Kamis, 09 Mei 2019 15:38 WIB

Pemilu AS Tahun Depan Bakal Pakai Sistem dari Microsoft

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Foto: Drew Angerer/Getty Images Foto: Drew Angerer/Getty Images
Jakarta - Microsoft baru-baru ini mengumumkan rencana untuk membuat pemungutan suara dalam pemilihan umum (pemilu) menjadi lebih aman. Hal tersebut dilakukannya dengan mengenkripsi surat suara sehingga bisa dilacak secara akurat setelah digunakan oleh para pemilih.

"Software ini dapat membantu untuk memodernisasi seluruh infrastruktur pemilihan umum di mana pun di dunia," ujar CEO Microsoft Satya Nadella, sebagaimana detikINET kutip dari New York Post, Kamis (9/5/2019).

Sistem bernama ElectionGuard itu sedang dikembangkan oleh perusahaan bernama Galois dan Microsoft menyebutnya akan mulai tersedia musim panas ini. Lebih lanjut, prototipe awalnya pun akan siap diuji coba pada pemilu legislatif di Amerika Serikat tahun depan.




ElectionGuard dapat memungkinkan para pemilih untuk memastikan bahwa suara mereka telah direkam secara akurat. Lalu kode unik yang ada di dalamnya mengirim versi suara yang sudah terenskripsi, membuat pilihannya itu tetap rahasia sebelum akhirnya masuk ke fase penghitungan.

Hal tersebut diklaim dapat memberikan penghitungan suara yang terpercaya. Selain itu, para pemangku kepentingan di luar sistem seperti KPU-nya Amerika Serikat, partai-partai politik, jurnalis, dan pemilih itu sendiri, bisa melakukan verifikasi secara online bahwa suara sudah dihitung dengan baik.

Hal ini pun langsung menarik minat dua dari tiga vendor utama dalam pemilihan umum di Amerika Serikat. Keduanya mengaku tertarik untuk bekerja sama dengan software yang dibuat open-source tersebut dalam sistem pemungutan suara miliknya.

Dua vendor tersebut adalah Election Systems & Software dan Hart InterCivic. Sedangkan satu perusahaan tersisa, Dominion Voting Systems, masih ingin mempelajari lebih lanjut mengenai ElectionGuard dari Microsoft itu.

Sekadar informasi, tiga vendor tersebut menguasai sekitar 90% dari pasar perlengkapan pemilu di Negeri Paman Sam. Walau dominan, mereka kerap mendapat kritik lantaran keamanannya yang buruk, teknologi jadul, dan minimnya transparansi.




Software open-source ini diklaim lebih aman karena kode dasarnya mudah untuk diperiksa oleh para ahli dari luar. Meski demikian, minimnya dana membuat vendor-vendor yang dominan tersebut tidak menaruh minat pada sistem seperti itu.

Nantinya, baik perusahaan yang sudah punya sistem pemungutan suara atau sedang membangun yang baru dapat bekerja sama dengan ElectionGuard. hal ini juga berlaku baik itu pemilihan suara di tingkat negara bagian atau secara nasional.

Satu yang patut diketahui, ElectionGuard tidak didesain untuk bekerja pada skema internet voting (i-voting) yang dianggap sangat mudah untuk di-hack. Selain itu, ElectionGuard juga masih belum mendukung sistem vote-by-mail.

Mungkin akan sangat menarik jika sistem ini dibawa ke Indonesia untuk menghindari konflik atau polemik penghitungan suara. Terlebih Microsoft juga sedang cukup gencar masuk ke Indonesia, salah satunya melalui sistem cloud mereka, yakni Azure.





(mon/krs)