Minggu, 14 Apr 2019 08:34 WIB

Perusahaan China Terapkan Sistem '996' Karena Takut Gagal

Fino Yurio Kristo - detikInet
Ilustrasi. Foto: Gettyimages Ilustrasi. Foto: Gettyimages
Beijing - Belakangan mengundang kontroversi, sistem kerja 996 tampaknya masih akan berlaku di banyak perusahaan teknologi China. Jikalaupun tidak dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam selama 6 hari seminggu, karyawan tetap diminta bekerja keras demi kelangsungan perusahaan.

"Kerja lembur adalah sesuatu yang biasa di banyak perusahaan internet. Jika kita tidak bekerja lebih banyak, kita akan tertinggal," kata seorang pendiri startup game mobile di Shenzen yang dikutip detikINET dari Tech Crunch.

"Debat terkini soal 996 memperlihatkan kompetisi intens di industri teknologi China. Untuk survive, startup dan perusahaan besar tidak punya pilihan selain bekerja sangat keras. Beberapa entrepreneur bahkan kerja sampai 100 jam per minggu," sebut Jake Xie, Vice President China Growth Capital.



Begitulah, mindset banyak perusahaan teknologi China adalah kerja keras akan sebanding dengan kesuksesan walaupun belum tentu benar. Startup Youzan dan perusahaan solusi e commerce Shopify misalnya, secara terang-terangan meminta pegawai bekerja dengan sistem 996.

Tak heran pula jika Jack Ma, pendiri Alibaba, dan Richard Liu, pendiri JD.com menyuarakan persetujuan bahwa karyawan harus bekerja keras demi meraih keberhasilan.

"Tidak ada perusahaan yang harus atau dapat mewajibkan bekerja 996. Tapi anak muda harus memahami bahwa kebahagiaan datang dari kerja keras. Aku tidak membela 996, tapi aku menghormati para pekerja keras," tandas Ma.

Di sisi lain, para pegawai pun ternyata sebagian maklum dengan sistem semacam itu. "Ada keyakinan lebih banyak kerja lebih banyak belajar. Saya pikir sebagian orang memang ingin kerja lebih banyak dan persentasenya lebih tinggi di umur 22 sampai 30 tahun," kata seorang eksekutif yang tak mau disebut namanya.



"Beberapa orang di tim saya mengungkapkan pada kami bahwa mereka tidak bisa tumbuh secepat teman mereka yang kerja di perusahaan yang mempraktekkan 996," tambah dia.

Namun demikian dari sisi kritikan, tidak berarti kerja lebih panjang menghasilkan kesuksesan. Kegagalan perusahaan yang menerapkannya pun tidak sedikit. Belum lagi dampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental karyawan tak dapat dipandang remeh.

"Banyak perusahaan menerapkan 996 tapi tidak sukses. Tidak ada bukti cukup yang menunjukkan pertumbuhan perusahaan berhubungan dengan 996. Apa yang harus dievaluasi oleh bos adalah produktivitas, bukan jumlah jam," sebut seorang developer software di Shanghai.

Jikalaupun bekerja memang harus panjang karena sudah jadi semacam budaya di China, setidaknya karyawan mendapat kompensasi memadai. "Sepertinya hampir semua startup di China kurang perhatian soal keamanan sosial atau pendanaan rumah karyawan, terutama ketika masih berusia muda," ujar Benjamin Qiu, pakar hukum di Loeb & Loeb LLP. (fyk/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed