Kamis, 03 Okt 2019 12:41 WIB

7 Hal yang Sering Ditanyakan Investor pada Founder Startup

Rachmatunnisa - detikInet
Ilustrasi startup. Foto: Internet Ilustrasi startup. Foto: Internet
Jakarta - Saat ini, banyak investor tertarik dengan startup yang berada di tahap early stage. Data Cento VC memperlihatkan pendanaan tahap awal di pertengahan 2019 cukup signifikan dibandingkan 2016-2018 yang relatif datar pergerakannya.

Adapun early stage adalah kondisi di mana sebuah startup sudah memiliki produk final, sudah ada pasarnya, dan menghasilkan GMV (gross merchandise value) atau transaksi dan ingin melakukan ekspansi.

Pegiat startup sekaligus angel investor Victo Glend menyebutkan, dirinya sering berdiskusi dengan beberapa rekan sesama investor. Alasan investor tertarik mendanai startup early stage hampir sama, yaitu karena deal per startup yang relatif kecil atau di bawah USD 500 ribu dengan equity yang tinggi.



"Saya sering bertemu dengan beberapa startup yang sedang mencari pendanaan tahap awal. Namun ketika berdiskusi dan menggali lebih dalam tentang bisnis mereka, seringkali sebuah startup terlalu menjual mimpi dibandingkan produk," kata Victo.

Dari pengalamannya tersebut, Victo merangkum 7 hal yang bisa menjadi kesalahan fatal dilakukan founder startup ketika mencari pendanaan. Berikut ini poin-poinnya.


7 Hal yang Sering Ditanyakan Investor pada Founder Startup Foto: Oli Scarff/Getty Images


1. Keunikan ide bisnis?


Apa yang membedakan kamu dengan kompetitor? Sering sekali ada beberapa startup yang sebenarnya hanya mengikuti ide yang sudah ada, sehingga tidak ditemukan perbedaan.

Namun sebenarnya, kebanyakan para investor lebih tertarik dengan harga layanan yang ditawarkan. Karena dari harga tersebut, dapat ditentukan apakah harga tersebut rasional atau layak diterima pasar?, seberapa besar kemungkinan untuk diserap oleh pasar?, apakah bisa bundling harga? dan semacamnya.


2. Siapa foundernya?

Banyak dari beberapa investor juga mempertanyakan tentang latar belakang dari founder itu sendiri. Hal ini dikarenakan investor ingin tahu tentang track record dari para founder.

Terkadang selain menanyakan pendidikan, pengalaman, investor juga mengulik hingga ke masalah personal seperti background keluarga, impian si founder dan lain-lain. Hal ini sangat penting bagi investor sebelum mempercayakan uangnya ke sebuah startup di tahap awal.



"Banyak kami temukan startup yang tidak layak di-invest hanya karena salah satu founder di awal berdiri tidak full time di startup yang dia bangun. Secara gampang, investor hanya membeli idenya saja, hal ini tentu merugikan bagi investor," kata Victo.

Pria yang juga menjabat sebagai Strategic Business Analyst and Development Manager Jakarta Notebook ini juga mengatakan, banyak sekali startup yang tidak berkembang karena foundernya tidak fokus pada startup.

"Hal ini juga menjadi salah satu pertimbangan kuat, walaupun startup itu terdiri dari beberapa orang dan hanya satu orang yang tidak full time, maka tetap tidak layak diinvest," ungkapnya.


3. Bagaimana dengan market size?

Terkait market size, biasanya akan ditanya beberapa hal seperti apakah ada fitur baru? Apakah perusahaan ini bisa dikolaborasikan dengan bisnis lain? Apakah startup ini dapat scale dengan waktu yang cepat?

Dalam pertanyaan ini, sering kali investor menanyakan beberapa metriks tergantung dari indsutri apa yang dimasuki oleh startup tersebut, misalnya jumlah user, GMV, total subscribe, partner, klien dan lain lain tergantung dari industrinya.


4. Apa strategi agar menghasilkan profit?

Hal ini sangat penting, karena akan menentukan apakah perusahaan ini bisa mempertahankan bisnisnya dalam jangka panjang atau tidak.

"Kerap saya temukan startup hanya fokus pada akuisisi sehingga melupakan profit untuk mempertahankan bisnisnya. Burn money tentu dibutuhkan, tetapi perlu digarisbawahi bahwa founder harus menjelaskan berapa lama akan membakar uang tersebut, berapa lama siklus cash flow jika di berikan pendanaan baru, lalu bagaimana cara bakar uang tetapi menghasilkan omzet berkali-kali lipat," terang Victo.

Karena pada prinsipnya, investor bukan pencetak uang yang setiap kali startup kehabisan uang untuk menjalankan bisnisnya, lalu dengan gampang meminta lagi.

"Investor juga menggunakan uang dari kantong sendiri. Jadi prinsipnya, saya tidak mau kasih uang kepada orang yang tidak bertanggung jawab untuk menghasilkan profit nantinya," tegasnya.


7 Hal yang Sering Ditanyakan Investor pada Founder Startup Ilustrasi. Foto: Ari Saputra


5. Berapa Valuasi perusahaan kamu?

Sejumlah startup kadang tidak mengerti bagaimana cara melakukan valuasi perusahaanya. Alhasil, valuasi mereka banyak yang tidak masuk akal dan tidak menggambarkan kondisi perusahaannya.

Secara sederhana, valuasi adalah harga yang ditawarkan ke pasar modal yang nantinya akan dijadikan patokan harga jual perusahaan. Contohnya, perusahaan A mencari investasi baru sebesar USD 150 ribu dengan memberikan 10% equity atau saham.

Memang dana sebesar itu tidak terlalu besar, namun bagaimana dengan equity-nya? Tentu menilai apakah investasi tersebut mahal atau tidak tergantung dari kondisi finansialnya.

Jika ternyata startup masih belum bisa menghasilkan profit atau income, maka harga USD 150 ribu dirasa sangat mahal sehingga biasanya mereka akan menaikan equity.

Dengan demikian, founder harus berhati-hati dalam menentukan valuasi startup agar investor lebih yakin dan mantap untuk berinvestasi. Tunjukkan data finansial atau projection, lalu gunakan pendekatan apa saja untuk mendapatkan data tersebut.


6. Strategi mengembangkan bisnis?

Investor juga perlu kejelasan langkah apa yang ingin kamu ambil untuk mengembangkan bisnis tersebut. Tanpa perencanaan yang matang, tentu akan membuat investor sulit memprediksi seberapa cepat startup dapat tumbuh.

Oleh karena itu, siapkan rencana apa saja yang ingin dilakukan, baik dari biaya yang akan dikeluarkan ke marketing, development, operation, dan lain-lain.

Dengan adanya data ini, investor akan lebih gampang memprediksi perkembangan startup dan menentukan bagian mana yang seharusnya difokuskan oleh founder sehingga lebih efisien dalam menggunakan pendanaan tersebut.


7. Jangan memaksa, namun terus jalin komunikasi

Poin terakhir sebenarnya bukan sebuah pertanyaan, tapi bisa menjadi masukan supaya kalian lebih mantap ketika berhadapan dengan calon investor.

Para founder harus selalu siap untuk ditolak oleh para investor. Sebenarnya, investor tidak menolak secara langsung, melainkan ingin melihat dulu perkembangan startup yang dirintis.

"Jadilah pribadi yang mau belajar mendengarkan apa pendapat dari para investor yang ditemui dan jangan berhenti untuk menjalin komunikasi dengan mereka. Kamu bisa terus-menerus setiap minggu memberikan update press release tentang perkembangan startup kamu kepada mereka misalnya. Sehingga mereka bisa melihat perkembangan perusahaan yang kamu rintis saat ini," saran Victo.



Nah, para founder startup, terus semangat untuk membangun bisnis kalian. Victo mengingatkan bahwa segala sesuatu tidak ada yang instan, karena butuh proses dan perjuangan.

"Jangan terlalu banyak berharap untuk mendapatkan iming-iming pendanaan, tetapi kamu bisa mulai dengan buktikan dahulu bahwa bisnis kamu layak untuk menjadi the next unicorn Indonesia," tutupnya.

Simak Video "Menkominfo Sebut Startup Pendidikan Sebagai Calon Kuat ''The Next Unicorn''"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)