Senin, 18 Feb 2019 11:47 WIB

Manusia Ini Selamatkan Dunia dari Perang Nuklir

Fino Yurio Kristo - detikInet
Stanislav Petrov. Foto: Smitsonian Stanislav Petrov. Foto: Smitsonian
Jakarta - Pada 26 September 1983, dunia hampir saja dilanda perang nuklir yang dapat menghancurkan umat manusia. Beruntung ada pria ini yang seorang diri mampu menyelamatkan Bumi dari malapetaka senjata maha dahsyat itu.

Kisah Stanislav Petrov memang heroik. Pada hari itu, dia bertugas di pusat komando nuklir Uni Soviet dan mengawasi sistem komputer yang berfungsi mengeluarkan peringatan dini jika terjadi serangan nuklir.

Mendadak, sistem tersebut memperingatkan bahwa sebuah misil telah diluncurkan dari Amerika Serikat menuju Uni Soviet. Tidak hanya sekali alarm berbunyi, sampai lima kali. Petrov menjadi salah satu orang terakhir untuk memutuskan apakah peringatan itu akurat dan Uni Soviet perlu membalas.

"Aku punya semua data bahwa ada serangan misil. Jika aku mengirim laporan ke komandan, tidak ada yang akan membantahnya," kata Petrov yang dikutip detikiNET dari BBC.




"Yang perlu kulakukan hanyalah mengambil telepon, menguhubungi komandan top kami. Tapi aku tidak bisa bergerak. Aku seperti duduk di papan penggorengan panas," sebut Petrov lagi.

Meski pikirannya berkecamuk, Petrov harus membuat keputusan. Doktrin Uni Soviet kala itu adalah, jika AS menyerang, maka mereka akan membalas dengan kekuatan nuklir penuh. Potensi serangan dari AS kuat, karena presiden AS, Ronald Reagan, bersikap keras pada Uni Soviet.

Tapi Petrov tidak reaktif. Setelah menganalisa, ia menengarai bahwa terjadi kesalahan alarm peringatan dini. Meski tidak seratus persen yakin, Petrov lantas melaporkan kemungkinan kerusakan itu dan bukannya permintaan untuk meluncurkan nuklir balasan.

Keputusan Petrov di saat-saat genting itu ternyata tepat. Investigasi Uni Soviet kemudian menemukan bahwa satelit mereka salah menganggap refleksi sinar matahari sebagai mesin misil antar benua, sehingga memicu alarm.

Petrov memang bukan penentu peluncuran nuklir, pangkatnya hanya Letnan Kolonel. Akan tetapi laporannya bahwa terjadi kesalahan alarm dan bukan serangan sungguhan, membuat kemungkinan serangan balasan jauh lebih kecil. Jika Petrov menyatakan benar ada serangan dan Uni Soviet yang panik membalas, bisa saja sudah terjadi perang nuklir yang menghancurkan.

Pada era perang dingin itu, Uni Soviet memiliki 35.804 nuklir dan Amerika Serikat sedikit di bawahnya, 23.305 nuklir. Bisa dibayangkan apa akibatnya jika perang pecah antara dua negara superpower ini.

Jika Uni Soviet menyerang dengan nuklir, diestimasi 35% sampai 77% populasi AS terbunuh. Sebaliknya, Uni Soviet akan kehilangan 20% sampai 40% warganya jika dihantam nuklir oleh AS. Belum lagi dampaknya secara global akan sangat terasa karena radiasi dan hal lainnya.

Petrov pun kemudian dikenal sebagai The Man who Saved The World. Ia mendapat penghargaan tinggi dari berbagai negara, meskipun tidak menganggap dirinya pahlawan. Bahkan istrinya sendiri tak tahu mengenai aksi heroiknya.




"Itu adalah pekerjaanku, aku hanya menjalankan tugasku dan aku adalah orang yang tepat di saat yang tepat, itu saja. Istriku saja tidak tahu," katanya. Petrov meninggal dunia pada usia 77 tahun di tahun 2017.

AksiPetrov memang memunculkan berbagai analisa. Ada yang berpendapat bahwa Uni Soviet tetap akan hati-hati meskipun dikabari ada serangan olehPetrov, karena pertaruhan perang nuklir luar biasa besar. Tapi apapun, keputusanPetrov adalah hal yang tepat dan berani di tengah suasana begitu tegang.

(fyk/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed