Selasa, 18 Jun 2019 20:38 WIB

Kreatif! 3 Mahasiswa di Kudus Bikin 'Tempat Sampah Pintar'

Akrom Hazami - detikInet
Foto: Akrom Hazami/detikINET Foto: Akrom Hazami/detikINET
Kudus - Gegara tempat sampah yang kerap menumpuk, tiga mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) berinovasi. Mereka membuat "tempat sampah pintar" internet of things (IOT).

Mereka memberi nama tempat sampah itu T-Smart++. Dengan alat tersebut, tempat sampah di antaranya mampu mengirim notifikasi ketika sudah penuh.

Selain itu, lokasi tempat sampah yang sudah penuh itu pun akan diberitahukan agar bisa segera diambil oleh petugas sampah. Dengan demikian, pengambilan sampahnya sangat selektif dan tidak menumpuk.




Ketiga mahasiswa pembuat T-Smart++ ini adalah Novi Arimukti dan Arsya Yoga Pratama dari jurusan Sistem Informasi (SI), dan Bagus Utomo dari jurusan Teknik Elektro. Hasil kreasi mereka telah mendapat pendanaan dari Kemenristek Dikti dalam program pekan kreatifitas mahasiswa (PKM).

Kreatif! Mahasiswa di Kudus Bikin Tempat Sampah Berbasis IoTFoto: Akrom Hazami/detikINET

Menurut Bagus Utomo selaku salah satu kreator, T-Smart++ tercipta berawal dari rasa resah mereka melihat sampah yang menumpuk.

"Penumpukan itu dikarenakan ada tempat sampah yang penuh, namun belum diambil karena tidak tahu lokasi mana saja tempat sampah yang sudah penuh," kata Bagus di UMK di Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Selasa (18/6/2019).

Selain itu, hal lain yang bikin resah adalah bila ada tempat sampah yang belum penuh tapi sudah diambil sementara yang penuh malah justru belum diambil. Hal itu berdampak pada bau sampah yang mengganggu.

Kreatif! Mahasiswa di Kudus Bikin Tempat Sampah Berbasis IoTFoto: Akrom Hazami/detikINET

Berangkat dari situ, lanjutnya, muncul ide mereka membuat tempat sampah tersebut. Mereka mengonsep terlebih dulu selama sebulan hingga akhirnya konsep sampah yang diinginkan terwujud. Kemudian mereka pun mulai membuatnya, yang juga memakan waktu sebulan.

Dia menjelaskan, tempat sampah pintar berbasis IOT ini memiliki beberapa kelebihan. Ketika sudah penuh, tempat sampah akan mengunci dan selanjutnya memberi notifikasi melalui HP Android ke petugas sampah, berisikan peringatan sampah penuh dan titik lokasinya.

"Sehingga memudahkan petugas sampah untuk mengetahui tempat sampah yang sudah penuh, sehingga bisa diprioritaskan untuk pengambilannya," ujarnya.




Dia membeberkan, ada beberapa alat utama yang digunakan yakni sensor jarak HC SR04. Sensor ini digunakan untuk membaca benda yang berada di depannya, selanjutnya mengirimkan ke motor servo untuk membuka dan menutup tempat sampah. Ada kartu khusus yang berfungsi untuk membuka tempat sampah ketika penuh, agar bisa diambil sampahnya.

Selanjutnya, tambah dia, ada pula DF Player untuk mengeluarkan suara. Ketika memasukkan sampah langsung ada ucapan "terima kasih telah membuang sampah di tempatnya". Selain itu, ketika sampah penuh ada ucapan "maaf, tempat sampah sudah penuh". Hal itu membuat tutup tempat sampah otomatis tidak bisa terbuka. Berikutnya ada komponen NodeMCU esp8266 yang berfungsi untuk mengimkan sinyal ke internet yang akan dihubungkan ke smartphone Android.

Kreatif! Mahasiswa di Kudus Bikin Tempat Sampah Berbasis IoTFoto: Akrom Hazami/detikINET

"Komponen paling penting adalah Arduino Nano yang berfungsi sebagai otak atau CPU yang digunakan untuk memasang seluruh komponen yang ada," ujar Bagus.

Mereka berharap inovasi tersebut bisa bermanfaat bagi masyarakat luas. Apalagi alat ini juga bisa digunakan pemerintah daerah, perusahaan, dan lainnya dalam pengelolaan sampah.

"Sehingga diharapkan lingkungan bisa semakin bersih, tentunya diharapkan masyarakat bisa membuang sampah pada tempatnya," harapnya.

Pihak kampus amat antusias dengan karya itu. Mereka juga mendorong agar akan muncul jejak mahasiswa lain dengan karya hebatnya. Wakil Rektor III UMK Rohmad Winarso, ST. MT menambahkan, inovasi mahasiswa ini sudah lolos dalam program PKM Karya Cipta (KC). Kampus mendorong mahasiswa lain mengikuti ajang bergengsi berupa PKM tersebut apalagi temuan macam ini bermanfaat bagi masyarakat.

Meski inovasi itu belum bisa dikatakan sempurna namun ini setidaknya menjadi awal karena potensi untuk dikembangkan sangat besar. "Kami juga sudah meminta agar inovasi tersebut dipatenkan," kata Rohmad.


(krs/krs)