Jumat, 04 Okt 2019 20:36 WIB

KataHack, Hackathon untuk Cari Inovasi Solusi AI

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Foto: Dok. Kata.ai Foto: Dok. Kata.ai
Jakarta - Kata.ai menginisiasi hackathon bernama KataHack, yang bertujuan untuk mencari inovasi terbaru di bidang kecerdasan buatan alias AI.

Kata.ai sendiri adalah startup teknologi Indonesia yang menyediakan solusi kecerdasan buatan yang memanfaatkan AI dan natural language processing dalam bentuk chatbot berbahasa Indonesia.

Dalam acara yang terbuka untuk publik ini, setiap peserta diundang untuk berkompetisi dalam tim untuk memecahkan permasalahan bisnis maupun teknologi dengan solusi berbasis kecerdasan buatan yang dibuat dengan teknologi platform yang disediakan oleh Kata.ai.

"Tujuan dari KataHack adalah untuk melatih para talenta muda Indonesia tentang pemikiran kritis, kreativitas, dan semangat problem-solving yang mengandalkan solusi AI. Kami ingin mengajak mereka berkreasi untuk mengembangkan solusi yang komprehensif dari masalah bisnis atau masalah IT yang sering kita jumpai sehari-hari. Harapannya, kami bisa mendorong lebih banyak generasi muda untuk memahami dan mendalami pengaplikasian AI ke berbagai sektor usaha di Indonesia," kata Pria Purnama, Vice President of Product & Engineering Kata.ai dalam keterangan yang diterima detikINET.


Untuk mendaftar, tim perlu mengumpulkan proposal berupa pitch deck sederhana berisi data diri anggota, penjelasan singkat tentang solusi kecerdasan buatannya, spesifikasi produk, spesifikasi teknis, dan penjelasan singkat teknologi Kata.ai yang akan digunakan.

"Jika proposal pitch deck dinyatakan lolos, maka peserta bisa langsung mengembangkan ide solusi mereka dalam waktu dua minggu, yaitu dari 14 hingga 24 Oktober 2019. Peserta akan dinilai berdasarkan orisinalitas, nilai bisnis atau sosial, penggunaan teknologi Kata.ai, dan implementasi dari solusi AI yang diusulkan," jelas Pria.

Irzan Raditya, CEO dan founder Kata.ai percaya dengan potensi perkembangan taraf hidup yang dibawakan oleh teknologi AI di Indonesia. Meski begitu, adopsi AI di Indonesia masih terbilang rendah.

Menurut studi yang dilakukan oleh Microsoft dan IDC Asia/Pasifik, hanya 14% dari organisasi di Indonesia yang telah benar-benar mengadopsi teknologi kecerdasan buatan. Hal ini disebabkan masih banyaknya pandangan skeptis terhadap performa kecerdasan buatan di Indonesia.

"Indonesia merupakan pasar yang sangat berpotensi untuk menikmati manfaat chatbot, melihat tingginya tingkat penetrasi mobile dan messaging. Kami yakin bahwa kehadiran solusi AI dapat membuat orang-orang lebih maju, sehingga mereka bisa melakukan pekerjaan yang lebih bermakna dan pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan" jelasnya Irzan dalam keterangan yang sama.

Irzan, Pria, dan tim Kata.ai melihat rendahnya tingkat adopsi ini sebagai sebuah tantangan tersendiri untuk meraih kepercayaan dari industri bisnis. Sebagai pionir dalam pengembangan solusi berbasis AI, Kata.ai telah berhasil menciptakan dan mengembangkan layanan chatbot untuk beberapa perusahaan besar.

Chatbot terbaru yang dikembangkan dengan teknologi Kata.ai adalah INDIRA dari Indosat Ooredoo. Chatbot yang diumumkan oleh Indosat Ooredoo pada Hari Pelanggan Nasional ini telah mengurangi waktu tunggu (menanggapi pertanyaan pelanggan) secara signifikan dan secara langsung meningkatkan kepuasan pelanggan terhadap layanan Indosat Ooredoo.

Setiap bulannya, lebih dari 600.000 orang berinteraksi dengan dan menggunakan layanan chatbot yang dibangun oleh platform Kata.ai. Selain itu, Kata.ai juga mencatat lebih dari 580 juta pesan interaktif yang terkirim antara layanan chatbot dan pengguna. Angka-angka ini menunjukkan bahwa masyarakat di Indonesia telah memiliki kesiapan untuk mengadopsi teknologi AI secara lebih luas.

"Di Kata.ai, kami percaya bahwa kecerdasan buatan merupakan kunci yang penting untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya dalam berbisnis. Melalui hackathon ini, kami ingin mengakselerasi perkembangan dan adopsi AI di Indonesia, supaya tidak kalah dengan negara-negara lain, terlebih kini Indonesia sudah dikenal sebagai rumah dari ratusan startup teknologi yang potensial.

Oleh karena itu, kami ingin menggunakan momentum ini untuk meningkatkan keterampilan dan talenta muda Indonesia terhadap AI," ungkap Irzan.



Simak Video "Breathe and Feel alive In Auckland"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fyk)