakan industri yang berpotensi mendorong laju ekonomi Indonesia. Saat bergabung dengan OVO, fokus kami adalah melayani dan bekerja. Namun, belum genap dua tahun hadir di Indonesia, OVO mendadak dianggap sebagai unicorn ke-5 di Indonesia. Meski demikian, pengakuan ini hanyalah permulaan. OVO berkomitmen untuk terus melakukan inovasi guna memberikan akses keuangan yang merata di Indonesia," imbuhnya.

Sebagai karyawan yang tergolong muda di OVO, menurutnya, kematangan pribadi, tidak selalu ditentukan oleh usia. Pengalaman dan pembelajaran dari manajemen senior di sekelilingnya juga membuatnya menjadi pribadi yang gigih dan tidak pernah berhenti belajar. Bahkan Shirly menegaskan bahwa generasi milenial kini semakin berkontribusi di industri Tanah Air.

"Saya yakin banyak sekali generasi muda Indonesia yang memiliki kemampuan untuk menghadapi revolusi industri 4.0," tuturnya.


Kesuksesan seseorang bagi Shirly adalah bukan hanya melulu soal pengembangan karier. Sukses adalah berhasil memberikan manfaat yang lebih bagi lingkungan sekitar dan dampak positif bagi Indonesia.

Pendidikan yang diemban selama ini di luar negeri, menjadikan motivasi bagi Shirly untuk kembali ke Tanah Air dan bahu-membahu membangun Indonesia. Shirly menambahkan, bekerja tim dan memiliki pola pikir untuk dapat memberikan dampak positif kepada orang lain juga menjadi hal yang penting untuk dilakukan.

(akn/fay)