Domain .id Kurang Diminati, Apa Penyebabnya?

Domain .id Kurang Diminati, Apa Penyebabnya?

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Kamis, 08 Agu 2019 15:17 WIB
Ilustrasi. Foto: Istimewa
Jakarta - Pengelola Nama Domain Indonesia (PANDI), yang merupakan operator domain .id menyebut sampai Juni 2019, pengguna domain .id baru mencapai angka 304 ribu.

Jumlah ini terbilang kecil, mengingat Indonesia saja mempunyai total penduduk lebih dari 260 juta jiwa. Sementara itu di dua negara tetangga Indonesia, rasio penggunaan domain lokalnya terbilang lebih baik.

Contohnya adalah Singapura, dengan jumlah penduduk sebanyak 5,5 juta jiwa, pengguna domain .sg mencapai 118 ribu. Sementara Malaysia yang jumlah penduduknya 32 juta jiwa, mempunyai 360 ribu pengguna domain .my.


Salah satu penyebab rendahnya pengguna domain .id di Indonesia ditenggarai adalah karena kurangnya literasi internet. Hal ini diutarakan pakar teknologi informasi dari Universitas Bina Nusantara Agung Trisetyarso.

Menurutnya, domain .id yang notabene merupakan country code Top Level Domain (ccTLD) Indonesia seharusnya bisa sejajar dengan domain unik dunia lainnya, seperti .tv milik Tuvalu, .me milik Montenegro, atau .co milik Kolombia. Namun ada syaratnya, yaitu masyarakat harus mendapat literasi internet yang memadai untuk menumbuhkembangkan minat menggunakan domain .id.

"Itu (kurangnya literasi internet) tentunya sedikit banyak mempengaruhi tingkat penggunaan domain .id di Indonesia," ujar Agung dalam keterangan yang diterima detikINET.

Ketika ditanyakan perihal dukungan dari pemerintah dalam pengembangan nama domain .id, dia mengaku memahami bahwa dengan luas wilayah Indonesia yang sangat besar, menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah. Dia pun menekankan agar sinergi antar kementerian bisa lebih dipererat.

"Dengan masing-masing kapasitasnya, sinergi Kemenkominfo dengan Kemenristekdikti dinilai akan sangat efektif meningkatkan penggunaan domain .id," ujarnya.

Terkait dengan potensi pasar luar negeri, dimana pihak PANDI berencana untuk melakukan ekspansi nama domain .id ke luar negeri, Agung berpendapat bahwa itu merupakan hal yang positif.

"Sangat potensial karena memiliki keunikan," tukasnya.

Program Satu Juta Domain

Pemerintah melalui Kemenkominfo sebenarnya pernah menggagas program Satu Juta Nama Domain .id gratis kepada para pelaku Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah (UMKM), desa, sekolah/pesantren, dan komunitas lokal pada 2017 lalu. Namun hingga program tersebut usai, hanya sekitar 50 ribu pengguna yang mendaftar, dan bahkan hanya 30 persen yang melanjutkan berlangganan di tahun kedua.


Ketua PANDI, Yudho Giri Sucahyo menilai, prevalensi penggunaan domain .com atau nama domain unik lain seperti .co dan .tv di Indonesia didorong oleh kesan bahwa penggunaan domain-domain tersebut lebih keren atau komersil.

"Tentunya, kami juga berupaya untuk membangun kesadaran korporasi-korporasi dalam negeri untuk beralih ke nama domain .id," tutur dia.

PANDI pun telah memantapkan rencananya untuk ekspansi domain .id ke luar negeri. Hal itu dilakukan lantaran domain .id memiliki peluang besar di pasar internasional. Menurut Yudho, domain .id memiliki potensi besar di pasar internasional. Salah satunya adalah keunikan dan makna dari nama domain .id itu sendiri. Nantinya, hingga akhir tahun 2019 ini, PANDI menargetkan 800 ribu nama domain .id terdaftar di registrar PANDI.

"Kelebihan nama domain .id yang merepresentasikan 'idea' atau 'identity' merupakan sebuah berkah tersendiri yang hanya dimiliki oleh nama domain .id. Hal ini harus dimanfaatkan supaya penjualan di luar negeri meningkat dengan pesat," tukas Yudho.

Simak Video "Domain Internet dengan Aksara Jawa 'Hanacaraka' Bakal Diluncurkan"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fyk)