Selasa, 06 Nov 2018 08:13 WIB

Perjuangan Warga Miskin Kenya Kembangkan Mobil Otonom

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Pengembangan teknologi mobil otonom di Kenya. Foto: BBC Pengembangan teknologi mobil otonom di Kenya. Foto: BBC
Jakarta - Di balik hingar bingar uji coba mobil otonom di berbagai negara, ternyata ada warga miskin asal Kenya yang berperan besar dalam mengembangkan programnya.

Kibera, sebuah daerah yang terletak di Nairobi, Kenya, dikenal sebagai salah satu kawasan kumuh terbesar di Afrika. Di sana, banyak orang hidup dengan modal kurang dari Rp 14 ribu per hari. HIV pun merajalela di Kibera.


Walau demikian, di balik kenyataan pahit tersebut, ada sejumlah masyarakatnya yang justru mampu menjadi otak di balik pengembangan mobil otonom untuk beberapa perusahaan teknologi global. Salah satunya adalah Brenda.

Tiap hari, perempuan berusia 26 tahun itu naik bus ke sebelah timur Nairobi untuk bekerja dengan lebih dari 1.000 kolega menggarap kecerdasan buatan. Selama delapan jam sehari, ia memasukkan data seperti gambar untuk melatih teknologi tersebut.

Orang, mobil, rambu lalu lintas, marka jalan, sampai kondisi langit, menjadi gambar-gambar yang ditanamnya ke dalam kecerdasan buatan itu. Tujuannya adalah, sistem mobil otonom nantinya dapat mengenali objek tersebut di dunia nyata.

Perjuangan Warga Miskin Kenya Kembangkan Mobil OtonomSelama delapan jam sehari, Brenda melatih data yang digunakan untuk kecerdasan buatan. Foto: BBC

Perempuan yang berstatus sebagai orang tua tunggal ini bekerja untuk Samasource. Google, Microsoft, dan BMW adalah sejumlah klien dari firma tersebut soal pelatihan data terhadap kecerdasan buatan.

Mereka mengincar orang-orang yang penghasilannya berada di kisaran Rp 30 ribu tiap harinya, atau bahkan kurang dari itu. Sekitar 75% pegawai mereka merupakan orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Setelah dipekerjakan, para pegawai incarannya itu akan mendapat sekitar Rp 135 ribu per hari.

Disebutkan bahwa Brenda setiap hari pergi ke kantor untuk bekerja. Itu berarti, dia bisa meraup Rp 4 jutaan tiap bulannya. Angka tersebut sedikit di atas UMP DKI Jakarta yang belum lamai ini diperbarui oleh Anies Baswedan.

"Satu hal yang penting adalah kami tidak membayar gaji yang akan mengganggu pasar tenaga kerja lokal. Jika kami membayar mereka lebih dari itu, maka kami akan mengacaukan segalanya. Akan ada dampak negatif pada harga hunian dan makanan di tempat tinggal mereka," ujar Leila Janah, founder sekaligus CEO Samasource.

Fenomena ini melahirkan sebuah kursus yang mengajarkan orang-orang untuk bisa bekerja di Samasource atau perusahaan digital lainnya. Walau begitu, biayanya tidak murah, bagi warga Kibera yang berada di bawah garis kemiskinan, yaitu sekitar Rp 75 ribu.


Meski gaji tersebut tidak terbilang besar, namun ternyata dianggap sudah cukup untuk membuat pekerjanya keluar dari kemiskinan. Salah satunya adalah Idris Abdi, yang sadar bahwa ada kehidupan lebih layak dari itu.

"Ini mengubah segalanya dalam hidup saya. Ini mengubah perspektif saya, ini membuat saya melihat harapan untuk hidup lebih baik dari ini," ujarnya, sebagaimana detikINET kutip dari BBC, Senin (5/11/2018). (mon/afr)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed