Selasa, 24 Sep 2019 18:42 WIB

Kabar Hoax Timbulkan Korban Jiwa, Apa Solusinya?

Josina - detikInet
Wamena, Papua rusuh. (Foto: Istimewa) Wamena, Papua rusuh. (Foto: Istimewa)
Jakarta - Akibat berita hoax berisikan ucapan rasisme di Wamena, Papua, cukup banyak masyarakat terprovokasi sehingga terjadi kerusuhan yang memakan korban jiwa hingga luka-luka. Tercatat sudah 23 korban jiwa melayang akibat kerusuhan ini.

Rusuh akibat berita hoax ini bukanlah yang pertama kali terjadi, sebelumnya ada kerusuhan di Tanjung Balai pada tahun 2016 yang diduga dipicu karena SARA, kemudian terbunuhnya Maman Sudiman pada Maret 2017 akibat dikeroyok massa yang termakan hoax penculikan anak.


Menurut Septiaji Eko Nugroho, Ketua Presidium Mafindo (Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia) semakin mudahnya akses terhadap informasi melalui perangkat digital, seringkali belum disertai pengetahuan memilah informasi yang benar dan kebijaksanaan diri untuk berhati-hati sebelum menyebarkan informasi. Masyarakat dituntut harus tahu, informasi sekecil apapun, jika keliru dan dibalut menjadi ujaran kebencian, berpotensi memicu kerusuhan massa

"Untuk menangkal hoax ini sebenarnya cukup banyak upaya ke masyarakat bagaimana supaya tahu bahwa berita hoax itu berbahaya, tetapi saat ini masih banyak masyarakat yang belum tahu bagaimana caranya untuk membedakan berita tersebut benar atau tidak," ujarnya.

Selain faktor ketidaktahuan masyarakat, ia menambahkan adanya latar belakang yang membuat Papua ricuh diantaranya rasa ketidakadilan, ketidakpuasan, ketidakpercayaan, dan hal-hal lainnya yang menimbulkan bias ketika menerima informasi yang disukai atau tidak.

Inilah yang ingin ditekankan oleh Septiaji untuk memperkokoh kembali strategi penangkalan berita hoax yang komprehensif supaya jangan sampai terjadi lagi kerusuhan masyarakat akibat kesalahpahaman distorsi informasi. Menurut dia, solusinya dengan membentuk Hoax Crisis Center (HCC).


"Dengan melibatkan tokoh masyarakat lintas suku/agama, pemerintah pusat dan daerah, jurnalis, kepolisian, dan organisasi masyarakat sipil. Tujuannya adalah masyarakat ataupun tokoh daerah memiliki satu tempat untuk klarifikasi atas informasi yang berpotensi meresahkan publik. HCC ini bukanlah lembaga formal, namun berupa jejaring yang bisa cepat memonitor issue viral di masyarakat, mencari klarifikasinya, dan bersama mendistribusikan kalrifikasinya," jelasnya.

Selain itu, memperbanyak edukasi literasi digital. Dengan semakin membanjirnya perangkat digital, harus disertai dengan membekali pengguna dengan bagaimana perangkat digital itu seharusnya digunakan, baik untuk membangun konten positif, maupun untuk mengenali dan melawan konten negatif, termasuk hoax dan ujaran kebencian.

Ia melanjutkan, hoax cenderung subur di tengah kebencian sehingga seringkali fakta yang keluar sesudah hoax beredar, sulit diterima oleh mereka yang sudah termakan hoax. Untuk itu gerakan persaudaraan dan silaturahmi di dunia nyata, sangat penting untuk diperbanyak untuk mencegah timbulnya kecurigaan yang muncul di antara anak bangsa yang sangat beragam.

Oleh Mafindo, Hoax Crisis Center ini sudah pernah diterapkan ketika adanya pemilu di Kalimantan Barat ketika pilgub di mana formulasi tersebut berhasil diterapkan untuk meredam berita-berita hoax.

"Kami optimistis ketika Papua rentan sekali terkena isu hoax, formulasi ini juga bisa dilakukan," cetus Septiaji.



Simak Video "Gelombang Eksodus dari Wamena Tiba di Makassar"
[Gambas:Video 20detik]
(jsn/fyk)