Minimalkan Serangan Cyber
Kalangan Akademis Adopsi DShield
- detikInet
Jakarta -
Universitas di Amerika Serikat kini memiliki versi DShield sendiri. DShield adalah sebuah layanan populer yang bisa menganalisa keamanan data guna menghindari serangan dunia maya alias cyber.Layanan yang dibuat khusus untuk dunia akademis itu adalah DShield versi sektor-spesifik pertama. Layanan terkait mulai diluncurkan sebagai layanan global yang diberikan secara gratis tahun 2000.Sampai saat ini, sudah ada tiga universitas yang telah mendaftar. Sedangkan sekolah tinggi dan universitas lain telah dianjurkan untuk bergabung dengan layanan ini."Tujuannya adalah agar mereka memiliki penilaian keamanan informasi akurat di lembaga akademis," papar Steffani Burd, Direktur Pelaksana Keamanan Informasi di Lembaga Akademis, salah seorang dari tim yang menjalankan layanan tersebut.Sebagai informasi, proyek ini disponsori oleh divisi penelitian dari Departemen Keadilan Amerika Serikat dan dijalankan oleh Pengajar Perguruan Tinggi Universitas Columbia di New York.Versi global DShield ini mengandalkan data yang diajukan oleh siapa saja--baik perorangan maupun organisasi besar--di lokasi mana pun. Layanan khusus untuk kalangan akademis ini akan bekerja dengan cara yang sama, tetapi hanya akan menganalisa data yang disediakan oleh sekolah.Organisasi akademis dihimbau agar mengajukan log dari sistim deteksi gangguan dan firewall mereka. Dengan begitu, layanan terkait bisa menguraikan data dan melaporkan serangan. Sedianya laporan itu bisa dipergunakan untuk melindungi jaringan yang ada."Mereka bisa menganalisa ancaman pada jaringan dan membandingkan data yang masuk dengan data global kami," tandas Johannes Ullrich, Kepala Penelitian SANS Institute yang sekaligus pendiri DShield.org."Sebagai contoh, pengguna bisa melihat dari mana serangan datang dan port berapa yang diserang," imbuh Ullrich seperti dilansir CNET yang dikutip detikinet Kamis (20/10/2005).Menurutnya, lembaga akademis harus memelihara jaringan yang terbuka bahkan menyediakan keamanan bagi pengguna. Dengan adanya data ini, maka pihak akademis bisa memutuskan perlindungan apa yang akan disebarkan guna meminimalkan pembatasan.
(ien/)