Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Sungai Ini Pernah Dihuni Megapiranha, Gigitan Lebih Seram dari Megalodon

Sungai Ini Pernah Dihuni Megapiranha, Gigitan Lebih Seram dari Megalodon


Rachmatunnisa - detikInet

Ilustrasi Ikan Piranha
Ilustrasi piranha. Foto: iStock
Jakarta -

Jauh sebelum piranha modern menghuni sungai-sungai Amerika Selatan, kawasan tersebut pernah menjadi rumah bagi piranha raksasa atau megapiranha, ikan predator purba yang memiliki gigitan luar biasa kuat.

Namanya Megapiranha paranensis. Ikan ini hidup sekitar 8-10 juta tahun lalu dan diperkirakan memiliki panjang hingga 70 sentimeter, meski penelitian awal sempat memperkirakan ukurannya bisa lebih dari 1 meter. Bobotnya diperkirakan mencapai sekitar 10 kilogram.

Yang membuatnya menarik bukan sekadar ukurannya. Penelitian menunjukkan megapiranha kemungkinan memiliki kekuatan gigitan antara 1.240 hingga 4.749 newton, cukup kuat untuk menghancurkan tulang. Bahkan, dalam salah satu simulasi, kekuatan rahangnya diperkirakan bisa melampaui gigitan hiu putih besar berukuran 3 ton.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kisah megapiranha bermula dari sebuah fosil rahang yang sebenarnya sudah ditemukan sejak awal 1900-an di Formasi ParanΓ‘, Argentina. Fosil tersebut baru berada di tangan paleontolog Alberto Cione dari La Plata Museum pada 1980-an. Pada 2009, Cione bersama timnya mendeskripsikan fosil tersebut sebagai spesies baru.

Yang ditemukan hanyalah sebagian rahang atas. Namun, bagian tersebut memiliki tiga gigi berukuran besar yang tersusun dengan pola unik. Jika rahangnya lengkap, peneliti memperkirakan terdapat sekitar tujuh gigi.

ADVERTISEMENT

Susunan gigi inilah yang menjadi petunjuk penting mengenai posisi megapiranha dalam evolusi kelompok ikan tersebut. Piranha modern memiliki gigi yang tersusun dalam satu baris. Sementara kerabatnya seperti ikan pacu yang umumnya memakan tumbuhan memiliki gigi dalam dua baris. Megapiranha memiliki susunan yang berada di antara keduanya.

"Pada piranha modern, giginya tersusun dalam satu baris. Namun, pada kerabat piranha-yang cenderung merupakan ikan herbivora-giginya tersusun dalam dua baris," kata Wasila Dahdul, ilmuwan tamu di National Evolutionary Synthesis Center, dikutip dari IFL Science.

"Hampir terlihat seperti giginya berpindah dari baris kedua ke baris pertama," John Lundberg, salah satu penulis penelitian tersebut.

Susunan tersebut memberi gambaran tentang bagaimana kelompok piranha berevolusi hingga memiliki karakteristik gigi seperti yang kita kenal sekarang. Ukuran sebenarnya masih menjadi teka-teki karena fosil yang ditemukan sangat terbatas.

Penelitian awal memperkirakan megapiranha bisa tumbuh lebih dari 1 meter dengan berat sebanding manusia. Studi berikutnya memberikan estimasi yang lebih kecil, sekitar 70 sentimeter dengan berat 10 kilogram.

Jadi, megapiranha memang jauh lebih besar daripada piranha modern, tetapi tidak berarti ikan ini merupakan piranha raksasa berukuran beberapa meter. Yang justru luar biasa adalah kemampuan rahangnya dibandingkan ukuran tubuh.

Pada 2012, peneliti mencoba menghitung seberapa kuat gigitan megapiranha. Karena tidak mungkin mengukur gigitan hewan yang sudah punah jutaan tahun, ilmuwan menggabungkan data gigitan black piranha (Serrasalmus rhombeus) yang masih hidup dengan simulasi ukuran dan mekanika rahang megapiranha.

Hasilnya menunjukkan estimasi kekuatan gigitan megapiranha berada pada rentang 1.240-4.749 newton. Sebagai gambaran, pada estimasi paling konservatif, kekuatan tersebut setara dengan gigitan hiu putih besar seberat sekitar 400 kilogram.

Ketika model memperhitungkan mekanika rahang megapiranha secara lebih spesifik, kekuatannya bahkan diperkirakan setara dengan gigitan hiu putih besar seberat sekitar 3.000 kilogram. Semua itu diperkirakan berasal dari ikan yang bobotnya hanya sekitar 10 kilogram.

Perbandingan yang paling ekstrem adalah dengan megalodon, hiu raksasa yang pernah menguasai lautan. Dalam simulasi yang dilakukan peneliti, kekuatan gigitan megapiranha bahkan diperkirakan dapat melampaui megalodon dalam perbandingan tertentu.

Namun, perbandingan tersebut bukan berarti megapiranha secara keseluruhan lebih kuat daripada megalodon. Megalodon memiliki ukuran tubuh yang jauh lebih besar dan merupakan predator laut raksasa.

Yang dibandingkan adalah perkiraan gaya gigitan, berdasarkan model biomekanik. Jadi, megapiranha merupakan contoh menarik bagaimana hewan yang relatif kecil dapat memiliki kemampuan rahang yang sangat kuat karena bentuk rahang dan ototnya.

Kemampuan tersebut ternyata masih terlihat pada keturunan piranha yang hidup sekarang. Black piranha tercatat memiliki kekuatan gigitan sekitar 320 newton, yang pada saat penelitian dilakukan menjadi salah satu kekuatan gigitan terkuat yang pernah diukur pada ikan bertulang.

Yang lebih menarik, jika dibandingkan dengan ukuran tubuhnya, kekuatan gigitan black piranha hampir tiga kali lebih besar daripada aligator Amerika dengan ukuran setara. Salah satu penyebabnya adalah mekanika rahang yang sangat efisien.

Otot rahang piranha juga berukuran relatif besar, mencapai lebih dari 2% bobot tubuhnya. Kemampuan tersebut kemungkinan membantu piranha menggigit mangsa dengan cepat dan kuat. Megapiranha pada akhirnya memberikan petunjuk penting mengenai perjalanan evolusi kelompok piranha.

Susunan giginya menunjukkan bentuk peralihan antara pola gigi dua baris pada kerabat herbivora dan satu baris pada piranha modern. Dengan kata lain, satu fosil rahang yang ditemukan di Argentina membantu ilmuwan memahami bagaimana ikan dengan pola makan dan bentuk gigi berbeda berevolusi menjadi predator dengan rahang sangat kuat.

Dan meski hanya memiliki fosil rahang yang tidak lengkap, megapiranha meninggalkan satu pesan yang cukup jelas, ukuran tubuh bukan satu-satunya penentu seberapa kuat sebuah predator dapat menggigit.



(rns/rns)




Hide Ads