Senin, 02 Des 2019 19:35 WIB

Kebiasaan yang Bikin Startup Sulit Berkembang

Aisyah Kamaliah - detikInet
Ilustrasi. Foto: Oli Scarff/Getty Images Ilustrasi. Foto: Oli Scarff/Getty Images
Jakarta - Ada kebiasaan kurang bagus di dunia startup menurut Hans Kurniadi Saleh selaku Country Director Garena. Ia menyebut sebagian terbiasa untuk latah mengikuti yang lain, yang diibaratkannya sebagai fotokopian.

"Makin banyak dikopi makin banyak yang kurang jelas sehingga artinya apa? Makin tidak jelaskan untuk mampu lebih unggul dari saingannya. Nah di gerakan 1.000 startup itu, tidak semua orang bisa menjadi kreator, inovator," ujarnya di Telco Outlook 2020, Jakarta, Senin (2/11/2019).

Di sisi lain, membuat startup mungkin mudah, tapi yang lebih sulit lagi adalah mempertahankan atau merawatnya. "Menciptakan itu gampang, yang susah itu adalah maintain-nya," tambah Hans.


Menurut Hans, ketika ada startup yang bagus sebaiknya diberikan apresiasi dengan bentuk insentif sehingga dapat berkembang menjadi lebih besar. Suntikan dana bisa jadi salah satu bentuknya.

"Tapi bea import masuk komputer itu lebih tinggi, jadi untuk kita ngeluarin duit untuk investasi itu lebih banyak dari Amerika. Tadinya disuruh lari, tapi dihambat sama pajak," keluhnya.

Mengutip startupranking.com, Indonesia menempati urutan ke-6 dunia startup terbanyak, tepatnya dengan jumlah 1.902 startup setelah Amerika Serikat, India, Inggris, Kanada dan Jerman. Dari banyaknya startup tersebut, beberapa sudah berstatus unicorn seperti Bukalapak, Traveloka, Tokopedia, dan OVO.

Sementara itu, Gojek berhasil menjadi decacorn mengimbangi Grab yang berasal dari Malaysia pada Juli 2019. Akankah ada startup lainnya yang akan menyusul Tokopedia atau bahkan Gojek?

Simak Video "Menkominfo Sebut Startup Pendidikan Sebagai Calon Kuat ''The Next Unicorn''"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fay)