Sabtu, 15 Des 2018 16:23 WIB

Bos Google Indonesia Bicara soal Pemilu 2019 dan Hoax

Adi Fida Rahman - detikInet
Managing Director Google Indonesia Randy Jusuf. Foto: 20detik Managing Director Google Indonesia Randy Jusuf. Foto: 20detik
Jakarta - Indonesia memasuki Pemilihan Umum (Pemilu 2019) tahun depan. Google rupanya telah menyiapkan diri untuk menyambut pesta demokrasi lima tahun sekali ini.

Hal tersebut diungkap Managing Director Google Indonesia Randy Jusuf. Dia mengatakan pihaknya telah melakukan diskusi dengan instansi terkait Pemilu 2019. Hanya saja, dirinya belum bisa mengungkap banyak soal program apa yang bakal dibesut Google Indonesia.




"Saat ini belum ada detail yang bisa di-share. Harapan kami awal tahun depan lebih ada konkrit apa yang akan Google lakukan dan di-share ke semua orang," katanya.

"Tapi jawaban singkatnya, kami ingin membantu dan berpartisipasi. Karena Pemilu sangat penting dan Google menjadi salah satu source untuk masyarakat mencari informasi," lanjut Randy.

Tangkal Hoax

Randy menyadari bahwa begitu banyak kabar bohong atau hoax menyebar di internet, tak terkecuali di platform milik Google. Pihaknya pun telah melakukan sejumlah upaya untuk menangkalnya.

"Misi Google adalah mengelola dan mengorganisasi informasi dari seluruh dunia dan membuat informasi ini dapat diakses dan berguna secara universal. Tentu saja kami ingin memberikan yang berguna, hoax tentu saja tidak berguna, karena itu kami memerangi berita palsu," ujarnya.

Disebutkan pria lulusan University of Wisconsin-Madison itu, Google telah melakukan peningkatan pada hasil pencarian dan konten di platformanya. Mereka menerapkan algoritma agar pengguna mendapatkan sumber yang kredibel, terpercaya dan otoritatif.

Di lain sisi pula, raksasa pencarian internet ini membesut program bernama Google News Initiative. Lewat insiatif tersebut, bersama sejumlah perwakilan sejumlah media terpercaya dan organisasi jurnalis, Google mendiskusikan bagaimana memerangi hoax dan meluncurkan cekfakta.com untuk mengecek kebenaran berita.




Perusahan yang bermarkas di Mountain View, California, Amerika Serikat ini turut melatih 1.200 jurnalis dari 22 kota di Indonesia untuk memerangi hoax. Selain itu, dibuat laman khusus Google News Initiaive Training yang bisa diakses oleh semua orang dan tersedia dalam bahasa Indonesia.

Terkait laporan dari pengguna, Google menanggapi secara serius. Mereka menyediakan mekanisme pelaporan di setiap platformnya.

"Kami ingin terus berkembang. Kami ada tim yang didedikasikan untuk mem-feedback secepat mungkin, tentu saja ada prosesnya, tapi kami ingin terus maju kedepan untuk melawan berita tidak bagus dari platform kami," pungkas Randy.



(afr/rns)