Jumat, 12 Jul 2019 16:31 WIB

Mulai Tahun Depan, Anak SD di Singapura Wajib Belajar Coding

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Ilustrasi coding. Foto: Photo by Sai Kiran Anagani on Unsplash Ilustrasi coding. Foto: Photo by Sai Kiran Anagani on Unsplash
Jakarta - Pemerintah Singapura berencana untuk memasukkan coding sebagai mata pelajaran wajib bagi anak-anak SD kelas 4-6. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika mereka, S. Iswaran.

Dalam tahap awal implementasi kebijakan ini, anak-anak tersebut diwajibkan untuk mengambil program pembelajaran selama 10 jam dalam satu tahun ajaran. Dalam program itu juga, mereka bakal dibekali pemahaman mengenai kecerdasan buatan dan teknologi-teknologi yang sedang naik daun lainnya.

Program bertajuk Code For Fun itu rencananya akan masuk tahap pilot di beberapa sekolah tahun ini. Sedangkan implementasi finalnya akan dilakukan di seluruh Singapura pada tahun depan. Sekadar informasi, awalnya program ini bersifat opsional, dan sudah ada sejak 2014, sebagaimana detikINET kutip dari Channel News Asia, Jumat (12/7/2019).




Bukan hanya itu saja kebijakan yang disiapkan Kementerian Komunikasi dan Informatika Singapura untuk anak-anak sekolah. Cyber Security Agency (CSA), lembaga di bawah naungan Kominfo-nya mereka, bakal meluncurkan Singapore Cyber Youth Programme.

Program tersebut akan berlaku bagi anak-anak usia sekolah dan mahasiswa di perguruan tinggi untuk mendapat pengetahuan mengenai cybersecurity, baik secara teknis maupun terapannya. Melalui program ini, CSA berencana untuk menjangkau sekitar 10.000 anak muda dalam tiga tahun ke depan melalui boot camp, kompetisi, hingga mentoring.

"Kami ingin menciptakan karir dan peluang kerja yang lebih menarik bagi warga Singapura, dan peluang yang menarik bagi bisnis kami, baik itu skala besar maupun kecil," ucapnya dalam keterangan resmi yang tertera di dalam situs resmi Kominfo-nya Singapura.




"Kami ingin transformasi digital ini menjadi inklusif. Ini bukan hanya soal digitalisasi ekonomi, tapi menjami bahwa seluruh pengusaha, tenaga kerja, dan warga sipil dapat mendapat keuntungan dari situ. Kami harus memastikan seluruh individu dan perusahaan dibekali dengan baik untuk terlibat dan mendapat menfaat dari transformasi digital Singapura," tuturnya menambahkan.

Melihat rencana Singapura tersebut, mungkin terbersit di pikiran kamu, bagaimana dengan Indonesia? Ide mengenai masuknya coding ke kurikulum sekolah sejatinya sudah digaungkan beberapa kali dari berbagai pihak.

April lalu, Staf Khusus Menteri Kominfo, Lis Sutjiati, sempat mengusulkan untuk memasukkan coding ke kurikulum Sekolah Dasar. Tak tanggung-tanggung, idenya pun akan membuat coding sama dengan pelajaran wajib seperti matematika.




Menurut Lis, konsep ini bisa didukung dengan mengadakan kelas virtual. Hal ini dapat memberikan keleluasaan lebih dengan menghimpun para ahli untuk mengajar, jadi tidak harus guru SD yang memberikan pelajaran mengenai coding.

Hal senada juga pernah dilontarkan CEO Bukalapak, Achmad Zaky. Ia beranggapan bahwa anak-anak usia awal sekolah perlu diberikan pendidikan mengenai coding. Menurutnya, kemampuan tersebut akan memberi nilai yang tinggi bagi mereka.

Meski demikian, untuk saat ini, sepertinya kita masih harus mengandalkan pihak swasta dalam mencetak talenta-talenta digital di Tanah Air melalui institusi seperti Apple Developer Academy dan Binar Academy. Bertumbuhnya sekolah untuk mempelajari coding itu pun membuat IDC Indonesia memprediksi pengembang aplikasi di Tanah Air akan tumbuh sebesar 15% pada 2024 mendatang.




Simak Video "Kominfo Siapkan Coding Jadi Mata Pelajaran Wajib Sejak SD"
[Gambas:Video 20detik]
(mon/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed