Rabu, 12 Des 2018 20:11 WIB

Merintis Kejayaan Budidaya Lele Lewat Ponsel dalam Genggaman

Sudirman Wamad - detikInet
Foto: Sudirman Wamad Foto: Sudirman Wamad
Indramayu - Wajah Carman (40) tampak berseri-seri menerima bantuan berupa automatic feeder atau mesin pemberian pakan otomatis untuk lelenya. Ia merupakan seorang petambak lele asal Desa Puntang, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Carman bersyukur bisa memiliki mesin pemberian pakan otomatis yang dikembangkan PT Telkomsel, Japfa, dan pengelola start up eFishery. Melalui aplikasi eFishery itu, Carman bisa mengatur waktu pemberian pakan menggunakan ponsel pintarnya. Carman tak perlu lagi mondar-mandir atau membayar pekerja untuk menabur pakan lele di tambaknya.

Sejak awal tahun 2018 Carman sudah mulai menggunakan eFishery. Awalnya, Carman hanya menerima bantuan sebanyak lima mesin pakan otomatis yang sudah terhubung dengan eFishery.



"Saya merasa cocok. Kemudian, bantuannya nambah menjadi 15 mesin pada Februari lalu. Dua bulan kemudian nambah lagi, jadi 30 mesin. Nah, sekarang sudah ada 40 mesin. Alhamdulillah," kata Carman seraya tersenyum saat berbincang dengan detikINET usai peluncuran kampung perikanan digital di desanya oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pada pekan ini.

Dari 200 kolam lele yang Carman kelola, beberapa di antaranya sudah menggunakan eFishery. Carman pun kembali memamerkan senyum saat ditanya mengenai manfaat aplikasi itu, sebelum kemudian memberi tuturan antusias.


Kampung Perikanan Digital, Merintis Kejayaan Budidaya Lele Lewat GenggamanFoto: Sudirman Wamad


"Dulu kan manual, menggunakan tenaga manusia. Sekarang beberapa kolam sudah pakai eFishery. Tinggal mantau dari ponsel. Tentu lebih efektif, mengurangi ongkos produksi. Kalau pakai tenaga orang kan bayar," kata Carman.

Carman juga sempat berkisah tentang peristiwa banjir yang sempat membuatnya mengalami kerugian besar, pada 2014 lalu sebelum dirinya berkenalan dengan eFishery. Saat itu wilayah Indramayu bagian barat, termasuk Kecamatan Losarang, dilanda banjir parah. Kondisi tersebut meruntuhkan bisnis budidaya lele yang dibangun Carman sejak 18 tahun silam.

Namun demikian, banjir parah tak ikut menenggelamkan Carman dalam kesedihan. Ia terus melangkah dalam usaha membangun kembali bisnis budidaya lelenya. Langkahnya tak mudah. Tapi api semangatnya untuk terus maju lantas kian menyala seiring dengan kehadiran kampung perikanan digital melalui eFishery. Carman pun semakin bergairah.

"Ya rugi besar waktu itu. Padahal, waktu tahun 2012 budidaya lele lagi jaya-jayanya. Dua tahun setelah itu, banjir melanda. Sulit juga untuk mengembalikan kejayaan itu. Semoga program kampung digital ini bisa mendongkrak kesejahteraan petambak lele," kata Carman.

Sejak menggunakan eFishery, kata Carman, ongkos produksi bukan cuma terpangkas. Masa panen lele juga jadi lebih cepat dari biasanya -- menjadi dua bulan dari yang sebelumnya tiga bulan. Bahkan, Carman menyebut kolam yang menggunakan eFishery bisa ditanam benih lele lebih banyak dibandingkan dengan kolam biasa, yang tidak menggunakan eFishery. Kondisi tersebut membuat Carman semakin yakin bisnis yang ia kelola selama belasan tahun itu akan terus berkembang.

"Tentunya masa panen jadi lebih cepat. Ada lagi manfaatnya, hasil panennya juga mengalami peningkatan. Karena kita benih lele yang disebar itu bisa dipadatkan untuk kolam yang menggunakan eFishery," kata Carman.


Kampung Perikanan Digital, Merintis Kejayaan Budidaya Lele Lewat GenggamanFoto: Sudirman Wamad


Carman memanen lele setiap harinya. Dari 200 kolam yang Carman kelola secara bergilir di panen.

Sebelum menggunakan eFishery, rata-rata panen lele Carman hanya satu sampai tiga ton per hari. Kini, Carman bisa memanen tiga sampai tujuh ton per hari dari 200 kolam yang ia kelola. Saat ini, menurut Carman, harga lele per kilogramnya mencapai Rp 18.500. Jika dihitung dengan harga jual lele Rp 18.500, penghasilan Carman bisa mencapai Rp 18.500.000 untuk satu ton lele.

"Dijualnya ke pengepul-pengepul yang dari Jakarta, Bandung, dan lainnya. Ya harapannya penjualan lele semakin meningkat," harap Carman.

Pada awal pekan ini kolam-kolam Carman disambangi Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang ikut menjajal eFishery. Melalui ponsel Carman, Ridwan Kamil menekan tombol pemberian pakan yang disusul dengan berbunyinya tiga mesin pakan otomatis di salah satu kolam Carman. Pakan lele keluar dari mesin yang masing-masing mampu menampung 60 kilogram pakan tersebut. Para tamu bertepuk tangan, senyuman pun terlihat mengembang di wajah Carman.

Keseriusan Telkomsel Mengembangkan Teknologi NB-IoT

Di tempat yang sama, Vice President Corporate Planning Telkomsel Andi Kristianto menjelaskan pihaknya mememanfaatkan Narrowband Internet of Things (NB-IoT) untuk mengembangkan eFishery. Teknologi NB-IoT, dikatakan Andi, merupakan teknologi komunikasi yang dirancang secara khusus antar mesin secara masif, dengan menggunakan daya yang hemat.

"Tentu meringankan petambak. Kebutuhan listirknya tak terlalu besar, paling di-charger selama dua mingguan kalau habis. Setelah itu bisa dipakai selama satu sampai dua tahun mesinnya," kata Andi kepada detikINET.

Menurut Andi, kampung perikanan digital merupakan hasil diskusi berbagai pihak. Awalnya, pengembangan kampung digital melalui eFishery hanya bisa dikendalikan melalui jaringan WiFi dan kondisi tersebut dinilai tak efisien.


Kampung Perikanan Digital, Merintis Kejayaan Budidaya Lele Lewat GenggamanFoto: Sudirman Wamad


"Karena pakai wifi, petambak harus mendekat ke mesin. Kita kembangkan, akhirnya bisa. Kalau sekarang kan mesin bisa dikendalikan di mana saja. Pengaturan waktunya juga bisa disesuaikan," ucap Andi.

Senada dengan Carman, Andi mengatakan penggunaan eFishery mampu mempercepat siklus panen dan meningkatkan produksi panen lele. Telkomsel pun akan terus mengembangkan teknologi NB-IoT.

"Teknologi ini bisa memang potensinya bisa untuk agriculture, seperti perikanan ini. Kita bisa kembangkan, bisa budidayanya, marketingnya, dan lainnya. Memang ini pilot project kita," katanya.

Program perikanan kampung digital yang tengah digagas Telkomsel, dengan menggandeng sejumlah stakeholder, rupanya dilirik oleh sejumlah daerah di Sumatera sebagai salah satu pulau yang juga memiliki potensi besar dalam bidang perikanan. Andi tak menampik program tersebut bisa dikembangkan di sana kelak.

"Saya diskusi dengan beberapa rekan. Ternyata di Sumatra tertarik begitu tahu di Indramayu ada kampung perikanan digital. Di Sumatera itu ada budidaya patin," ucapnya.

Andi yakin program perikanan kampung digital di Indramayu bakal berkembang pesat. Pihaknya pun sudah memiliki rencana untuk mengembangkan budidaya udang di Jawa Barat melalui kampung digital. "Saya yakin di sini akan berkembang cepat. Ke depan bisa kita kembangkan udang dan lainnya."

Konsep Kampung Digital Menyesuaikan Potensi Desa

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan peluncuran kampung perikanan digital di Desa Puntang ini merupakan gerbang awal dari realisasi program kampung digital dari Pemprov Jabar. Emil memastikan desa-desa di Jabar akan bertransformasi menjadi kampung digital.

"Desa digital akan dirilis se-Jabar. Pelayanan publiknya, kemudian cara komunikasinya, pembuatan akun media sosial oleh pihak desa, perdagangan digital yang disesuaikan dengan karakter ekonomi desanya, seperti di Puntang ini fokusnya ikan lele," katanya.



Emil mengatakan program kampung perikanan digital tersebut diprediksi bisa meningkatkan produksi ikan lele di Desa Puntang. Emil menargetkan produksi ikan lele di Indramayu mengalami peningkatan, dari Rp 1 triliun menjadi Rp 2 triliun per tahunnya.

"Saat ini per tahunnya Rp 1 triliun, kita prediksi bisa meningkat Rp 2 triliun. Kita akan lihat dan evaluasi, bisa mencapai target tidak. Warga desa tidak perlu hijrah ke kota. Negara akan turun untuk membantu peradaban digital di desa-desa," kata Emil.


Kampung Perikanan Digital, Merintis Kejayaan Budidaya Lele Lewat GenggamanFoto: Sudirman Wamad


Di tempat yang sama, Wakil Bupati Indramayu Supendi mengucapkan rasa syukur bisa menerima bantuan program kampung perikanan digital. Supendi mengaku konsep kampung perikanan digital di Desa Puntang itu juga bakal diterapkan pada dua kecamatan lain yang menjadi sentra budidaya lele, yakni Kecamatan Sindang dan Kandanghaur.

"Ini suatu kohormatan bagi Indramayu dengan adanya kampung digital. Semoga petambak ikan bisa memanfaatkan teknologi, agar petambak lele di Indramayu terus berkembang," katanya.


(krs/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed