Kamis, 09 Jan 2020 22:15 WIB

Pendapatan Edar Film dari Platform Digital Salip Televisi

Adi Fida Rahman - detikInet
Netflix. Foto: detikINET/Irna Prihandini
Jakarta - Platform digital kini berperan besar dalam memberikan tambahan pundi-pundi pendapatan bagi perusahaan film. Bagaimana tidak pendapatan edar film dari platform digital lebih disebut tinggi dari televisi.

Demikian diungkap Sheila Timothy, sineas dan perwakilan Asosiasi Produser Film Indonesia saat berbincang usai pengumuman kolaborasi Netflix dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, Kamis (9/1/2019).

Dijelaskannya pengembalian modal dari sebuah film berasal dari bioskop, penayangan di televisi free to air (FTA), air line dan platform digital. Sampai sekarang bioskop masih paling berkontribusi, besarannya mencapai 60-70%.


Hingga 2016, pembelian lisensi oleh stasiun televisi memberikan pemasukan terbesar kedua. Diikuti dengan platform digital dan penayangan di pesawat.

Semula jarak antara lisensi televisi dan platform digital itu terpaut jauh. Namun mulai 2017 kian menipis. Puncaknya pada 2019, platform digital berhasil menyalip.

"Kini platform digital penyumbang kedua terbesar setelah bioskop," kata Sheila.

Peningkatan ini tidak terlepas makin luasnya distribusi. Selain itu didorong oleh makin banyaknya penyedia layanan dan kualitas broadband makin bagus.

"Pengguna makin banyak, income untuk untuk penyedia layanan makin banyak sehingga mereka bisa beli lebih tinggi lagi film-film," kata Sheila.

Dia berharap hadirnya platform digital luar tidak dianggap musuh atau penjajah. Sebab mereka punya personality yang unik,

"Mereka mencari film-film lokal untuk menarik audience lokal. Justru kehadiran mereka memungkinkan kita untuk mengembangkan kultur. Makanya Netflix membuat original content per negara," pungkas produser film Wiro Sableng ini.



Simak Video "Kominfo Minta Netflix Perbanyak Film Lokal, Kemenparekraf Mendukung"
[Gambas:Video 20detik]
(afr/fyk)